Cinta memang tak
selamanya bisa indah
Cinta juga bisa berubah menjadi sakit
Cinta juga bisa berubah menjadi sakit
Begitu
yang kurasakan kini
Perih
hatiku
Tinggl
kehancuran
Mengapa sebagian
orang tua membatasi setiap anak mereka dalam memilih pasangan hidup? Padahal
yang menjalani rumah tangga nantinya, bukan mereka, melainkan kami. Banyak
salah seorang dari pasangan kekasih harus berkorban. Rela berpisah dengan
pasangannya hanya karena paksaan sang orang tua.
Mengapa cinta
kami mesti dipisahkan karena orang tua? Mengapa cinta kami mesti dipisahkan
karena hal yang sama sekali tidak logis? Apa salahku? Sudah bertahun-tahun
mereka membiarkan kami merajut cinta, namun kini kami dipisahkan. Apa salahku,
sehingga kalian calon mertuaku, tega memisahkan kami?
***
“Gue galau nih. Yessy pacaran sama Ferdi. Padahal kan Yessy pdkt nya sama gue udah lama”, Sungutku pada Farid.
“Elo
sih bray, pdktnya lama banget, gak nembak-nembak. Cewek itu butuh kejelasan
bray, bukan digantungin tanpa status gitu”
“Iya
sih. Salah gue juga sih. Tapi kok Ferdi tega-teganya nyerempet temen kayak
gitu?”
“Hahah,
udahlah, awas lo ya gara-gara masalah cewek lo jadi berantem”
“Ah
enggak lah, gue mesti bermain sportif. Ciyeelllaaah”
“Nah
gitu dong. Mantaaap”
“Eh
Rid, gimana tuh elo sama siapa tuh namanya? Nayla ya?”
“Ya
Nayla. Yaa gitu deh Tom, gue belum berani nembak. Ngehehe”
“Ah,
elu, tadi nasehatin gue. Salah gue lah kelamaan nembak, cewek butuh kejelasan
lah, apalah. Eh nyatanya elu juga belum nembak. Payah lu”, Aku menoyor kepala
Farid.
“Heheh,
ntar deh, belum pas aja lagi waktunya bray”
“Oke
lah, terserah kata lu aja deh haha”
Farid
adalah salah satu teman sekelasku. Kami sama-sama mengincar cewek yang berbeda,
namun aku lebih sial dibandingkan Farid. Karena cewek pdkt-an ku, keduluan sama
Ferdi yang teman sekelasku. Aku memain-mainkan guling yang ada dipelukanku saat
ini. Rasa kesal pada Ferdi memang ada, tapi aku mesti berhati besar untuk
merelakan Yessy untuk temanku.
Untuk
menghilangkan kegalauan yang melandaku, aku memutuskan untuk membuka laptopku
untuk online via facebook. Paling tidak, bisa ngajak cewek-cewek manis chatting
denganku, fikirku. Benar saja, sekitar 5 menit aku online, ada cewek yang
mengajakku chatting duluan. Namanya Nayla Azzahra. Foto profilnya cukup manis.
“Ciyee
yang lagi galau”, Itulah chat pertama Nayla masuk keinbox fbku.
“Kok
tau?”
“Statusnya
atuh haha. Elo sih, kelamaan nembak”
“Maaf,
kok tau masalahnya kalo gue kelamaan nembak? Lo temen gue ya? Hehe”
“Aku
temennya Yessy, satu sekolah kok sama kalian”
“Oooh,
elo pdkt-an nya si Farid ya? Haha”
“Ah
elo nih ya. Eh minta nomor hp lo dong Tom”
Nah, sejak saat
itulah aku dan Nayla mulai dekat. Maksudnya, dekat sekedar untuk teman curhatku
tantang masalah kegalauanku gara-gara temannya si Yessy. Nayla dengan senang
hati menerima dan membalas smsku dengan memberikan solusi dan masukan yang
membuat hatiku tenang. Sampai pada akhirnya, karena Nayla lah yang membuatku
dapat melupakan Yessy. Akan tetapi, pada saat aku dapat melupakan Yessy,
tiba-tiba terdengar kabar bahwa Yessy putus dengan Ferdi. Segera saja
kutanyakan kebenaran kabar itu pada Nayla.
“Nay, bener ya
Yessy putus?”, Aku mengirimkan pesan singkat itu pada Nayla.
“Iya bener Tom”
“Wah, ada
kesempatan dong”
“Ya udah, tembak
aja Tom, sebelum keduluan sama orang lagi”
“Iya lo bener
Nay. Ajarin gue dong cara nembaknya”
“Maaf gue gak
bisa. Sorry”
Tiba-tiba sms
Nayla berubah denganku. Seperti ada yang salah dalam perkataanku. Aku tak sadar
dan tidak tau sama sekali dimana kesalahnku. Biasanya dia selalu cari saran
yang baik untuk kebaikanku.
“Kok smsnya gitu
sih Nay?”
“Aku nggak mau
kehilangan kamu, Tom”
Dan tiba-tiba
sms Nayla tambah aneh. Aku jadi tidak enak dengan Farid. 2 minggu yang lalu,
Farid jadian dengan Nayla. Meskipun Farid tahu aku juga dekat dengan Nayla,
tapi Farid mempercayaiku bahwa aku dan Nayla hanya akan menjadi sahabat.
“Maaf Nay,
maksud lo apa sih?”
“Jujur Tom, aku
lebih nyaman sama kamu daripada sama Farid”.
Sejak aku
menerima sms itu, aku tidak lagi membalas sms Nayla. Aku mesti menjaga jarak
dengan Nayla. Aku tidak ingin menyakiti temanku sendiri, juga tak ingin membuat
Nayla tambah menyukaiku.
“Tomi, plis
hubungi aku kayak dulu lagi”
Tiba-tiba sms
Nayla datang lagi setelah satu minggu lamanya kami sama-sama lost contact.
Didalam sms Nayla, kini tidak ada lagi kata gue-elo. Aku bingung apa yang harus
kuperbuat. Aku ingin tidak membalas sms Nayla, namun ternyata aku telah bahagia
mendapatkan sms darinya lagi. Dan terlebih lagi, ternyata aku merindukannya
hadir dalam hariku lagi.
“Tomi, aku udah
putus kok sama Farid. Jadi kamu nggak usah khawatir gitu. Aku suka sama kamu
Tom”
Aku benar-benar
tidak menyangka Nayla akan senekad itu. jarang seorang cewek berani
mengungkapkan perasaannya duluan terhadap seorang cowok. Dan sejak saat itu,
aku dan Nayla pacaran. Awalnya, aku hanya tak ingin membuat dia kecewa karena
aku menolaknya.
Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai memiliki perasaan
sayang lebih dari sekedar sayang seorang sahabat. Entah mengapa, ruang didalam
fikiranku, hanya namanyalah yang memenuhinya. Aku selalu merindukannya, bahkan,
bahkan aku ingin memilikinya lebih daripada ini. Dan sejak aku menyadari aku
mulai mencintainya, aku mengurangi porsi jajanku demi mengumpulkan uang untuk
membeli cincin tunangan. Agar bila kami lulus sekolah nanti, aku akan segera
bertunangan dengannya dan tidak ada yang boleh mendekatinya lagi.
To be Contenued : Kisah yang Tak Sempurna ( Part II )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar