Sabtu, 09 Februari 2013

Sayangi Ayah Kita :')


                “Tin, turun nak, nanti jatoh”
                “Ah nggak akan kok ma, Tina kan jago”
                “ Kalo nggak taurun juga, mama panggilin papa nih”, Seru Marni agak sedikit mengancam pada anaknya. Namun sepertinya Tina tak menghiraukan itu. Dia masih saja ashik memakan jambu yang ada dipohon yang sedang dinaikinya. Akhirnya Marni hanya bisa menggelengkan kepala.
                Tiba-tiba Surya datang mengahampiri Marni, istrinya yang sedang berdiri didepan pintu rumah itu,” Ada apa sih Ma?”.
                “Tuh liat anak cewek papa, dibilangin nggak nurut. Ntar kalo jatoh gimana? Kaya anak cowok saja manjat-manjat pohon”.
                “Duh, mama kalau ngomel gini cantik juga ya”, Kata Surya menggoda istrinya. Marni hanya mencibir.
                “Ciyeee mama sama papa. Ntar aja deh mesra-mesraannya dikamar. Disitu kan ketahuan Tina. Wee. Hahahaha”, Tina mengejek orang tuanya hingga tertawa puas terbahak-bahak.
                “Tina, kamu itu anak cewek lo, nggak boleh ketawa kayak gitu, udah manjat pohn, terus ketawa kayak gitu. Ntar papa operasi ganti jenis kelamin aja deh ya?”.
                “Iiiih papa, iya deh pa, Tina turun nih”, Kata Tina seraya berusaha untuk turun dari pohon jambu yang tengah ia tempati. Marni dan Surya tersenyum melihat Tina.
               
Tina adalah anak sulung dari pasangan Surya dan Marni. Adiknya bernama Tio. Tina memang anak yang periang, namun sedikit bersifat kelaki-lakian. Tapi sebenarnya hatinya lembut. Tina seperti orang yang cuek terhadap keluarga, namun dibalik sifat kecuekannya pada keluarga, sebenarnya dia sangat menyayangi keluarganya. Apalagi pada papanya, apa yang dibilang papanya, pasti dituruti oleh Tina.
                Bulan Ramadhan telah memasuki hari ke-28. Dipenghujung Ramadhan itu, Tina beserta keluarganya telah mempersiapkan dan membicarakan akan pulang kampung kemana mereka dilebaran tahun itu.
                “Pa, kita pulang kampong ke Barabai aja dulu ya? Kerumah mama aku dulu, baru kerumah orang tuanya kamu”
                “Hmm, kayaknya papa nggak bisa ikut pulang kampung bareng deh tahun ini ma. Mama sama anak-anak aja dulu ya? Ntar idul adha, kita baru pulang kampung bersama. Nggak papa kan ma?”
                “Yaa mama nggak apa-apa sih. Tanya sama Tina dan Tio dulu gih”, Kata mama sambail menatap kedua anaknya.
                “Yaaa, kok papa nggak ikut sih pa?”, Kata Tio merengek.
                “Biarin aja lah yo, kan nggak ada yang negur kita nanti dirumah nenek kalo nggak ada papa. Ya kan?”, Bisik Tina pada adiknya.
                “Tina, papa denger lho”, Kata Surya tersenyum, tapi sambil melototi Tina.
                “Becanda kok papa. Emang papa kenapa sih nggak ikut?”.
                “Papa masih ada urusan kerjaan disini sayang”.
                “Oh gitu ya pa? iya deh nggak papa kok pa. eh tapi Tina bilang nggak papa ini bukan karna Tina bisa berbuat yang tidak papa sukai kok pa, Tina nggak bakalan nakal kok disana”, Kata Tina sambil tersenyum.
                ‘Janjinya jangan tidak berbuat nakal disana aja. Tapi tidak berbuat yng tidak papa sukai dimana saja. Janji ya, walaupun nggak ada papa yang negur. Janji ya?”.
                “Iya papa, pasti”, Tina tersenyum manis.
                “Tio juga ya?”
                “Iya pa”, Tio pun tersenyum manis.
                Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Laa ilaaha illallahu wallahu akbar, Allahu akbar walillahilhamd. Hari kemenangan pun tlah tiba. Seusai shalat Ied, keluarga Tina makan bersama. Setelah makan bersama, mereka memohon ampun satu sama lain. Setelah itu, barulah Marni mempersiapkan segalanya untuk keberangkatannya bersama anak-anaknya.
                “Hati-hati ya ma. Titip anak-anak ya”, Kata Surya seraya memeluk Marni.
                “Iya pa, papa jaga diri baik-baik ya disini, jangan telat makan oke?”.
                “Iya ma”, Surya tersenyum maniiis sekali pada istrinya. Tatapannya kini beralih pada kedua anaknya. Surya menatap Tina lekat seraya berkata,”Tina jangan nakal disana ya? Papa sayang kamu. Tio juga jangan nakal ya, dengerin dan turuti apa kata mama. Papa sayang kalian”, Surya memeluk erat kedua anaknya.
                Marni, Tina, dan Tio pun berangkat dari Banjarmasin menuju kota Barabai. Hingga 3 hari mereka berada disana, tiba-tiba Tio menangis mendatangi Marni yang tengah asyik ngobrol dengan ibunya.
                “Mama, pulang yuk ma, Tio kangen papa”.
                “Kan besok kita pulang sayang? Tahan kangennya sehari dulu ya sayang. Telpon aja ya papanya?”
                “Nggak mau ma, pokoknya Tio mau pulang”, Tio semakin merengek, tangisannya semakin keras. Dengan terpaksa hari itu juga Marni beserta anak-anaknya pamit terhadap keluarganya yang ada diBarabai.
                Sesampainya dirumah, Marni tak bisa masuk kedalam. Semua pintu rumah terkunci. Dia bingung. Telfon Surya juga tidak bisa dihubungi, telfon rumah pun tak ada jawaban.
                “Ma, mama mencium bau sesuatu nggak?”, Tanya Tina.
                “Iya, mencium kok”.
                “Eh, bu Marni, udah pulang?”, Kata tetangga Marni yang tengah menyapu halaman rumahnya.
                “Iya nih bu. Bu Anna tahu nggak mas Surya kemana?”, Sahut Marni.
                “Nggak tahu bu. Tengah hari idul fitri itu saya liat dia dengan temannya cowok, sebelum masuk rumah, sempet kok negur sama saya, sejak saat itu, saya tidak melihat lagi suami ibu”.
                “Oh begitu ya bu, makasih ya bu. Saya masuk dulu ya bu Anna”.
                “Iya, silahkan bu Marni”.
                Marni terpaksa mencari kunci serap rumahnya. Mungkin saja dia membawa. Dan keberuntungan berpihak pada mereka. Marni menemukan kunci serap yang ada didalam tasnya. Marni segera membuka pintu rumah.
                “Ma, bau banget nih. Kayak bau bangkai gitu”, Kata Tina sambil menutup hidung dengan tangannya.
                “Iya, mama juga mencium kok Tin”, Sahut Marni dengan posisi tangan sedang menutup hidung persis seperti Tina dan Tio.
                “Kayaknya sumber baunya dari dapur deh ma. Kita buka pintu dapur yuk!”.
                “Iya, yuk!”, Marni segera melangkahkan kaki menuju dapur. Dibukanya pintu dapur. Disana telah terbaring laki-laki dengan posisi telentang. Kepalanya tertutup oleh bantal yang biasanya ada dikursi tamu rumah Marni.
                Perasaan Marni mulai tak enak. Begitupun Tina dan Tio. Mereka segera mendekati laki-laki tersebut. Dibenak mereka terfikir hal yang sama. Bahwa laki-laki itu berpostur tubuh mirip sekali dengan Surya, suami Marni sekaligus papa Tina dan Tio. Dengan tangan bergetar, Marni membuka bantal yang telah menutupi wajah laki-laki tersebut. Hanya satu harapan Marni, itu bukanlah suaminya.
                Namun harapan Marni hanyalah sebuah harapan. Betapa terkejutnya Marni ketika melihat wajah yang tak asing lagi dimatanya telah terbujur kaku dihadapannya. Kepalanya berlumuran dengan darah segar. Marni sangat shock melihat itu semua. Ia hanya bisa terdiam memandangi yang ada dihadapannya kini. Tio menangis berteriak, hingga bu Anna dan suaminya mendatangi tempat Marni, Tina dan Tio yang tengah tak percaya dengan yang telah mereka alami.
                Dalam sekejap, Tina dan Tio dibawa oleh bu Anna kerumahnya. Sedangkan suami bu Anna mengurus semua yang tlah terjadi, hingga akhir pemakaman Surya.
Sejak saat itu Tina dan Tio tak pernah lagi melihat sosok papanya. Ia hanya mendengar pengakuan dari teman papanya yang menceritakan bagaimana papanya bisa pergi meninggalkannya.
                “Saat sore lebaran itu, Surya makan didapur rumahnya. Saat itu saya baru pulang membeli rokok. Surya sudah menawarkan saya makan. Tapi saya beralasan untuk merokok terlebih dahulu. Tiba-tiba, saat itu iblis membisiki saya. Memang pada saat itu saya sangat membutuhkan uang. Saya melihat ada sepeda motor baru dirumah Surya. Tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah linggis yang ada disamping pintu dapur rumah Surya. Saya ambil linggis itu dan menimpakan itu kekepala Surya dengan keras sampai tiga kali. Surya pun terjatuh, kepalanya penuh dengan darah. Sebenarnya saya melakukan itu tak sengaja. Saya bingung harus berbuat apa. Saya takut Surya akan melaporkan saya pada polisi. Dan saya putuskan untuk membunu Surya dengan menutupi kepalanya dengan bantal. Setelah itu saya kabur menggunakan sepeda motor Surya”.
                Sejak kejadian itulah, Tina telah kehilangan cerianya. Tina telah kehilangan bahagianya. Tina merasa telah kehilangan segalanya. Dia ingin marah dengan papanya yang tega meninggalkan dia, mama dan adiknya. Tapi papanya juga tak bersalah. Dia ingin marah dengan teman papanya yang telah merenggut nyawa papanya, tapi polisi telah menanganinya terlebih dahulu.
Aku tak mungkin bisa marah pada Tuhan,
Aku tak mungkin bisa marah pada papa.
Aku juga tak akan bisa marah pada diriku sendiri
yang telah meninggalkan papa sendiri pada watu itu.
Aku telah menyadari, ini memang telah takdir Tuhan
yang tertulis dan tak pernah bisa diganggu gugat.
Kehilangan papa bukan berarti aku kehilangan dia seutuhnya.
Papa tak pernah benar-benar meninggalkan Tina.
Papa hanya meninggalkan dunia fana, tapi tak pernah meninggalkan
dunia mimpi Tina.
Tina janji papa, Tina tidak akan nakal, karna sudah tidak ada
lagi yang menegur Tina.
Tina janji papa, Tina akan selalu tersenyum manis.
Tina janji papa, Tina akan membunuh sikap pemurung Tina…
Tina sayang papa, selamat jalan papa
J
                Tina menutup buku hariannya dengan melukiskan senyum simpul dibibirnya. Ia hanya berharap ayahnya bisa tenang disana, dan untuk teman-temannya yang masih memiliki seorang papa, ayah, atau abah, ia berharap mereka bisa menyayangi sang papa dan bisa membahagiakan beliau, hanya dengan menuruti apa kata sang ayah, papa, atau abah, beliau pasti telah terbahagiakan oleh kita – anak mereka – Bahagiakanlah dia sebelum dia pergi meninggalkan kita J
*kisah nyata Tina Avrilya*
THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar