Kisah
ini diambil dari drama disebuah acara stasiun televisi.
Mobilku melaju menyusuri kota
Banjarbaru yang masih rindang. Teman-teman pengusaha yang kuhubungi tidak dapat
banyak memberikan harapan untuk perusahaanku. Aku memerlukan investor yang
mempunyai modal banyak untuk menambah modal dan sumber daya manusia
diperusahaan yang berusaha kubangun dari nol. Aku kira dengan faktor Indonesia
memiliki penduduk yang besar (merupakan aset tenaga kerja dan pasar bagi produk
yang dihasilkan) dan kekayaan alam yang banyak, dapat memudahkanku menemukan
banyak investor, ternyata tidak semudah itu…
Dengan lamunanku, perusahaanku bisa
cepat maju dan berstandar internasional, tiba-tiba aku melihat pemandangan yang
menggugah hatiku untuk menghentikan aktivitas mengemudiku.
“Tolooong jambreeeettt”, Perempuan
berpakaian rapi itu menjerit dihalaman supermarket Banjarbaru. Kebetulan
seorang pria yang kira-kira berpostur tubuh sama denganku menabrakku yang baru
saja membuka pintu mobil. Pria itu kaget setengah mati dan meletakkan tas mewah
ketanganku lalu kembali berlari. Kupandangi tas mewah itu dan wanita rapi
diseberangku.
“Ini tas Anda?”, Kataku seraya
menyodorkan tas mewah kehadapan wanita itu.
“Iya, terimakasih banyak ya mas sudah
menyelamatkan tas saya. Isinya sangat berharga”, Dengan sigap wanita itu
merampas tas yang kusodorkan dari tanganku.
“Iya sama-sama. Lain kali hati-hati
ya bu”, Kataku seraya membalik badan menuju mobilku.
“Eh mas, kenalkan saya Tania”,
Wanita itu menyodorkan tangannya.
“Fiqri”, Aku membalas jabatan
tangannya.
“Sebagai tanda terimakasih,
bagaimana kalau kita makan dulu disana”, Wanita itu menunjuk warteg didekat
mobilku parkir. Tanpa pikir panjang aku mengangguk dan menuju warteg itu..
Selama diwarteg itu, dia bercerita
banyak. Dari ceritanya, dia seorang direktris utama perusahaan local yang ada
di Banjarmasin. Sambil berbasa-basi dengannya, dan singkat cerita ternyata dia
mau bekerjasama dan menjadi investor diperusahaanku.
Tania adalah seorang partner kerja
yang baik dan karenanya, perusahaanku yang dulu Cuma merangkak maju, sekarang
mulai berjalan maju. Sebagai tanda terimakasih, aku mengajak Tania makan malam
disalah satu restoran mahal.
“Kamu sama siapa mas?”, Tania
beranjak dari duduknya dan tersenyum padaku. Diatas meja sudah ada tiga
hidangan menu special dari restoran itu.
“Kenalin ini Aisyah.. Sayang,
kenalin ini Tania yang biasa aku certain ke kamu”
Mereka berkenalan dan suasana tetap
renyah pada malam itu. Alhamdulillah Aisyah istriku tidak menampakkan raut
kecemburuan pada Tania. Dia memang istri sholihah, tidak pernah bersuudzonn
denganku
“Mas, aku udah mesan 2 tiket buat
liburan ke Bali”, Tiba-tiba Tania masuk ruang kerjaku tanpa mengetuk pintu
terlebih dahulu.
“Kamu mau liburan Nia? Kok 2 tiket?
Sama siapa?”
“Ya sama kamu lah mas.. sama siapa
lagi?”
“Kok sama aku?”
“Lah… kamu kan pacar aku?”, Muka
Tania terlihat kesal, dia beranjak dari kursi yang ada diseberangku dan
mendekatiku.
“Astaghfirullah stop Tania, inget
hijab kamu”, Aku menatap Tania heran. Tania wanita berhijab ituu merayuku,
walaupun hijabnya tidak selebar istriku, tetapi tetap saja dia berhijab dan
harus menjaga akhlaqnya.
“Loh kenapa mas? Bukankah kita ini
pacaran? Aisyah itu selingkuhan kamu kan? aku nggak marah kok sama kamu biarpun
kamu selingkuh. Aku tau kamu bakalan nikahin aku dan memperjuangkan perusahaan
ini bersama. Iya kan mas?”
“Astaghfirullah Tania, Aisyah itu
istriku. Istri sahku. Istri halalku!”, Nada bicaraku meninggi. Aku tidak yakin
dia belum mengetahui status hubunganku.
“Istri mas?”, Wajah Tania Nampak
terkejut. Ternyata dia memang benar-benar tidak mengetahuinya.
“Iya, dia istriku. Sudah 3 tahun
kami berumah tangga. Dan kita… Cuma partner kerja Tania, bukan berpacaran”, Aku
menekankan kalimat bukan berpacaran.
“Maafkan aku mas. Aku kira…”, Tania
menunduk. Aku hanya menggelengkan kepala.
“Aku mau menjadi istri kedua kamu
mas. Aku rela. Dan aku akan memberikan jabatan direktris diperusahaan lokalku
di Banjarmasin untuk istri mas Aisyah, bagaimana?”
“Kamu sudah gila Tania”, Aku
meninggalkan Tania diruangnku dan beranjak keluar memutuskan untuk pulang kerumah saja.
Ku dapati Aisyah sedang khuyu’
berdo’a dikamar. Ku pandangi punggung istriku yang tengah menghadap qiblat. Aku
sungguh sangat mencintainya sejak awal pertemuan hingga saat ini. Aku tidak
mungkin menduakannya.
“Kak Fiqri udah pulang?”, Tiba-tiba
Aisyah membalik badan dan beranjak dari sajadahnya menghampiriku, “Kok pulang
cepet? Aisyah kan belum siapin air panasnya buat kakak mandi”, Dengan sigap dia
mencium tanganku lalu melepas dasi yang melingkar dileherku,”Maafin Aisyah ya
kak, Aisyah mau nyiapin air panas dulu buat kakak, tunggu 5 menit ya sayang”,
Dia tersenyum manis. Pandangannya sangat teduh.
“Nggak papa sayang… nanti aja juga
nggak papa”, Sahutku seraya mengecup keningnya,”Tadi kamu berdo’a apa?”
“Berdo’a supaya kita slalu
diberikan kesabaran sama Allah”, Aisyah tersenyum kembali, senyum khas yang
dimilikinya tidak akan pernah hilang dari ingatanku meski dalam kesibukanku
yang tersibuk sekalipun.
Hiruk
pikuk suasana kota Banjarbaru dipagi hari terasa segar. Meski kota ini bukan
ibukota dari Kalimantan Selatan, aku rasa kota ini lebih rindang dibandingkan
dengan Banjarmasin yang polusinya ada dimana-mana. Kulihat Aisyah sedang sibuk
mempersiapkan makanan dimeja makan untuk sarapan pagi kami.
“Kak
Fiqri pakai dulu bajunya”, Aisyah menghampiriku membawakan kemeja biru muda.
Rasanya aku seperti anak kecil yang tidak bisa mengenakan pakaian sendiri,
tetapi ini keinginan Aisyah sendiri. Begitu cerdasnya dia membagi waktu paginya
antara memasak dan melayaniku sebelum kekantor. Aku tidak tahu ada seberapa
banyak lagi pekerjaan rumah kami setelah aku tinggal berangkat kekantor. Aku
rasa, pekerjaan rumah yang diurusnya lebih rumit dan melelahkan dibandingkan
pekerjaanku dikantor.
“Kakak berangkat dulu ya sayang,
Assalamu’alaikum”, Aku mengecup kening Aisyah seperti biasa diiringi dengan
senyuman manis Aisyah sebagai pengantar aku menuju kantor.
Sepulang
dari kantor, aku mendapati Aisyah sedang berbicara serius dengan seorang wanita
yang membelakangi pintu dari arah aku masuk sehingga aku tidak mengenali siapa
tamu wanita itu. wanita itu sudah tidak familiar lagi dipandangan mataku.
“Kak
Fiqri udah pulang?”, Aisyah beranjak dari duduknya dan mencium tanganku dan aku
membalas mengecup keningnya. Pandanganku kembali kewanita itu,”Tania”, Ucapku
terkejut. Aku memandang Aisyah dan dia hanya tersenyum kepadaku.
“Aku
pulang dulu ya Aisyah… Mas Fiqri, aku pulang. Assalamu’alaikum”, Tania beranjak
dari duduknya.
“Dia
ngomong apa sama kamu sayang?”
“Kak
Fiqri duduk dulu. nggak mau mandi sekarang?”
“Aku
mau tau dia tadi ngomong apa sama kamu sayang?”
“Tania
itu adalah seseorang dibalik layar perusahaan yang sedang kakak rintis kan? dan
bisa dibilang karena dialah perusahaan kakak bisa lebih maju seperti sekarang
ini. Iya kan?”, Aku mengangguk seraya menyipitkan mataku pertanda aku perlu
penjelasan lebih detail lagi. “Tania bilang jatuh cinta sama kakak dan dia
minta izin sama Aisyah supaya mengizinkan kakak beristri dua”, Suara Aisyah
terdengar serak.
“Astaghfirullah…
Lantas, apa katamu sayang?”
“Semuanya terserah kakak. Dalam 3
tahun usia pernikahan kita, sudah 3 kali Aisyah mengalami keguguran. Kata
dokter Aisyah lemah kandungan, entah sampai kapan kakak harus menunggu seorang
keturunan tumbuh dirahim Aisyah”, Aisyah menunduk, satu tetes air mata jatuh
dikelopak matanya. Aku memeluknya erat. Begitu nekadnya Tania berani melakukan
hal ini.
“Aamiin
yaa Robbal “aalamiin”, Aku mengusap kedua telapak tangan kewajahku. Untuk
pertama kalinya aku sholat malam tanpa Aisyah. Aku tak tega membangunkan
istriku yang sudah seharian bekerja mengurus rumah.
“Kak
Fiqri berdo’a apa?”, Aku tak menyangka Aisyah terbangun dan memperhatikan
sholatku.
“Kakak
berdo’a supaya kita bisa kesurga sama-sama, sayang”, Aku menggenggam tangannya.
“Kakak
istikhoroh?”
“Buat
apa istikhoroh? Seperti biasa sayang, kakak sholat tahajjud”
“Bagaimana
dengan keputusan kakak masalah Tania?”
“Kamu
mau kakak duakan? Kakak yakin, semua wanita didunia ini tidak akan pernah rela
diduakan”
“Aisyah
sadar kok sayang… banyak kekurangan yang ada pada Aisyah. Aisyah tidak secerdas
Tania dalam berbisnis, Aisyah tidak selihai Tania dalam memoles make up, dan
Aisyah… sampai saat ini belum bisa memberikan keturuan buat kakak”
“Kamu tau sayang? Istri yang
kakak perlukan bukan yang pintar mencari uang karena kakak masih sanggup
membiayai kebutuhan kita. Istri yang kakak idamkan bukan cantik karena polesan
make up, tetapi yang cantiknya terpancar dari dalam hatinya dan wajahnya
bercahaya karena polesan air wudhu. Keluarga yang kakak idamkan adalah hidup
bersama wanita yang bisa menuntun kesurga, meskipun tanpa anak juga tidak
apa-apa. Anak itu titipan dari Allah. Mungkin Allah masih belum bisa memberikan
kepercayaan kepada kita untuk mendidik mujahid atau mujahidah kecil kita. Yang
kakak cintai hanya kamu seorang istriku. Kamu yang paling cantik diseluruh alam
semesta ini”, Aku meraih tubuh mungil istriku, memeluknya erat sekali. Berharap
dia bisa temukan kedamaian dan ketenangan dalam pelukanku.
Mood
pagi Mingguku kembali hancur ketika melihat Tania datang kembali kerumah kami.
Istriku dengan senyuman khasnya, menyambut kedatangan Tania dengan hangat.
“Bagaimana?”,
Tanya Tania pada Aisyah. Terdengar seperti pertanyaan sekaligus permintaan yang
memelas.
“Tidak
ada keputusan Tania”, Kataku dingin.
“Kak,
katakan saja apa keputusan kakak setelah istikhoroh tadi malam”, Aisyah
merayuku.
“Aisyah,
Tania, perlu kalian tahu tadi malam aku tidak melaksanakan istikhoroh karena
memang tidak ada yang harus aku putuskan. Aku hanya memiliki seorang istri yang
bernama Aisyah dan tidak akan pernah ada nama wanita lain setelahnya, meskipun
aku harus melepaskan semua harta dan jabatan yang aku miliki sekarang, asalkan
aku tidak menyakiti hati istriku, akan aku lepaskan semuanya”, Aku memegang
tangan Aisyah, sedangkan Aisyah hanya menunduk.
“Aisyah,
kamu sangat beruntung memiliki suami seperti mas Fiqri. Do’akan saya
mendapatkan suami seperti suamimu ya Aisyah”, Tania menangis sejadinya. Mascara
yang menghiasi bulu matanya luntur bersama air mata yang jatuh dipipinya.
“Tania,
jodoh adalah cerminan dari diri kita. Apa yang kita tanam, itulah yang kita
tuai. Kamu wanita baik, insya Allah akan ada satu lelaki baik yang akan menjadikan
kamu satu-satunya wanita yang dituntunnya kesurga”, Istriku menenangkan Tania.
Sedangkan aku hanya diam membisu, aku bingung apa yang harus kulakukan.
“Saya
nggak bisa ngaji. Pakai jilbab juga karena mau ngikutin trend Aisyah. Apa saya
juga akan mendapatkan suami yang nggak bisa ngaji? Saya nggak sebaik kamu, apa
saya bisa mendapatkan suami seperti mas Fiqri?”
“Hidup
adalah proses. Proses menuju lebih baik. Hidup adalah belajar. Belajar menuju
kebaikan. Insya Allah jika niat kamu berhijrah kekehidupan yang lebih baik
hanya karena Allah, berkah dan rohmat Allah selalu menyertai kamu, Tania”
Tania
masih sesenggukan, matanya sembab, namun sudah tidak mengeluarkan air mata
lagi. Dia tersenyum kepada kami berdua,”Terimakasih Aisyah. Do’akan saya ya…
Mas, kita masih bisa jadi partner kerja kan? sampai jumpa besok dikantor
sebagai rekan kerja saya, assalamu’alaikum”
Aku
menatap Aisyah. Pandangannya sungguh teduh. Senyumannya sungguh manis. Ya
Allah, begitu indahnya Kau lukis wanita yang ada dihadapanku kini. Ya Allah,
aku telah jatuh cinta berkali-kali bila berhadapan dengan wanita ini. Berfikir
untuk menyakitinya saja tidak pernah terlintas dibenakku, apalagi untuk
melakukannya, astaghfirullah. Bidadari surgaku, penyejuk mataku.
“Do’akan
ya kak, kali ini tidak gagal lagi”, Suara Aisyah menghentikan aktivitas mataku
yang menikmati wajah cantiknya.
“Maksudnya?”,
Aku mengernyitkan dahi pertanda tidak mengerti.
“Do’akan
mujahid atau mujahidah yang sekarang ada dirahim Aisyah, bisa menikmati dunia
dan kita bisa menjadi guru terbaik yang pernah dia kenal”, Aisyah menyodorkan
sebuah testpack yang menandakan bahwa dia sedang hamil.
Subhanallah..
Allaahu Akbar… Aku memeluk Aisyah erat sekali,”Masih ada waktu Sembilan bulan
buat kita pacaran berdua sambil menunggu sikecil kita lahir kedunia sayang”
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
"Ya
Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan
kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang
yang bertaqwa.”
Aamiin…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar