Sabtu, 22 Juni 2013

Kisah yang Tak Sempurna ( Part III )

Baca dulu nih cerita sebelumnya : Kisah yang Tak Sempurna ( Part II )


Dua minggu setelah kejadian itu, hubunganku dengan Nayla berjalan normal seperti biasanya. Tak terasa hubungan kami sudah menginjak bulan ke-28 atau hari ke-840. Aku semakin sayang pada Nayla. Uangku pun sudah cukup untuk membelikan sepasang cincin tunangan untuk mengikat hubungan kami. Sepasang cincin didalam kotak merah kecil ini sebentar lagi akan kuberikan kepada kekasihku Nayla. Aku sudah tidak sabar menyematkan cincin ini dijari manis kirinya.
“Sayang, malam ini aku pengen kerumah kamu. Pengen ngasih kejutan sama ayah bunda juga kamu”, Ucapku pada orang diseberang sana dengan semangat.
“Tom, sebaiknya hubungan kita, kita akhiri sampai disini saja ya, kamu nggak usah ketemu ayah sama bunda deh, kejutan apapun yang ingin kamu perlihatkan, aku juga nggak niat pengen tahu”, Tiba-tiba Nayla mematikan telponnya.
Aku terdiam. Kotak merah yang tadinya ditanganku tiba-tiba terjatuh. Aku berharap ini hanyalah sebuah mimpi. Atau mungkin ini hanya kejutan dari Nayla untuk memperingati hari ke-840 kami. Aku kembali mencoba menghubungi Nayla.
“Nay, tolong jelasin semuanya, kenapa kamu minta kayak gitu sama aku?”
“Perjodohan itu dilanjutkan. Puas? Sekarang jangan hubungi aku lagi Tom”, Suara Nayla terdengar terisak. Aku tahu dia menangis.
“Kita harus memperjuangkan cinta kita, Nay. Kamu tenang aja, malam ini aku pengen dating kerumah kamu dan pengen tunangan sama kamu”
“Nggak perlu, aku sudah menerima laki-laki itu. dan aku akan tetap memilih laki-laki itu untuk menjadi pendamping hidup aku, Tom”, Nayla masih terisak.
“Lantas apa artinya pengorbanan aku selama ini jika pada akhirnya kamu meilih yang lain?”, Suaraku mulai melemah, aku tahu sudah tak ada harapan lagi.
“Maafkan aku, maafkan semua kesalahanku selama kia bersama”, Isak tangis Nayla semakin terdengar jelas. Namun aku tak berhak lagi menghapuskan air matanya. Aku juga tak bisa menjawab apa-apa. Mental kelelakianku melemah. Air mata mulai mengalir deras dipipiku.
“Maaf beh”, Itu panggilan sayang yang sering kami ucapkan. Namun mungkin itu terakhir kalinya dia ucapkan. Nayla mematikan telpon.
Semalaman aku tak bisa tidur memikirkan apa yang barusan terjadi. Aku berharap ada sms dari Nayla bahwa dia lebih menyayangiku, bahwa dia lebih membutuhkanku. Tapi tidak. Tidak ada sama sekali kata-kata dari Nayla untuk menenangkan hatiku. Mungkin kisahku dan Nayla akan berakhir sia-sia sampai disini saja. Dan harapanku untuk menyempurnakan kisah kami, tak akan mungkin pernah terwujud.
***
“Ayah, bunda, terimakasih telah mengizinkan saya untuk bisa merasakan bagaimana dicintai Nayla. Saya sudah mendengar semuanya. Dan saya berharap ini akan menjadi keputusan terbaik buat semuanya. Saya akan pergi menjauhi Nayla, meskipun sakit. Saya kesini hanya ingin pamitan sama ayah dan bunda, saya ingin pergi ke Kalimantan Barat menemui kedua orang tua saya. Biar saya memulai hidup baru saya disana. terimakasih atas semuanya, ini cicin yang saya niatkan untuk kemudian saya berikan pada Nayla. Itu hak Nayla”, Aku menyalami tangan ayah dan bunda Nayla dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
“Nak”, Ayah Nayla memanggilku. Akupu menoleh, “Kamu anak baik, kamu akan mendapatkan pendamping yang baik”, Aku hanya tersenyum mendengar itu dan berlalu meninggalkan mereka.
***
Aku tahu aku masih belum bisa berhati besar untuk merelakan semuanya. Dua tahun lebih bukanlah waktu yang singkat dalam merajut cinta. Dengan segala pengorbanan kuperjuangkan agar dapat menyempurnakan cintaku telah kulakukan, namun takdir berkata lain. Garis jodohku bukan pada Nayla. Biarlah kisah yang tak sempurna ini akan kusimpan dan kukenang selamanya didalam hatiku.
Kurasakan hp yang ada dalam saku celanaku bergetar. Panggilan dari Nayla Azzahra.
“Tomi, aku pengen kamu dateng keacara nikahan aku sama mas Gilang sehabis lebaran nanti”
“Iya aku usahain Nay”, Aku berusaha tenang meskipun saat itu aku sangat sakit.
“Oh iya, ayah dan bunda pengen ngangkat kamu jadi anak mereka lho. Kamu mau ya Tom. Biar kita bisa saudaraan?”, Nada bicara Nayla terdengar penuh harap.
                “Maaf Nay, aku pengen menetap diKalbar aja, aku juga udah kerja disini, ampein salam aja sama mereka. Aku pasti usahain datang keresepsi nikahan kamu. Udah dulu ya, aku sibuk”, Aku memutuskan telpon.
“Ya, aku sibuk. Aku sibuk memperbaiki kepingan hati aku yang hancur Nay. Aku sibuk memperbaiki hidup aku, maaf. Jangan ganggu aku dulu”, Ungkapku lirih. Aku menunduk. Menatap hamparan padi yang bergoyang ditiup angin.
Aku memang tak berhati besar
Untuk memahami hatimu disana
Aku memang tak berlapang dada
Untuk menyadari kau bukan milikku lagi
Dengar… dengarkan aku
Aku akan bertahan sampai kapanpun
Sampai kapanpun…
Maafkan aku yang tak sempurna ‘tuk dirimu
Usailah sudah, kisah yang tak sempurna untuk kita kenang
Andai aku dapat merelakan setiap kepingan
Ukiran kenangan indah
Andai aku sanggup menjalani
Setiap detik dari waktu mendatang

*This is the real story by ma friend :')

1 komentar: