“Tin,
turun nak, nanti jatoh”
“Ah
nggak akan kok ma, Tina kan jago”
“
Kalo nggak taurun juga, mama panggilin papa nih”, Seru Marni agak sedikit
mengancam pada anaknya. Namun sepertinya Tina tak menghiraukan itu. Dia masih
saja ashik memakan jambu yang ada dipohon yang sedang dinaikinya. Akhirnya
Marni hanya bisa menggelengkan kepala.
Tiba-tiba
Surya datang mengahampiri Marni, istrinya yang sedang berdiri didepan pintu
rumah itu,” Ada apa sih Ma?”.
“Tuh
liat anak cewek papa, dibilangin nggak nurut. Ntar kalo jatoh gimana? Kaya anak
cowok saja manjat-manjat pohon”.
“Duh,
mama kalau ngomel gini cantik juga ya”, Kata Surya menggoda istrinya. Marni
hanya mencibir.
“Ciyeee
mama sama papa. Ntar aja deh mesra-mesraannya dikamar. Disitu kan ketahuan
Tina. Wee. Hahahaha”, Tina mengejek orang tuanya hingga tertawa puas
terbahak-bahak.
“Tina,
kamu itu anak cewek lo, nggak boleh ketawa kayak gitu, udah manjat pohn, terus
ketawa kayak gitu. Ntar papa operasi ganti jenis kelamin aja deh ya?”.
“Iiiih papa, iya deh pa, Tina
turun nih”, Kata Tina seraya berusaha untuk turun dari pohon jambu yang tengah
ia tempati. Marni dan Surya tersenyum melihat Tina.
Tina adalah anak sulung dari pasangan Surya dan Marni. Adiknya bernama Tio. Tina memang anak yang periang, namun sedikit bersifat kelaki-lakian. Tapi sebenarnya hatinya lembut. Tina seperti orang yang cuek terhadap keluarga, namun dibalik sifat kecuekannya pada keluarga, sebenarnya dia sangat menyayangi keluarganya. Apalagi pada papanya, apa yang dibilang papanya, pasti dituruti oleh Tina.
Bulan
Ramadhan telah memasuki hari ke-28. Dipenghujung Ramadhan itu, Tina beserta
keluarganya telah mempersiapkan dan membicarakan akan pulang kampung kemana
mereka dilebaran tahun itu.
“Pa,
kita pulang kampong ke Barabai aja dulu ya? Kerumah mama aku dulu, baru kerumah
orang tuanya kamu”
“Hmm,
kayaknya papa nggak bisa ikut pulang kampung bareng deh tahun ini ma. Mama sama
anak-anak aja dulu ya? Ntar idul adha, kita baru pulang kampung bersama. Nggak
papa kan ma?”
“Yaa
mama nggak apa-apa sih. Tanya sama Tina dan Tio dulu gih”, Kata mama sambail
menatap kedua anaknya.
“Yaaa,
kok papa nggak ikut sih pa?”, Kata Tio merengek.
“Biarin
aja lah yo, kan nggak ada yang negur kita nanti dirumah nenek kalo nggak ada
papa. Ya kan?”, Bisik Tina pada adiknya.
“Tina,
papa denger lho”, Kata Surya tersenyum, tapi sambil melototi Tina.
“Becanda
kok papa. Emang papa kenapa sih nggak ikut?”.
“Papa
masih ada urusan kerjaan disini sayang”.
“Oh
gitu ya pa? iya deh nggak papa kok pa. eh tapi Tina bilang nggak papa ini bukan
karna Tina bisa berbuat yang tidak papa sukai kok pa, Tina nggak bakalan nakal
kok disana”, Kata Tina sambil tersenyum.
‘Janjinya
jangan tidak berbuat nakal disana aja. Tapi tidak berbuat yng tidak papa sukai
dimana saja. Janji ya, walaupun nggak ada papa yang negur. Janji ya?”.
“Iya
papa, pasti”, Tina tersenyum manis.
“Tio
juga ya?”
“Iya pa”, Tio pun tersenyum
manis.
Allahu
akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Laa ilaaha illallahu wallahu akbar, Allahu
akbar walillahilhamd. Hari kemenangan pun tlah tiba. Seusai shalat Ied,
keluarga Tina makan bersama. Setelah makan bersama, mereka memohon ampun satu
sama lain. Setelah itu, barulah Marni mempersiapkan segalanya untuk
keberangkatannya bersama anak-anaknya.
“Hati-hati
ya ma. Titip anak-anak ya”, Kata Surya seraya memeluk Marni.
“Iya
pa, papa jaga diri baik-baik ya disini, jangan telat makan oke?”.
“Iya
ma”, Surya tersenyum maniiis sekali pada istrinya. Tatapannya kini beralih pada
kedua anaknya. Surya menatap Tina lekat seraya berkata,”Tina jangan nakal
disana ya? Papa sayang kamu. Tio juga jangan nakal ya, dengerin dan turuti apa
kata mama. Papa sayang kalian”, Surya memeluk erat kedua anaknya.
Marni,
Tina, dan Tio pun berangkat dari Banjarmasin menuju kota Barabai. Hingga 3 hari
mereka berada disana, tiba-tiba Tio menangis mendatangi Marni yang tengah asyik
ngobrol dengan ibunya.
“Mama,
pulang yuk ma, Tio kangen papa”.
“Kan
besok kita pulang sayang? Tahan kangennya sehari dulu ya sayang. Telpon aja ya
papanya?”
“Nggak
mau ma, pokoknya Tio mau pulang”, Tio semakin merengek, tangisannya semakin
keras. Dengan terpaksa hari itu juga Marni beserta anak-anaknya pamit terhadap
keluarganya yang ada diBarabai.
Sesampainya
dirumah, Marni tak bisa masuk kedalam. Semua pintu rumah terkunci. Dia bingung.
Telfon Surya juga tidak bisa dihubungi, telfon rumah pun tak ada jawaban.
“Ma,
mama mencium bau sesuatu nggak?”, Tanya Tina.
“Iya,
mencium kok”.
“Eh,
bu Marni, udah pulang?”, Kata tetangga Marni yang tengah menyapu halaman
rumahnya.
“Iya
nih bu. Bu Anna tahu nggak mas Surya kemana?”, Sahut Marni.
“Nggak
tahu bu. Tengah hari idul fitri itu saya liat dia dengan temannya cowok,
sebelum masuk rumah, sempet kok negur sama saya, sejak saat itu, saya tidak
melihat lagi suami ibu”.
“Oh
begitu ya bu, makasih ya bu. Saya masuk dulu ya bu Anna”.
“Iya,
silahkan bu Marni”.
Marni
terpaksa mencari kunci serap rumahnya. Mungkin saja dia membawa. Dan
keberuntungan berpihak pada mereka. Marni menemukan kunci serap yang ada
didalam tasnya. Marni segera membuka pintu rumah.
“Ma,
bau banget nih. Kayak bau bangkai gitu”, Kata Tina sambil menutup hidung dengan
tangannya.
“Iya,
mama juga mencium kok Tin”, Sahut Marni dengan posisi tangan sedang menutup
hidung persis seperti Tina dan Tio.
“Kayaknya
sumber baunya dari dapur deh ma. Kita buka pintu dapur yuk!”.
“Iya,
yuk!”, Marni segera melangkahkan kaki menuju dapur. Dibukanya pintu dapur.
Disana telah terbaring laki-laki dengan posisi telentang. Kepalanya tertutup
oleh bantal yang biasanya ada dikursi tamu rumah Marni.
Perasaan
Marni mulai tak enak. Begitupun Tina dan Tio. Mereka segera mendekati laki-laki
tersebut. Dibenak mereka terfikir hal yang sama. Bahwa laki-laki itu berpostur
tubuh mirip sekali dengan Surya, suami Marni sekaligus papa Tina dan Tio.
Dengan tangan bergetar, Marni membuka bantal yang telah menutupi wajah
laki-laki tersebut. Hanya satu harapan Marni, itu bukanlah suaminya.
Namun
harapan Marni hanyalah sebuah harapan. Betapa terkejutnya Marni ketika melihat
wajah yang tak asing lagi dimatanya telah terbujur kaku dihadapannya. Kepalanya
berlumuran dengan darah segar. Marni sangat shock melihat itu semua. Ia hanya
bisa terdiam memandangi yang ada dihadapannya kini. Tio menangis berteriak,
hingga bu Anna dan suaminya mendatangi tempat Marni, Tina dan Tio yang tengah
tak percaya dengan yang telah mereka alami.
Dalam
sekejap, Tina dan Tio dibawa oleh bu Anna kerumahnya. Sedangkan suami bu Anna
mengurus semua yang tlah terjadi, hingga akhir pemakaman Surya.
Sejak saat itu Tina dan Tio tak
pernah lagi melihat sosok papanya. Ia hanya mendengar pengakuan dari teman
papanya yang menceritakan bagaimana papanya bisa pergi meninggalkannya.
“Saat
sore lebaran itu, Surya makan didapur rumahnya. Saat itu saya baru pulang
membeli rokok. Surya sudah menawarkan saya makan. Tapi saya beralasan untuk
merokok terlebih dahulu. Tiba-tiba, saat itu iblis membisiki saya. Memang pada
saat itu saya sangat membutuhkan uang. Saya melihat ada sepeda motor baru
dirumah Surya. Tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah linggis yang ada
disamping pintu dapur rumah Surya. Saya ambil linggis itu dan menimpakan itu
kekepala Surya dengan keras sampai tiga kali. Surya pun terjatuh, kepalanya
penuh dengan darah. Sebenarnya saya melakukan itu tak sengaja. Saya bingung
harus berbuat apa. Saya takut Surya akan melaporkan saya pada polisi. Dan saya
putuskan untuk membunu Surya dengan menutupi kepalanya dengan bantal. Setelah
itu saya kabur menggunakan sepeda motor Surya”.
Sejak
kejadian itulah, Tina telah kehilangan cerianya. Tina telah kehilangan
bahagianya. Tina merasa telah kehilangan segalanya. Dia ingin marah dengan
papanya yang tega meninggalkan dia, mama dan adiknya. Tapi papanya juga tak
bersalah. Dia ingin marah dengan teman papanya yang telah merenggut nyawa
papanya, tapi polisi telah menanganinya terlebih dahulu.
Aku tak mungkin bisa marah pada Tuhan,
Aku tak mungkin bisa marah pada papa.
Aku juga tak akan bisa marah pada diriku sendiri
yang telah meninggalkan papa sendiri pada watu itu.
Aku telah menyadari, ini memang telah takdir Tuhan
yang tertulis dan tak pernah bisa diganggu gugat.
Kehilangan papa bukan berarti aku kehilangan dia seutuhnya.
Papa tak pernah benar-benar meninggalkan Tina.
Papa hanya meninggalkan dunia fana, tapi tak pernah meninggalkan
dunia mimpi Tina.
Tina janji papa, Tina tidak akan nakal, karna sudah tidak ada
lagi yang menegur Tina.
Tina janji papa, Tina akan selalu tersenyum manis.
Tina janji papa, Tina akan membunuh sikap pemurung Tina…
Tina sayang papa, selamat jalan papa J
Aku tak mungkin bisa marah pada papa.
Aku juga tak akan bisa marah pada diriku sendiri
yang telah meninggalkan papa sendiri pada watu itu.
Aku telah menyadari, ini memang telah takdir Tuhan
yang tertulis dan tak pernah bisa diganggu gugat.
Kehilangan papa bukan berarti aku kehilangan dia seutuhnya.
Papa tak pernah benar-benar meninggalkan Tina.
Papa hanya meninggalkan dunia fana, tapi tak pernah meninggalkan
dunia mimpi Tina.
Tina janji papa, Tina tidak akan nakal, karna sudah tidak ada
lagi yang menegur Tina.
Tina janji papa, Tina akan selalu tersenyum manis.
Tina janji papa, Tina akan membunuh sikap pemurung Tina…
Tina sayang papa, selamat jalan papa J
Tina
menutup buku hariannya dengan melukiskan senyum simpul dibibirnya. Ia hanya
berharap ayahnya bisa tenang disana, dan untuk teman-temannya yang masih
memiliki seorang papa, ayah, atau abah, ia berharap mereka bisa menyayangi sang
papa dan bisa membahagiakan beliau, hanya dengan menuruti apa kata sang ayah,
papa, atau abah, beliau pasti telah terbahagiakan oleh kita – anak mereka –
Bahagiakanlah dia sebelum dia pergi meninggalkan kita J
*kisah nyata Tina Avrilya*
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar