Rabu, 13 Februari 2013

Keping Mutiara



Maaf ya sayang, td ninggalin km pulang dluan. Td udh mw hujan, jdny ak cpet2 plang deh, ntar kehujanan. Hehe
From   : Billy
 




                      Hei, sebegitu nggak pentingnya kah aku? Ataukah dia yang terlalu egois? Dia ninggalin gue pulang duluan cuman karena takut kehujanan dijalan? Kalau hujan, kita kan bisa hujan-hujanan bareng sama-sama. Tapi kalau dia pulang duluan, dia nggak peduli sama gue yang kehujanan.
                                                   
Aku menatap langit-langit kamarku. Berusaha menepis segala lelah yang kurasa hari ini. Aku lelah lahir dan bathin hari ini. Mengapa dia tega seegois itu padaku? Kalau aku jadi dia, aku rela kehujanan bersama dia. Aku sering menunggunya dengan setia sampai dia pulang supaya kita bisa pulang bareng. Tapi kenapa dia tidak melakukan hal yang sama padaku?
                                                    Ah… aku tahu cinta tak meminta balasan. Ya, aku ikhlas sering menungguinya berjam-jam demi bisa pulang bersama atau bahkan hanya untuk melihat senyumnya saja. Seharusnya aku tak perlu sekesal ini. Aku takperlu menuntut balas seperti apa yang telah ku lakukan padanya. Ya, mungkin seperti itu lah caranya dia mencintaiku. Tapi apa aku yang harus selalu mengalah? Harus selalu mengerti apa inginnya. Tapi apa dia pernah mengerti tentang aku. Tentang apa inginku? Tentang bagaimana aku mendapatkan bahagiaku? Tentang mengapa aku selalu menangis bahkan hampir setiap hari? Tentang siapa yang aku butuhkan saat aku memerlukan tempat bersandar? Tentang dimana dan kemana aku harus berlari ketika masalah bertubi-tubi mendatangiku?
                                                    Aku sudah satu tahun bersamanya. Ya, selama itu aku mempertahankan perasaan ini. Banyak bahagia yang kudapat darinya. Tapi tak lepas pula duka dan air mata tak kalah banyak kudapatkan dari dan karenanya. Aku ikhlas atas segala yang dia berikan padaku dan atas segala yg telah kuberikan padanya. Dan malam ini terjadi lagi. Hatiku berkabut lagi. Tak ada sinar mentari sedikitpun yang dapat menghilangkan kabutnya. Pikiranku kacau. Aku ingin mempertahankan. Tapi aku juga setengah tak kuat dengan ini semua. Pesan singkat itu. Ya, pesan singkat itu. Ingin sekali kubanting handphoneku saat membaca itu.
***
                                                    Jam bimbingan belajar sekolah belum tiba. Kira-kira 10 menit lagi. Aku membaringkan kepalaku keatas meja. Ingin memejamkan mata barang sebentar. Menghilangkan lelah yang sudah kudapatkan dari pelajaran-pelajaran yang membunuhku pelan-pelan tadi pagi hingga tadi siang. Tapi niat itu kuurungkan. Aku melihat sosok Billy menghampiriku. Kekasihku ini sejak tadi pagi tak ada menghampiriku.  Dia duduk disampingku dan menyeruput jus alpukat yang kubeli dikantin tadi. Aku memberikannya sebungkus chitatto. Dia mengambilnya dan keluar dari kelasku.
                                                    Aku kesal. Bahkan seharian ini dia tidak menanyakan bagaimana keadaanku. Dia hanya menyentuh dahiku untuk memastikan aku tidak sakit. Tapi dia tak menanyakan kabar apa-apa dariku.
***
                                                    “Kamu baik-baik aja kan Ra?”, Risna yg berdiri disampingku menatapku khawatir. Mukaku pucat. Kepalaku terasa pusing. Si kakek ( kepala sekolah ) itu masih saja memaparkan kata-kata sok bijaknya sebagai peembina upacara.
                                                    “Pusing Ris”.
                                                    “Ke UKS yuk”.
                                                    “Nggak usah ah”.
                                                    Brukkkk!!! Tubuhku terhempas, namun aku merasa tidak terhempas ketanah. Pasti lah, ada temanku yang menyambutku dibelakang. Aku tidak merasakan apa-apa lagi saat itu. Saat aku terbangun, aku sadar aku berada diruang UKS. Disampingku ada seorang teman sekelasku.
                                                    “Lo nggak apa-apa kan Ra?”, Jerry tengah berdiri disampingku.
                                                    “Nggak apa-apa Jer. Cuman sedikit pusing aja. Risna mana?”, sahutku pada Jerry seraya menyapukan pandanganku keseluruh ruangan UKS. Tapi aku tak menangkap sosok Risna.
                                                    “Risna ke kelas, ngerjain biologi sama yang lainnya”.
                                                    “Elo?”. Aku menunjuk Jerry heran.
                                                    “Gue udah beres kok. Tenang aja hehe. Biologi lo gimana?”
                                                    “Beres, tinggal dikit. Ya udah, mau diapain lagi? Kepala gue udah pusing banget”
                                                    “Lo tidur aja lagi Ra”
                                                    “Lo balik aja deh ke kelas ya Jer. Nggak enak kan kita berduaan disini?”
                                                    “Lo sendiri nggak papa? Udahlah santai aja. Gue duduk diluar kok kalo lo tidur. yang penting gue nggak ninggalin lo sendiri disini”
                                                    “Panggilin aja Risna”
                                                    “Risna lagi ngerjain biologi Tiaraaa”
                                                    “Ya udah, gue sms Billy aja, gue nggak bakalan sendiri oke? Gue nggak enak sama lo Jer, ngerepotin”
                                                    “Nggak enak sama gue apa sama Billy? Hehe”
                                                    “Dua-duanya”.
                                                    Jerry meninggalkanku sendiri di UKS. Jerry memang sangat perhatian padaku. Dia pernah bilang kalau dia menyukaiku. Oleh sebab itulah aku sangat berusaha pada Jerry agar tidak terlalu dekat-dekat denganku. Nanti aku dikatain Pemberi Harapan Palsu. Jerry laki-laki yang manis. Tapi masih kalah manis sih sama Billy. Kadang kalau aku kehilangan perhatian dari Billy, hati kecil ini sedikit nakal karena membutuhkan Jerry ada disampingku.
                                                    “Sayang”, Tiba-tiba Billy datang menjengukku. Padahal aku belum sms dia. Oh Tuhan, merasa berdosanya aku Karenna tadi melamun tentang Jerry yang suka menggantikan perhatian Billy padaku,”Kamu sakit?”
                                                    “Dari kemaren. Kamu nggak tau? Ya iyalah nggak tau, orang kamu nggak pernah menanyakan kabar aku kok”, Aku menyahut dengan ketus. Masih sedikit kesal dengan perbuatan Billy kemaren.
                                                    “Maaf sayang, maaf ya aku kurang perhatian sama kamu”, Billy membelai kepalaku lembut. Aku tak menjawab. Hanya memejamkan mata.
***
                                                    Apapun yang dilakukan Billy padaku, seberapapun kesalnya aku pada Billy, aku tetap tak ingin melepaskan Billy dari genggamanku. Walaupun perasaanku sering digoyahkan oleh Jerry, tapi hatiku tetap yakin dengan cintaku bersama Billy. Aku tak tahu cinta sejati. Tapi aku hanya berharap cintaku dan cinta Billy adalah cinta sejati.
                                                    Aku menatap boneka Teddy yang diberikan Billy padaku. Aku tersenyum menatapnya. Aku rindu Billy. Ada sedikit perasaan menyesal karna disekolah aku mengacuhkannya. Disaat lamunanku semakin menjadi, tiba-tiba handphone ku berdering. Aku segera meraihnya dan langsung menjawab telponnya. Dari Risna.
                                                    “Hallo Ris”
                                                    “Ra lo dimana?”
                                                    “Dirumah, emang kenapa?”
                                                    “Nggak sama Billy?”
                                                    “Nggak, kenapa?”
                                                    “Coba lo samperin gue ke café TanTan”
                                                    “Ngapain sih?”
                                                    “Nggak usah banyak bacot dulu deh. Cepetan yah”
                                                    Telpon dimatikan. Aku segera beranjak dari kasur yang sejak tadi ku rebahi menuju lemari pakaian untuk mencari pakaian seadanya. Ngapain coba disuruh ke café segala? Umpat ku pada Risna.
