Baca dulu nih cerita sebelumnya : Kisah yang Tak Sempurna ( Part I )
“Beh, kemaren
ulang tahun Farid lo, mantan kamu. Kamu ngasih kado nggak? Hehe”, Aku mencoba
membahas Farid. Lelaki yang pernah singgah dihatinya sebelum aku.
“Nggak beh, aku
nggak ngasih kado”
“Lho, kenapa
beh?”
“Aku nggak mau
ngecewain kamu bibeh sayang”
“Makasih ya”,
Aku tertegun atas ungkapannya yang barusan kudengar. Aku bangga memilikinya.
Aku tersanjung atas cintanya, dan kesetiaanya dapat aku andalkan. Aku menjadi
semakin yakin, bahwa dialah yang pantas untukku.
“Sama-sama. Beh, aku pulang dulu
ya, ada janji sama bunda pengen kepasar”
“Iya deh beh,
ayo”, Aku beranjak dari dudukku dan menghampiri sepeda motorku dan mengantarnya
pulang kerumah.
Sepulang dari
rumah, aku tidak langsung pulang melainkan mampir dulu kerumah Farid. Aku ingin
mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
“Hey bro,
selamat ulang tahun dulu nih bro”
“Ets, makasih ya
bro. masuk dulu Tom”
“Makasih,
pengertian banget sih lo panas-panas gini disuruh masuk terus disediain minuman
gini”
“Kewajiban kan
Tom, kita menjamu tamu. Hahah. Eh, dateng dari mana lo?”
”Abis nganterin
Nayla Rid”
“Oh. Eh
ngomong-ngomong Nayla, makasih ya lo udah ngizinin pacar lo ngasih kado ke gue.
Nih kadonya”, Tanpa mimik bersalah, Farid menunjukkan jam tangan yang melingkar
manis ditangannya. Dan aku tersentak ketika melihat jam tangan itu. Jam tangan
itu, sama persis dengan jam yang Nayla berikan padaku saat ulang tahunku dua
minggu yang lalu. Dan saat ini, jam tangan itu tengah terpajang ditangan
kiriku. Aku berusaha melepas jam tanganku tanpa sepengetahuan Farid.
“Ah santai aja
Rid, gapapa kok”, Aku berusaha tidak menampakkan tampang mencurigakan pada
Farid. Ah, padahal hatiku sangat kecewa saat itu.
***
Aku membuka list
contact dihandphoneku. Aku mencari nama Nayla Azzahra disana. Dan… dapat!
Langsung saja kutekan tombol call.
“Halo beh, kok
baru nelpon sih?”
“Nay, ada yang
disembunyiin gak dari aku?”
“Maksud kamu apa
sih beh, kita kan selalu sama-sama terbuka”
“Masalah kado?”,
Nay sempat terdiam beberapa detik setelah mendengar kata ‘kado’ dariku.
“Maaf”
“Cuma maaf?”
“Ya terus apa
lagi?”
“Kenapa nggak
coba menjelaskan? Kenapa kamu bohong sama aku? Coba aja kalo kamu jujur aku
nggak bakalan sesakit dan sekecewa ini Nay!”
“Maaf”
Aku mendesah.
Aku muak dengan reaksinya. Hanya kata maaf tanpa buntut-buntut kalimat
penjelasan? Ah, shit! Aku mematikan telpon saat itu juga.
Seminggu
lamanya, aku tidak pernah menanggapi sms-sms Nayla. Aku terlanjur sangat kecewa
dengan kebohongannya. Namun, segenap rindu yang datang selalu menghantuiku
untuk menerima Nayla kembali masuk dalam kehidupanku. Entah malaikat apa yang
merasukiku, aku dapat menghapus semua rasa kecewaku pada Nayla.
Entah sejak
kapan, aku kembali berhubungan dengan Nayla seolah dihari kemarin tak pernah
terjadi apa-apa diantara kami. Bahkan, akibat rindu yang tertumpuk, aku malah
tambah sayang dengan gadis ini.
***
“Tomi, kamu
cepetan kerumah deh. Sekarang juga temuin ayah. Orang tua aku ingin ngejodohin
aku sama anak temennya ayah. Aku nggak mau Tom, pokonya, tolong lakuin sesuatu
Tom”, Tiba-tiba perkataan Nayla diseberang sana membuatku sesak. Aku berusaha
bersikap tenang dan menenangkan Nayla. Setelah menenangkan Nayla, aku segera
bersiap-siap kerumah Nayla.
“Bapak, ibu,
saya sudah mendengar masalah perjodohan Nayla. Sebenarnya apa salah Tomi pak,
bu, sehingga bapak sama ibu mengambil keputusan sepihak kaya gini? Saya
berjanji pak, bu, saya akan menikahi Nayla kok kalau saya sudah memungkinkan
untuk menikah nanti. Kami berdua sama-sama mencintai”, Aku berusaha berbicara
sopan dengan emosi yang tertahan pada ayah dan bundanya Nayla.
“Tuh kan bun,
setiap anak-anak tuh kalo zaman sekarang mesti ditanya dulu dia sudah punya
atau belum”, Ujar ayah Nayla pada sang istri. “Ya sudah Tomi, kami akan membatalkan
semuanya”, Ayah Nayla memandangku dengan senyum yang mengembang dibibirnya. Aku
mendesah, aku bersyukur akhirnya tanpa kesulitan apapun aku bisa menghadapi dan
menyelesaikan masalah ini.
To be Continued : Kisah yang Tak Sempurna ( Part III )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar