Maaf ya sayang, td ninggalin km
pulang dluan. Td udh mw hujan, jdny ak cpet2 plang deh, ntar kehujanan.
Hehe
From :
Billy
|
Hei, sebegitu
nggak pentingnya kah aku? Ataukah dia yang terlalu egois? Dia ninggalin gue
pulang duluan cuman karena takut kehujanan dijalan? Kalau hujan, kita kan bisa
hujan-hujanan bareng sama-sama. Tapi kalau dia pulang duluan, dia nggak peduli
sama gue yang kehujanan.
Aku menatap langit-langit kamarku. Berusaha menepis segala lelah yang kurasa hari ini. Aku lelah lahir dan bathin hari ini. Mengapa dia tega seegois itu padaku? Kalau aku jadi dia, aku rela kehujanan bersama dia. Aku sering menunggunya dengan setia sampai dia pulang supaya kita bisa pulang bareng. Tapi kenapa dia tidak melakukan hal yang sama padaku?
Ah…
aku tahu cinta tak meminta balasan. Ya, aku ikhlas sering menungguinya
berjam-jam demi bisa pulang bersama atau bahkan hanya untuk melihat senyumnya
saja. Seharusnya aku tak perlu sekesal ini. Aku takperlu menuntut balas seperti
apa yang telah ku lakukan padanya. Ya, mungkin seperti itu lah caranya dia
mencintaiku. Tapi apa aku yang harus selalu mengalah? Harus selalu mengerti apa
inginnya. Tapi apa dia pernah mengerti tentang aku. Tentang apa inginku? Tentang
bagaimana aku mendapatkan bahagiaku? Tentang mengapa aku selalu menangis bahkan
hampir setiap hari? Tentang siapa yang aku butuhkan saat aku memerlukan tempat
bersandar? Tentang dimana dan kemana aku harus berlari ketika masalah
bertubi-tubi mendatangiku?
Aku
sudah satu tahun bersamanya. Ya, selama itu aku mempertahankan perasaan ini.
Banyak bahagia yang kudapat darinya. Tapi tak lepas pula duka dan air mata tak
kalah banyak kudapatkan dari dan karenanya. Aku ikhlas atas segala yang dia
berikan padaku dan atas segala yg telah kuberikan padanya. Dan malam ini
terjadi lagi. Hatiku berkabut lagi. Tak ada sinar mentari sedikitpun yang dapat
menghilangkan kabutnya. Pikiranku kacau. Aku ingin mempertahankan. Tapi aku
juga setengah tak kuat dengan ini semua. Pesan singkat itu. Ya, pesan singkat
itu. Ingin sekali kubanting handphoneku saat membaca itu.
***
Jam
bimbingan belajar sekolah belum tiba. Kira-kira 10 menit lagi. Aku membaringkan
kepalaku keatas meja. Ingin memejamkan mata barang sebentar. Menghilangkan
lelah yang sudah kudapatkan dari pelajaran-pelajaran yang membunuhku
pelan-pelan tadi pagi hingga tadi siang. Tapi niat itu kuurungkan. Aku melihat
sosok Billy menghampiriku. Kekasihku ini sejak tadi pagi tak ada menghampiriku.
Dia duduk disampingku dan menyeruput jus
alpukat yang kubeli dikantin tadi. Aku memberikannya sebungkus chitatto. Dia
mengambilnya dan keluar dari kelasku.
Aku
kesal. Bahkan seharian ini dia tidak menanyakan bagaimana keadaanku. Dia hanya
menyentuh dahiku untuk memastikan aku tidak sakit. Tapi dia tak menanyakan
kabar apa-apa dariku.
***
“Kamu
baik-baik aja kan Ra?”, Risna yg berdiri disampingku menatapku khawatir. Mukaku
pucat. Kepalaku terasa pusing. Si kakek ( kepala sekolah ) itu masih saja
memaparkan kata-kata sok bijaknya sebagai peembina upacara.
“Pusing
Ris”.
“Ke
UKS yuk”.
“Nggak
usah ah”.
Brukkkk!!!
Tubuhku terhempas, namun aku merasa tidak terhempas ketanah. Pasti lah, ada
temanku yang menyambutku dibelakang. Aku tidak merasakan apa-apa lagi saat itu.
Saat aku terbangun, aku sadar aku berada diruang UKS. Disampingku ada seorang teman sekelasku.
“Lo
nggak apa-apa kan Ra?”, Jerry tengah berdiri disampingku.
“Nggak
apa-apa Jer. Cuman sedikit pusing aja. Risna mana?”, sahutku pada Jerry seraya
menyapukan pandanganku keseluruh ruangan UKS. Tapi aku tak menangkap sosok
Risna.
“Risna
ke kelas, ngerjain biologi sama yang lainnya”.
“Elo?”.
Aku menunjuk Jerry heran.
“Gue
udah beres kok. Tenang aja hehe. Biologi lo gimana?”
“Beres,
tinggal dikit. Ya udah, mau diapain lagi? Kepala gue udah pusing banget”
“Lo
tidur aja lagi Ra”
“Lo
balik aja deh ke kelas ya Jer. Nggak enak kan kita berduaan disini?”
“Lo
sendiri nggak papa? Udahlah santai aja. Gue duduk diluar kok kalo lo tidur.
yang penting gue nggak ninggalin lo sendiri disini”
“Panggilin
aja Risna”
“Risna
lagi ngerjain biologi Tiaraaa”
“Ya
udah, gue sms Billy aja, gue nggak bakalan sendiri oke? Gue nggak enak sama lo
Jer, ngerepotin”
“Nggak
enak sama gue apa sama Billy? Hehe”
“Dua-duanya”.
Jerry
meninggalkanku sendiri di UKS. Jerry memang sangat perhatian padaku. Dia pernah
bilang kalau dia menyukaiku. Oleh sebab itulah aku sangat berusaha pada Jerry
agar tidak terlalu dekat-dekat denganku. Nanti aku dikatain Pemberi Harapan
Palsu. Jerry laki-laki yang manis. Tapi masih kalah manis sih sama Billy.
Kadang kalau aku kehilangan perhatian dari Billy, hati kecil ini sedikit nakal
karena membutuhkan Jerry ada disampingku.
“Sayang”,
Tiba-tiba Billy datang menjengukku. Padahal aku belum sms dia. Oh Tuhan, merasa
berdosanya aku Karenna tadi melamun tentang Jerry yang suka menggantikan
perhatian Billy padaku,”Kamu sakit?”
“Dari
kemaren. Kamu nggak tau? Ya iyalah nggak tau, orang kamu nggak pernah
menanyakan kabar aku kok”, Aku menyahut dengan ketus. Masih sedikit kesal
dengan perbuatan Billy kemaren.
“Maaf
sayang, maaf ya aku kurang perhatian sama kamu”, Billy membelai kepalaku
lembut. Aku tak menjawab. Hanya memejamkan mata.
***
Apapun
yang dilakukan Billy padaku, seberapapun kesalnya aku pada Billy, aku tetap tak
ingin melepaskan Billy dari genggamanku. Walaupun perasaanku sering digoyahkan
oleh Jerry, tapi hatiku tetap yakin dengan cintaku bersama Billy. Aku tak tahu
cinta sejati. Tapi aku hanya berharap cintaku dan cinta Billy adalah cinta
sejati.
Aku
menatap boneka Teddy yang diberikan Billy padaku. Aku tersenyum menatapnya. Aku
rindu Billy. Ada sedikit perasaan menyesal karna disekolah aku mengacuhkannya.
Disaat lamunanku semakin menjadi, tiba-tiba handphone ku berdering. Aku segera
meraihnya dan langsung menjawab telponnya. Dari Risna.
“Hallo
Ris”
“Ra
lo dimana?”
“Dirumah,
emang kenapa?”
“Nggak
sama Billy?”
“Nggak,
kenapa?”
“Coba
lo samperin gue ke café TanTan”
“Ngapain
sih?”
“Nggak
usah banyak bacot dulu deh. Cepetan yah”
Telpon
dimatikan. Aku segera beranjak dari kasur yang sejak tadi ku rebahi menuju
lemari pakaian untuk mencari pakaian seadanya. Ngapain coba disuruh ke café segala? Umpat ku pada Risna.
***
“Ada
apaan sih Ris?”, Aku menepuk pundak Risna.
“Pssttt,
tuh liat tuh”, Risna menyahut pertanyaanku namun matanya tak mengarah padaku,
melainkan kearah dua sejoli yang sepertinya tak asing lagi dipandanganku. Aku
menyipitkan mataku, memastikan dengan apa yang aku lihat dan siapa yang ada
dipikiranku.
“Lo
kenal, Ra?”, Tanya Risna padaku.
“B…Bill…Billy
dan…!”, Jawabku masih menerka, namun 80% dengan keyakinan terkaanku benar.
“Nahh!!!”,
Risna menjentikkan jarinya.
Aku
tak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku segera menghampiri meja mereka
berdua. Hal yang pertama ku lakukan ketika sampai dimeja mereka adalah
mengambil minuman yang terletak dimeja mereka dan menyiramkannya kemuka
Billy,”Pantes aja ya sekarang perhatiannya kurang. Ternyata udah terbagi dua?”
Billy
berdiri ari duduknya. Jelas diwajahnya menunjukkan mimik terkejut,”Kenapa kamu
bisa ada disini sayang?”
“Kenapa?
Haha. Kaget ya? Ini kejutan buat kamu SAYANG! Dan sekarang jangan panggil gue
sayang lagi! Mulai detik ini! Bajingan!”, Aku memalingkan wajah pada Risna dan
segera meraih tangan Risna,”Ayo kita pulang Ris”.
“Tiara!!!’,
Billy memanggilku. Aku tak menghiraukannya. Aku pun tak tahu apakah dia
mengejarku atau tidak.
***
Sejak
kejadian itu, Billy sudah 3 hari tidak masuk sekolah. Aku pun makin akrab
dengan Jerry. Bahkan Jerry yang menggantikan posisi Billy yang sering
mengingatkanku makan, sholat, membangunkanku dari tidur, tapi jujur sampai saat
ini, dia belum bisa menggeser posisi Billy dihatiku.
“Hai
Ra, lagi ngelamunin apa?”, Tiba-tiba Jerry mengagetkanku.
“Nggak
ngelamunin apa-apa kok Jer”
“Boleh
ngomong nggak Ra?”
“Ngomong
aja lagi Jer, ngapain minta izin segala?”
“Boleh
nggak gue ngegantiin posisi Billy?”
Deg!!! Gue baru putus 3 hri sama Billy. Mana mungkin gue udah bisa
membuka hati gue ke orang lain? Bathinku.
“Gue
tau kok, lo belum bisa ngelupain Billy, Ra. Gue bakal nunggu sampai lo
bener-bener bisa ngelupain dia”, Terlihat senyum keikhlasan dan ketulusan
diwajahnya. Senyum itu yang slalu dia berikan untukku. Aku mengaggukkan
kepalaku. Aku sudah tidak tahu lagi
kemana arah hidupku sekarang.
Sudah
hari ke-5 aku dan Billy putus. Billy masih tak menampakkan batang hidungnya
disekolah. Akhirnya aku dan Jerry kerumah Billy sepulang dari sekolah. Dan
betapa mengejutkan, pada malam hari aku putus, Billy tertabrak mobil yang
pengendaranya sedang mabuk. Billy berlari mengejar mobilku saat itu.
Aku
sangat menyesal meninggalkan Billy begitu saja. Tanpa kusadari, beberapa hari
ini aku selalu murung disekolah, hingga Jerry mengajakku menjenguk Billy ke
Rumah Sakit. Dengan bersemangat aku menyetujui ajakan Jerry.
“Billy,
maafin aku Bil, maafin aku udah ninggalin kamu. Kamu bangun sayang”, Aku meraih
tangan Billy, mencium tangannya dengan lembut. Aku meletakkan tangan Billy
dipipiku. Tangannya begitu dingin. “Biar aku saja yang menggantikan posisi kamu
Bil”, Jerry memusuti punggungku. Tuhan, aku tahu perasaan Jerry saat ini. Dia
sakit. Disisi lain, aku tak bisa memendam rinduku pada Billy.
Tiba-tiba
pintu ruangan terdengar terbuka. Aku menoleh menuju asal suara pintu. Sosok
wanita yang kulihat bersama Billy di café malam itu. Ya, ini dia wanita itu!
“Hei,
lo pacar Billy? Ummm, maksudku mantan?”
“Maksud
lo?”
“Kenalin,
aku Raya, sepupu Billy. Sorry ya malam tu ngambil waktunya Billy. Soalnya Billy
pengen curhat sama gue’
“Curhat?
Billy punya masalah?”
“Mungkin
gue harus kasih tahu sekarang. Tiara, lo tahu, Billy sangat menyayangi lo? Gue
kasih tahu sedikit yang gue tahu ya. Lo inget waktu Billy ninggalin lo pas
hujan? Itu karena Billy berfikir, kalo kalian barengan pulang waktu itu, kalian
pasti ujan-ujanan kan? Kalo Billy ninggalin lo, otomatis lo bisa nebeng Risna
pake mobil. Terus, lo ingat waktu lo nggak ditanyain kabar sama Billy? Itu
karena Billy juga sakit. Kalo dia nanya kabar ke lo, otomatis lo balik nanya
kabar dia kan? Dia nggak mau bikin lo khawatir. Dan pertemuan gue sama Billy
malam itu, dia cerita ke gue kalo lo sakit disekolah, tapi yang jagain lo
duluan malah Jerry. Dia cemburu Ra, tapi dia nggak mau ngungkapinnya ke elo.
Kalo dia marah, kesel atau ada masalah, pasti cerita ke gue. Makanya dia
seperti nggak pernah punya masalah kan? Seperti nggak pernah cemburu sama elo
kan? Nggak pernah marah kan? Karena dia ngungkapinnya ke gue, Ra. Dan pertemuan
gue malam itu, juga ngasih ini ke Billy. Dia minta bungkusin ini yang rapi ke
gue. Dia takut kalo bungkusan dia kelihatan nggak rapi. Selamat ulang tahun ya,
Tiara”, Gadis yang bernama Raya itu menjelaskan panjang lebar padaku. Dia
menyodorkan satu bingkisan padaku. Bingkisan itu bertuliskan “To : My Love”
Aku
kembali meraih tangan Billy,”Bangun sayang, bangun. Maafin aku sayang”, aku
menangis sejadi-jadinya.
“Hei”,
Suara itu, ya, suara itu. Suara Billy. Aku menatap wajah Billy. Dia tersenyum
padaku. Dia sudah sadar. Dia bangun untukku, “Jangan nangis”, dia menyapu air
yang sejak tadi berguguran dari mataku. Tiba-tiba Billy menyatukan tanganku dan
Jerry. Aku menatap wajah Billy dan Jerry bergantian. Aku tak tega melihat wajah
Jerry. Dia tetap saja menunjukkan senyum tulusnya untukku. Padahal wanita yang
dicintainya kini sedang menangisi mantannya.
“Jangan
nangisin aku. Kasian tuh Jerry”, Billy berusaha tersenyum padaku. Aku hanya
bisa menangis. Kenapa hal ini bisa terjadi padaku? Air mataku terus mengalir,
“Lihat, air mata kamu dan Jerry menyatu ditanganku sayang. Air mata kalian yang
akan menjadi butiran mutiara. Sayang, air matamu sungguh berharga bagiku. Air
mata kamu, adalah keeping mutiara disetiap tetesnya. tapi, aku tak pernah
menangis bersamamu sayang, sehingga aku tidak bisa membuat keeping mutiara itu
menjadi butiran mutiara. Dan lihatlah sayang, ditangan ini air mata kamu dan
Jerry bersatu, menjadi butiran mutiara yang akan slalu ku genggam. Pulanglah
bersama Jerry sayang, aku taka pa. aku sudah sembuh. Dokter pun membolehkan aku
pulang besok”, Billy masih tersenyum padaku. Aku menatap Jerry. Dia benar-benar
menangis bersamaku. Sesekali dia usap air mataku.
Aku
terasa bingung. Aku berada diantara mereka. Aku menunduk. Aku tak tahu harus
bagaimana. Billy? Jerry? Keduanya mencintaiku, menyayangiku, menghargaiku. Akankah
aku akan bersatu dengan Jerry karena kata Billy, keping mutiaraku jatuh
bersamaan dengan air mata Jerry yang menjadikan butiran mutiara?
Aku
tak tega menatap Jerry. Dia tak bersuara apa-apa. Dan aku sadar, disini, akulah
tokoh antagonisnya. Aku melukai dua orang sekaligus. Dua orang yang
mencintaiku!
To Be Continued -> Keping Mutiara II
Tidak ada komentar:
Posting Komentar