***
                                                    “Ada apaan sih Ris?”, Aku menepuk pundak Risna.
                                                    “Pssttt, tuh liat tuh”, Risna menyahut pertanyaanku namun matanya tak mengarah padaku, melainkan kearah dua sejoli yang sepertinya tak asing lagi dipandanganku. Aku menyipitkan mataku, memastikan dengan apa yang aku lihat dan siapa yang ada dipikiranku.
                                                    “Lo kenal, Ra?”, Tanya Risna padaku.
                                                    “B…Bill…Billy dan…!”, Jawabku masih menerka, namun 80% dengan keyakinan terkaanku benar.
                                                    “Nahh!!!”, Risna menjentikkan jarinya.
                                                    Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku segera menghampiri meja mereka berdua. Hal yang pertama ku lakukan ketika sampai dimeja mereka adalah mengambil minuman yang terletak dimeja mereka dan menyiramkannya kemuka Billy,”Pantes aja ya sekarang perhatiannya kurang. Ternyata udah terbagi dua?”
                                                    Billy berdiri ari duduknya. Jelas diwajahnya menunjukkan mimik terkejut,”Kenapa kamu bisa ada disini sayang?”
                                                    “Kenapa? Haha. Kaget ya? Ini kejutan buat kamu SAYANG! Dan sekarang jangan panggil gue sayang lagi! Mulai detik ini! Bajingan!”, Aku memalingkan wajah pada Risna dan segera meraih tangan Risna,”Ayo kita pulang Ris”.
                                                    “Tiara!!!’, Billy memanggilku. Aku tak menghiraukannya. Aku pun tak tahu apakah dia mengejarku atau tidak.
***
                                                    Sejak kejadian itu, Billy sudah 3 hari tidak masuk sekolah. Aku pun makin akrab dengan Jerry. Bahkan Jerry yang menggantikan posisi Billy yang sering mengingatkanku makan, sholat, membangunkanku dari tidur, tapi jujur sampai saat ini, dia belum bisa menggeser posisi Billy dihatiku.
                                                    “Hai Ra, lagi ngelamunin apa?”, Tiba-tiba Jerry mengagetkanku.
                                                    “Nggak ngelamunin apa-apa kok Jer”
                                                    “Boleh ngomong nggak Ra?”
                                                    “Ngomong aja lagi Jer, ngapain minta izin segala?”
                                                    “Boleh nggak gue ngegantiin posisi Billy?”
Deg!!! Gue baru putus 3 hri sama Billy. Mana mungkin gue udah bisa membuka hati gue ke orang lain? Bathinku.
                                                    “Gue tau kok, lo belum bisa ngelupain Billy, Ra. Gue bakal nunggu sampai lo bener-bener bisa ngelupain dia”, Terlihat senyum keikhlasan dan ketulusan diwajahnya. Senyum itu yang slalu dia berikan untukku. Aku mengaggukkan kepalaku. Aku sudah tidak tahu lagi  kemana arah hidupku sekarang.
                                                    Sudah hari ke-5 aku dan Billy putus. Billy masih tak menampakkan batang hidungnya disekolah. Akhirnya aku dan Jerry kerumah Billy sepulang dari sekolah. Dan betapa mengejutkan, pada malam hari aku putus, Billy tertabrak mobil yang pengendaranya sedang mabuk. Billy berlari mengejar mobilku saat itu.
                                                    Aku sangat menyesal meninggalkan Billy begitu saja. Tanpa kusadari, beberapa hari ini aku selalu murung disekolah, hingga Jerry mengajakku menjenguk Billy ke Rumah Sakit. Dengan bersemangat aku menyetujui ajakan Jerry.
                                                    “Billy, maafin aku Bil, maafin aku udah ninggalin kamu. Kamu bangun sayang”, Aku meraih tangan Billy, mencium tangannya dengan lembut. Aku meletakkan tangan Billy dipipiku. Tangannya begitu dingin. “Biar aku saja yang menggantikan posisi kamu Bil”, Jerry memusuti punggungku. Tuhan, aku tahu perasaan Jerry saat ini. Dia sakit. Disisi lain, aku tak bisa memendam rinduku pada Billy.
                                                    Tiba-tiba pintu ruangan terdengar terbuka. Aku menoleh menuju asal suara pintu. Sosok wanita yang kulihat bersama Billy di café malam itu. Ya, ini dia wanita itu!
                                                    “Hei, lo pacar Billy? Ummm, maksudku mantan?”
                                                    “Maksud lo?”
                                                    “Kenalin, aku Raya, sepupu Billy. Sorry ya malam tu ngambil waktunya Billy. Soalnya Billy pengen curhat sama gue’
                                                    “Curhat? Billy punya masalah?”
                                                    “Mungkin gue harus kasih tahu sekarang. Tiara, lo tahu, Billy sangat menyayangi lo? Gue kasih tahu sedikit yang gue tahu ya. Lo inget waktu Billy ninggalin lo pas hujan? Itu karena Billy berfikir, kalo kalian barengan pulang waktu itu, kalian pasti ujan-ujanan kan? Kalo Billy ninggalin lo, otomatis lo bisa nebeng Risna pake mobil. Terus, lo ingat waktu lo nggak ditanyain kabar sama Billy? Itu karena Billy juga sakit. Kalo dia nanya kabar ke lo, otomatis lo balik nanya kabar dia kan? Dia nggak mau bikin lo khawatir. Dan pertemuan gue sama Billy malam itu, dia cerita ke gue kalo lo sakit disekolah, tapi yang jagain lo duluan malah Jerry. Dia cemburu Ra, tapi dia nggak mau ngungkapinnya ke elo. Kalo dia marah, kesel atau ada masalah, pasti cerita ke gue. Makanya dia seperti nggak pernah punya masalah kan? Seperti nggak pernah cemburu sama elo kan? Nggak pernah marah kan? Karena dia ngungkapinnya ke gue, Ra. Dan pertemuan gue malam itu, juga ngasih ini ke Billy. Dia minta bungkusin ini yang rapi ke gue. Dia takut kalo bungkusan dia kelihatan nggak rapi. Selamat ulang tahun ya, Tiara”, Gadis yang bernama Raya itu menjelaskan panjang lebar padaku. Dia menyodorkan satu bingkisan padaku. Bingkisan itu bertuliskan “To : My Love”
                                                    Aku kembali meraih tangan Billy,”Bangun sayang, bangun. Maafin aku sayang”, aku menangis sejadi-jadinya.
                                                    “Hei”, Suara itu, ya, suara itu. Suara Billy. Aku menatap wajah Billy. Dia tersenyum padaku. Dia sudah sadar. Dia bangun untukku, “Jangan nangis”, dia menyapu air yang sejak tadi berguguran dari mataku. Tiba-tiba Billy menyatukan tanganku dan Jerry. Aku menatap wajah Billy dan Jerry bergantian. Aku tak tega melihat wajah Jerry. Dia tetap saja menunjukkan senyum tulusnya untukku. Padahal wanita yang dicintainya kini sedang menangisi mantannya.
                                                    “Jangan nangisin aku. Kasian tuh Jerry”, Billy berusaha tersenyum padaku. Aku hanya bisa menangis. Kenapa hal ini bisa terjadi padaku? Air mataku terus mengalir, “Lihat, air mata kamu dan Jerry menyatu ditanganku sayang. Air mata kalian yang akan menjadi butiran mutiara. Sayang, air matamu sungguh berharga bagiku. Air mata kamu, adalah keeping mutiara disetiap tetesnya. tapi, aku tak pernah menangis bersamamu sayang, sehingga aku tidak bisa membuat keeping mutiara itu menjadi butiran mutiara. Dan lihatlah sayang, ditangan ini air mata kamu dan Jerry bersatu, menjadi butiran mutiara yang akan slalu ku genggam. Pulanglah bersama Jerry sayang, aku taka pa. aku sudah sembuh. Dokter pun membolehkan aku pulang besok”, Billy masih tersenyum padaku. Aku menatap Jerry. Dia benar-benar menangis bersamaku. Sesekali dia usap air mataku.
                                                    Aku terasa bingung. Aku berada diantara mereka. Aku menunduk. Aku tak tahu harus bagaimana. Billy? Jerry? Keduanya mencintaiku, menyayangiku, menghargaiku. Akankah aku akan bersatu dengan Jerry karena kata Billy, keping mutiaraku jatuh bersamaan dengan air mata Jerry yang menjadikan butiran mutiara?
                                                    Aku tak tega menatap Jerry. Dia tak bersuara apa-apa. Dan aku sadar, disini, akulah tokoh antagonisnya. Aku melukai dua orang sekaligus. Dua orang yang mencintaiku!

To Be Continued -> Keping Mutiara II

Tidak ada komentar:

Posting Komentar