Jumat, 31 Juli 2015

Jodoh Adalah Cerminan Diri



Kisah ini diambil dari drama disebuah acara stasiun televisi.

            Mobilku melaju menyusuri kota Banjarbaru yang masih rindang. Teman-teman pengusaha yang kuhubungi tidak dapat banyak memberikan harapan untuk perusahaanku. Aku memerlukan investor yang mempunyai modal banyak untuk menambah modal dan sumber daya manusia diperusahaan yang berusaha kubangun dari nol. Aku kira dengan faktor Indonesia memiliki penduduk yang besar (merupakan aset tenaga kerja dan pasar bagi produk yang dihasilkan) dan kekayaan alam yang banyak, dapat memudahkanku menemukan banyak investor, ternyata tidak semudah itu…

            Dengan lamunanku, perusahaanku bisa cepat maju dan berstandar internasional, tiba-tiba aku melihat pemandangan yang menggugah hatiku untuk menghentikan aktivitas mengemudiku.
            “Tolooong jambreeeettt”, Perempuan berpakaian rapi itu menjerit dihalaman supermarket Banjarbaru. Kebetulan seorang pria yang kira-kira berpostur tubuh sama denganku menabrakku yang baru saja membuka pintu mobil. Pria itu kaget setengah mati dan meletakkan tas mewah ketanganku lalu kembali berlari. Kupandangi tas mewah itu dan wanita rapi diseberangku.
            “Ini tas Anda?”, Kataku seraya menyodorkan tas mewah kehadapan wanita itu.
            “Iya, terimakasih banyak ya mas sudah menyelamatkan tas saya. Isinya sangat berharga”, Dengan sigap wanita itu merampas tas yang kusodorkan dari tanganku.
            “Iya sama-sama. Lain kali hati-hati ya bu”, Kataku seraya membalik badan menuju mobilku.
            “Eh mas, kenalkan saya Tania”, Wanita itu menyodorkan tangannya.
            “Fiqri”, Aku membalas jabatan tangannya.
            “Sebagai tanda terimakasih, bagaimana kalau kita makan dulu disana”, Wanita itu menunjuk warteg didekat mobilku parkir. Tanpa pikir panjang aku mengangguk dan menuju warteg itu..
            Selama diwarteg itu, dia bercerita banyak. Dari ceritanya, dia seorang direktris utama perusahaan local yang ada di Banjarmasin. Sambil berbasa-basi dengannya, dan singkat cerita ternyata dia mau bekerjasama dan menjadi investor diperusahaanku.
            Tania adalah seorang partner kerja yang baik dan karenanya, perusahaanku yang dulu Cuma merangkak maju, sekarang mulai berjalan maju. Sebagai tanda terimakasih, aku mengajak Tania makan malam disalah satu restoran mahal.
            “Kamu sama siapa mas?”, Tania beranjak dari duduknya dan tersenyum padaku. Diatas meja sudah ada tiga hidangan menu special dari restoran itu.
            “Kenalin ini Aisyah.. Sayang, kenalin ini Tania yang biasa aku certain ke kamu”
            Mereka berkenalan dan suasana tetap renyah pada malam itu. Alhamdulillah Aisyah istriku tidak menampakkan raut kecemburuan pada Tania. Dia memang istri sholihah, tidak pernah bersuudzonn denganku

            “Mas, aku udah mesan 2 tiket buat liburan ke Bali”, Tiba-tiba Tania masuk ruang kerjaku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
            “Kamu mau liburan Nia? Kok 2 tiket? Sama siapa?”
            “Ya sama kamu lah mas.. sama siapa lagi?”
            “Kok sama aku?”
            “Lah… kamu kan pacar aku?”, Muka Tania terlihat kesal, dia beranjak dari kursi yang ada diseberangku dan mendekatiku.
            “Astaghfirullah stop Tania, inget hijab kamu”, Aku menatap Tania heran. Tania wanita berhijab ituu merayuku, walaupun hijabnya tidak selebar istriku, tetapi tetap saja dia berhijab dan harus menjaga akhlaqnya.
            “Loh kenapa mas? Bukankah kita ini pacaran? Aisyah itu selingkuhan kamu kan? aku nggak marah kok sama kamu biarpun kamu selingkuh. Aku tau kamu bakalan nikahin aku dan memperjuangkan perusahaan ini bersama. Iya kan mas?”
            “Astaghfirullah Tania, Aisyah itu istriku. Istri sahku. Istri halalku!”, Nada bicaraku meninggi. Aku tidak yakin dia belum mengetahui status hubunganku.
            “Istri mas?”, Wajah Tania Nampak terkejut. Ternyata dia memang benar-benar tidak mengetahuinya.
            “Iya, dia istriku. Sudah 3 tahun kami berumah tangga. Dan kita… Cuma partner kerja Tania, bukan berpacaran”, Aku menekankan kalimat bukan berpacaran.
            “Maafkan aku mas. Aku kira…”, Tania menunduk. Aku hanya menggelengkan kepala.
            “Aku mau menjadi istri kedua kamu mas. Aku rela. Dan aku akan memberikan jabatan direktris diperusahaan lokalku di Banjarmasin untuk istri mas Aisyah, bagaimana?”
            “Kamu sudah gila Tania”, Aku meninggalkan Tania diruangnku dan beranjak keluar  memutuskan untuk pulang kerumah saja.
            Ku dapati Aisyah sedang khuyu’ berdo’a dikamar. Ku pandangi punggung istriku yang tengah menghadap qiblat. Aku sungguh sangat mencintainya sejak awal pertemuan hingga saat ini. Aku tidak mungkin menduakannya.
            “Kak Fiqri udah pulang?”, Tiba-tiba Aisyah membalik badan dan beranjak dari sajadahnya menghampiriku, “Kok pulang cepet? Aisyah kan belum siapin air panasnya buat kakak mandi”, Dengan sigap dia mencium tanganku lalu melepas dasi yang melingkar dileherku,”Maafin Aisyah ya kak, Aisyah mau nyiapin air panas dulu buat kakak, tunggu 5 menit ya sayang”, Dia tersenyum manis. Pandangannya sangat teduh.
            “Nggak papa sayang… nanti aja juga nggak papa”, Sahutku seraya mengecup keningnya,”Tadi kamu berdo’a apa?”
“Berdo’a supaya kita slalu diberikan kesabaran sama Allah”, Aisyah tersenyum kembali, senyum khas yang dimilikinya tidak akan pernah hilang dari ingatanku meski dalam kesibukanku yang tersibuk sekalipun.
Hiruk pikuk suasana kota Banjarbaru dipagi hari terasa segar. Meski kota ini bukan ibukota dari Kalimantan Selatan, aku rasa kota ini lebih rindang dibandingkan dengan Banjarmasin yang polusinya ada dimana-mana. Kulihat Aisyah sedang sibuk mempersiapkan makanan dimeja makan untuk sarapan pagi kami.
“Kak Fiqri pakai dulu bajunya”, Aisyah menghampiriku membawakan kemeja biru muda. Rasanya aku seperti anak kecil yang tidak bisa mengenakan pakaian sendiri, tetapi ini keinginan Aisyah sendiri. Begitu cerdasnya dia membagi waktu paginya antara memasak dan melayaniku sebelum kekantor. Aku tidak tahu ada seberapa banyak lagi pekerjaan rumah kami setelah aku tinggal berangkat kekantor. Aku rasa, pekerjaan rumah yang diurusnya lebih rumit dan melelahkan dibandingkan pekerjaanku dikantor.
“Kakak berangkat dulu ya sayang, Assalamu’alaikum”, Aku mengecup kening Aisyah seperti biasa diiringi dengan senyuman manis Aisyah sebagai pengantar aku menuju kantor.
Sepulang dari kantor, aku mendapati Aisyah sedang berbicara serius dengan seorang wanita yang membelakangi pintu dari arah aku masuk sehingga aku tidak mengenali siapa tamu wanita itu. wanita itu sudah tidak familiar lagi dipandangan mataku.
“Kak Fiqri udah pulang?”, Aisyah beranjak dari duduknya dan mencium tanganku dan aku membalas mengecup keningnya. Pandanganku kembali kewanita itu,”Tania”, Ucapku terkejut. Aku memandang Aisyah dan dia hanya tersenyum kepadaku.
“Aku pulang dulu ya Aisyah… Mas Fiqri, aku pulang. Assalamu’alaikum”, Tania beranjak dari duduknya.
“Dia ngomong apa sama kamu sayang?”
“Kak Fiqri duduk dulu. nggak mau mandi sekarang?”
“Aku mau tau dia tadi ngomong apa sama kamu sayang?”
“Tania itu adalah seseorang dibalik layar perusahaan yang sedang kakak rintis kan? dan bisa dibilang karena dialah perusahaan kakak bisa lebih maju seperti sekarang ini. Iya kan?”, Aku mengangguk seraya menyipitkan mataku pertanda aku perlu penjelasan lebih detail lagi. “Tania bilang jatuh cinta sama kakak dan dia minta izin sama Aisyah supaya mengizinkan kakak beristri dua”, Suara Aisyah terdengar serak.
“Astaghfirullah… Lantas, apa katamu sayang?”
“Semuanya terserah kakak. Dalam 3 tahun usia pernikahan kita, sudah 3 kali Aisyah mengalami keguguran. Kata dokter Aisyah lemah kandungan, entah sampai kapan kakak harus menunggu seorang keturunan tumbuh dirahim Aisyah”, Aisyah menunduk, satu tetes air mata jatuh dikelopak matanya. Aku memeluknya erat. Begitu nekadnya Tania berani melakukan hal ini.
“Aamiin yaa Robbal “aalamiin”, Aku mengusap kedua telapak tangan kewajahku. Untuk pertama kalinya aku sholat malam tanpa Aisyah. Aku tak tega membangunkan istriku yang sudah seharian bekerja mengurus rumah.
“Kak Fiqri berdo’a apa?”, Aku tak menyangka Aisyah terbangun dan memperhatikan sholatku.
“Kakak berdo’a supaya kita bisa kesurga sama-sama, sayang”, Aku menggenggam tangannya.
“Kakak istikhoroh?”
“Buat apa istikhoroh? Seperti biasa sayang, kakak sholat tahajjud”
“Bagaimana dengan keputusan kakak masalah Tania?”
“Kamu mau kakak duakan? Kakak yakin, semua wanita didunia ini tidak akan pernah rela diduakan”
“Aisyah sadar kok sayang… banyak kekurangan yang ada pada Aisyah. Aisyah tidak secerdas Tania dalam berbisnis, Aisyah tidak selihai Tania dalam memoles make up, dan Aisyah… sampai saat ini belum bisa memberikan keturuan buat kakak”
“Kamu tau sayang? Istri yang kakak perlukan bukan yang pintar mencari uang karena kakak masih sanggup membiayai kebutuhan kita. Istri yang kakak idamkan bukan cantik karena polesan make up, tetapi yang cantiknya terpancar dari dalam hatinya dan wajahnya bercahaya karena polesan air wudhu. Keluarga yang kakak idamkan adalah hidup bersama wanita yang bisa menuntun kesurga, meskipun tanpa anak juga tidak apa-apa. Anak itu titipan dari Allah. Mungkin Allah masih belum bisa memberikan kepercayaan kepada kita untuk mendidik mujahid atau mujahidah kecil kita. Yang kakak cintai hanya kamu seorang istriku. Kamu yang paling cantik diseluruh alam semesta ini”, Aku meraih tubuh mungil istriku, memeluknya erat sekali. Berharap dia bisa temukan kedamaian dan ketenangan dalam pelukanku.
Mood pagi Mingguku kembali hancur ketika melihat Tania datang kembali kerumah kami. Istriku dengan senyuman khasnya, menyambut kedatangan Tania dengan hangat.
“Bagaimana?”, Tanya Tania pada Aisyah. Terdengar seperti pertanyaan sekaligus permintaan yang memelas.
“Tidak ada keputusan Tania”, Kataku dingin.
“Kak, katakan saja apa keputusan kakak setelah istikhoroh tadi malam”, Aisyah merayuku.
“Aisyah, Tania, perlu kalian tahu tadi malam aku tidak melaksanakan istikhoroh karena memang tidak ada yang harus aku putuskan. Aku hanya memiliki seorang istri yang bernama Aisyah dan tidak akan pernah ada nama wanita lain setelahnya, meskipun aku harus melepaskan semua harta dan jabatan yang aku miliki sekarang, asalkan aku tidak menyakiti hati istriku, akan aku lepaskan semuanya”, Aku memegang tangan Aisyah, sedangkan Aisyah hanya menunduk.
“Aisyah, kamu sangat beruntung memiliki suami seperti mas Fiqri. Do’akan saya mendapatkan suami seperti suamimu ya Aisyah”, Tania menangis sejadinya. Mascara yang menghiasi bulu matanya luntur bersama air mata yang jatuh dipipinya.
“Tania, jodoh adalah cerminan dari diri kita. Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Kamu wanita baik, insya Allah akan ada satu lelaki baik yang akan menjadikan kamu satu-satunya wanita yang dituntunnya kesurga”, Istriku menenangkan Tania. Sedangkan aku hanya diam membisu, aku bingung apa yang harus kulakukan.
“Saya nggak bisa ngaji. Pakai jilbab juga karena mau ngikutin trend Aisyah. Apa saya juga akan mendapatkan suami yang nggak bisa ngaji? Saya nggak sebaik kamu, apa saya bisa mendapatkan suami seperti mas Fiqri?”
“Hidup adalah proses. Proses menuju lebih baik. Hidup adalah belajar. Belajar menuju kebaikan. Insya Allah jika niat kamu berhijrah kekehidupan yang lebih baik hanya karena Allah, berkah dan rohmat Allah selalu menyertai kamu, Tania”
Tania masih sesenggukan, matanya sembab, namun sudah tidak mengeluarkan air mata lagi. Dia tersenyum kepada kami berdua,”Terimakasih Aisyah. Do’akan saya ya… Mas, kita masih bisa jadi partner kerja kan? sampai jumpa besok dikantor sebagai rekan kerja saya, assalamu’alaikum”
Aku menatap Aisyah. Pandangannya sungguh teduh. Senyumannya sungguh manis. Ya Allah, begitu indahnya Kau lukis wanita yang ada dihadapanku kini. Ya Allah, aku telah jatuh cinta berkali-kali bila berhadapan dengan wanita ini. Berfikir untuk menyakitinya saja tidak pernah terlintas dibenakku, apalagi untuk melakukannya, astaghfirullah. Bidadari surgaku, penyejuk mataku.
“Do’akan ya kak, kali ini tidak gagal lagi”, Suara Aisyah menghentikan aktivitas mataku yang menikmati wajah cantiknya.
“Maksudnya?”, Aku mengernyitkan dahi pertanda tidak mengerti.
“Do’akan mujahid atau mujahidah yang sekarang ada dirahim Aisyah, bisa menikmati dunia dan kita bisa menjadi guru terbaik yang pernah dia kenal”, Aisyah menyodorkan sebuah testpack yang menandakan bahwa dia sedang hamil.
Subhanallah.. Allaahu Akbar… Aku memeluk Aisyah erat sekali,”Masih ada waktu Sembilan bulan buat kita pacaran berdua sambil menunggu sikecil kita lahir kedunia sayang”
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.”
Aamiin…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar