Minggu, 03 Februari 2013

Take Care of My Heart :)


            “Aku udah nggak bisa nerusin ini semua. Ini udah jadi keputusan yang matang buat aku. Aku rasa kamu pasti senang dengan ini semua”
            “Maafin aku Fel. Maaf karna aku telah banyak menyakiti kamu. Tapi apa kamu yakin ini adalah jalan tengah dan akan jadi jalan yang terbaik? Kasih aku kesempatan sekali lagi Fel, aku mohon. Aku akan memperbaiki semuanya”, Rio memohon dengan wajah yang memelas. Penuh harap. Penuh belas kasih. Wajah laki-laki ini. Wajah pria ini. Wajah seperti inilah yang selalu membuat hatiku luluh. Yang selalu membuat aku melupakan segala kesalahannya. Segala yang telah membuat aku sakit, hancur, dan terluka.
           
“Aku rasa nggak ada lagi yang perlu diperbaiki. Semuanya sudah membuat aku terlalu sakit. Semuanya Yo! Berkali-kali kamu menyakiti aku. Aku rela Yo! Tapi untuk hal ini, aku nggak bisa maafin kamu llagi. Kamu udah hancurin kepercayaan aku. 2 tahun aku mempertahankan kamu. Meredam dan menghapus segala luka yg pernah kamu berikan, dan kini… kamu malah memperbesar luka ini Yo, sama sekali nggak pernah mengobatinya!”, Air yang tadinya ku tahan dan hanya menggenang dipelupuk mata kini mengucur deras dipipi. Aku tak tahan dengan ini semua. Jujur saja, aku tidak pernah mengungkapkan kata-kata yang baru saja terlontar itu dari lubuk hatiku yang terdalam. Aku juga tak ingin perpisahan ini terjadi. Namun disisi lain, bayang Rio bercumbu mesra dengan Gracia, adikku sendiri, selalu menghantui pikiranku. Selalu menyesakkan dadaku. Itulah yang mendorongku untuk mengatakan hal ini. Hal yang tak pernah ingin kukatakan sebelumnya. Hal yang tak pernah kuinginkan. Perpisahan dengan Rio, kekasihku.
Mentari sampai detik ini mungkin masih malu menampakkan wujudnya, padahal sudah pukul 11.00 pagi. Aku bangun kesiangan, tapi hari ini sama sekali tak terlihat siang. Sehingga aku ingin meneruskan molor lagi. Tapi sayang, niat itu gagal. Mama mengetuk pintu sekeras tenaga, mengajakku sarapan bersama. Aku melompat dari tempat tidur, mengambil peralatan mandi, dan sebelum masuk kamar mandi, ku sempatkan berteriak pada mama bahwa aku mau mandi dulu.
***
Kupandangi bayangan diriku diseberang sana. Terpampang jelas cermin itu menggambarkan bayangan diriku yang kurang sehat. Mataku sembab bekas menangis semalaman. Ini semua karena Rio. Y, lelaki itu selalu saja menyakitiku. Bahkan, sudah putus pun dia berhasil menyakitiku. Membuatku menangis lagi. Membuat wajah ini terlihat sembab lagi. Dan yang lebih parahnya lagi, pasca putus ini, dia telah menyakiti hatiku lebih sakit dari yang sebelum-sebelumnya. Heran.
            Gedoran pintu diluar kamar, membuayarkan lamunanku tentang Rio. Teriakan mama terdengar lagi,” Felicia, ayo turun, mama udah nunggu dari tadi nih”
            “Iya ma, sebentar”, Aku mengambil sisir, menyisir rambut seadanya, dan beranjak menghampiri mama. Srapan bersama mama dan Gracia. Aku sangat menyayangi keluarga ini. Aku bahagia walau tanpa seorang papa. Bahkan aku tak membutuhkan laki-laki yang tak bertanggung jawab itu. Meninggalkan mama yang masih merawatku saat aku masih berumur 3 tahun dan menggendong Gracia yang masih berumur 2 tahun.
***
            Aku menyusuri koridor kampus  dengan tatapan hampa. Yang ada difikiranku hanyallah Rio. Aku ingat waktu kemarin. Kami berjalan bersama menyusuri koridor ini. Saling tertawa, barbagi kisah maupun kasih. Ah, aku ingin menghilangkan bayang lelaki itu. Kalau bisa dia musnah saja dari permukaan bumi ini. Namun aku bukan pemilik bumi, sehingga tidak mungkin bisa menendang seseorang yang telah berpijak diplanet ini seenaknya.
            Aku tiba didepan kantin kampus tanpa sadar. Aku sudah kenyang, jadi tak ada nafsu untuk makan dikantin. Ketika akumembalikkan badan, aku bertabrakan dengan Rio. Kenapa diawal hariku harus bertemu dengannya? Ah sial. Aku mengumpat didalam hati.
            “Felicia”, Katanya, namun pelan. Aku membuang muka. Ingin cepat-cepat berlalu pergi. Saat aku ingin meninggalkannya, Rio dengan tanggap menarik tanganku, wajahnya, tatapannya. Ah…
            “Jangan sentuh tangan gue lagi. Gue mohon!”, Aku menepis genggaman Rio, berusaha membuang muka. Mengalihkan pandangan kearah ruangan Fakultas Keguruan.
            “Fel, apa lo udah melupakan gue? Secepat itu? Gue pengen balik sama lo, memperbaiki semuanya. Dan masalah yang kamu lihat kemaren itu semua hanya…”
            “Stop Yo, stop!!!”, Aku membentak Rio. Tuhan, ini pertama kali aku membentak orang yang sangat aku cintai. Aku membentaknya dengan kasar. Tapi aku memang harus melakukan itu. Dan langkah yang kuambil selanjutnya adalah melangkah meninggalkan Rio disana. Ya, aku melangkah meninggalkan Rio. Jauh dan semakin jauh. Rio masih menatapku dari belakang, hingga wujudku tertelan oleh tikungan koridor kampus.
            5 tahun berlalu sejak kejadian aku dan Rio putus. Aku memandangi gambar diriku yang tersenyum berdiri tegak bersama mama dan Gracia adikku. Disana aku mengenakan toga, mama cantiiik sekali. Foto itu diambil 3 hari yang lalu saat aku diwisuda. Aku tersenyum simpul saat mengingat percakapan aku dan Rio dulu, bahwa kalau kita lulus kuliah dan diwisuda, kita harus foto pake toga bareng. Tapi sayang, nggak kesampaian.
Pandanganku beralih ke Gracia yang tersenyum manis berdiri disampingku. aku tak pernah menanyakan padanya tentang hubungan dia dengan Rio. Aku tak ingin dia merasa bersalah denganku. Dia pun tidak pernah menceritakan Rio padaku. Perlu diklarifikasi disini, Gracia tidak tahu kalau dulu aku berpacaran dengan Rio. Dia hanya tahu Rio adalah temanku yang sering main kerumah. Mama pun tak pernah member tahu Gracia kalau Rio adalah pacarku. Dan alasan mengapa aku tak pernah member tahu Gracia, karena aku tak ingin membuat hatinya kecewa. Sejak awal aku sudah tahu kalau Gracia menyukai Rio sejak pertama kali Rio main kerumah. Rio tau hal ini, aku sudah melarang Rio untuk jangan terlalu mendekati Gracia apalagi sampai akrab dengannya. Karena Gracia tidak akan melanjutkan perasaan berlebihnya jika dia tidak mendapat respons positif dari orang yang bersangkuta. Dan difikiranku selama ini, mungkin Rio nya saja yang keganjenan dan mendekati Gracia. Jadi, biarlah aku menglah untuk Gracia yang telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Rio. Aku tak ingin Gracia merasakan pahitnya sebuah Harapan Palsu dari seorang lelaki. Dan mungkin karena Gracia lah adik satu-satunya yang aku punya yang menyebabkan aku rela mengalah dan tak pernah menyalahkan Gracia.
Aku tak dapat menyangkal, sampai detik ini aku masih merindukan sosok Rio hadir dalam bagian hariku. Menggores sebuah pena diatas lembaran hidupku yang akan membentuk cerita sederhana. Cerita yang memiliki ending bahagia. Aku menggelengkan kepala. Aku tak boleh menginginkan hal itu terulang kembali. Aku mencintai Gracia, Gracia harus mendapatkan kebahagiaannya bersama Rio.
Aku meraih gagang handphone yang sejak tadi bertengger diatas tolet make-up ku. Aku menelpon seseorang. Menelpon pria itu.
“Yo, bisa ketemu sekarang?”
“Feli, kamu beneran mau ketemu sama aku?”, Terdengar suara Rio begitu lantang. Tertangkap sinyal penuh harapan darinya. Harapan yang selama 5 tahun lalu selalu dia nyatakan padaku. Ingin kembali bersamaku lagi.
“Udahlah jangan banyak komentar. Aku tunggu kamu di warung bakso yang dulu sering kita singgahi, pukul 04.00 sore”, Tanpa mendengar jawaban darinya, aku mematikan telponnya. Aku menatap jam didinding kamar. Sudah pukul 03.00 sore. Aku segera bersiap.
***
            Aku menghirup es the manis yang sudah tinggal setengah gelas. Aku melihat sosok Rio dari arah depan warung bakso. Ingin sekali rasanya memeluk Rio. Aku sangat merindukannya Tuhan. Tapi aku harus tahan! Rio semakin dekat dan kini dia duduk disampingku.
            “Hai”, Sapanya. Tak ada panggilan ‘sayang’ diujung sapaan itu.
            “Hai”, Aku mengulangi sapaannya. Lebih tepatnya membalas sapaannya.
            “Maaf telat”.
            “Nggak kok”.
            “Ada apa say, emph, eeee… Fel?. Ah aku rindu dipanggilnya sayang. Rioooo… aku menjerit didalam hati. Ingin sekali memeluknya mesra, menyatukan jemari kami berdua, bersatu dalam cinta.
            “Aku cuma minta tolong jangan pernah kamu sakitin ade aku Gracia. Jangan pernah kamu sia-sia in dia seperti kamu menia-nyiakan aku dulu Yo. Gracia ade aku satu-satunya, aku nggak ingin liat dia nangis. Dia Cuma punya aku dan mama. Nggak punya teman diluar sana. Kamu tahu kan, dia home schooling karena penyakit yang dideritanya?”
            “Fel, maafin aku. Dengerin aku dulu Fel, dengerin penjelasan aku tentang yang kamu lihat 5 tahun lalu!”
            “Oke, aku kasih kamu kesempatan bicara 5 menit dari sekarang”.
            “Saat itu, bukan aku yang mengajak Gracia jalan ke café itu. Tapi Gracia sendiri yang menjemputku dari kampus. Mau tidak mau aku tidak bisa menolaknya, kalau aku menolaknya, aku takut terjdi apa-apa dengannya. Saat aku mengambil handphone ingin memberitahumu, dia mencegahku. Dia membawaku ke café itu. Mengatakan segalanya. Bahwa dia mencintaiku sejak pertama kali aku datang kerumahmu. Tapi dia tahu aku milikmu. Dia tidak meminta padaku untuk bermain api dibelakangmu, karna dia sangat menyayangimu. Namun dia minta satu permintaan padaku. Dan itu akan menjadi permintaan terakhirnya. Permintaan yang akan diingatnya selamanya, dan jika aku memenuhinya, dia akan berjanji melupakanku, dan jika aku tidak memenuhi permintaannya, katanya aku lah orang pertama dan terakhir yang paling menyakiti hatinya. Ya, saat itu, saat aku ingin memenuhi permintaannya, saat itu kamu muncul ke toilet itu Fel, saat aku mencium bibir Gracia ditoilet café itu”.
            Kepalaku pusing. Dunia tersa berputar bagiku. Kenapa Gracia minta itu pada Rio? Kenapa? Siapa yang mesti kusalahkan sebenarnya? Gracia? Atau Rio kah?
            “Dan perlu kamu ketahui Fel, sampai saat ini, aku dan Gracia tidak pernah berhubungan lagi. Seiring dengan ketidakhadiran aku lagi kerumahmu, dia pun tidak pernah menghubungiku melalui telpon selular”.
            “Tinggalin aku sendiri Yo, aku perlu sendiri”.
            “Fel, sudah terlalu lama aku meninggalkan kamu sendiri. Aku ingin bersama kamu Fel, aku tidak ingin meninggalkanmu!”.
            “Sudah aku tegaskan Yo, aku pengen sendiri”, Aku beranjak dari dudukku, meninggalkan uang sepuluh ribuan diatas meja warung bakso tersebut, lalu berlari meninggalkan Rio. Aku tahu Rio mengejarku. Dan, Braak!! Suara benturan keras terdengar olehku. Aku menoleh kebelakang. Rio tergeletak tak berdaya diaspal hitam legam itu, kepalanya mengucurkan darah segar. Aku tak percaya dengan semua yang kulihat. Aku terpaku beberapa saat. Sirene ambulance dalam sekejap datang ke tempat kejadian peristiwa itu. Beberapa perawat yang turun dari ambulance tersebut, dengan sigap memasukkan Rio kedalam mobil tersebut.
            Aku tidak sempat naik kedalam ambulance itu, aku berlari dan terus berlari mengejar ambulance yang membawa Rio. Namun, suara sirene perlahan makin meredup dipendengaranku. Aku tau aku tertinggal. Aku melngkah gontai. Menunduk. Kembali kewarung bakso untuk mengambil mobilku. Aku ingin menyusul Rio. Tapi, braaak!!! Aku merasa ada yang menabrakku. Orangorang yang sepertinya mabuk. Dan setelah mereka melarikan diri, aku tak ingat apa-apa lagi saat itu.
***
            Aku membuka mataku. Semua ruangan putih. Aku piker aku disurga. Tapi aku melihat mama disampingku.
            “Mama”, aku mencoba membuka suara.
            “Felicia, kamu udah sadar?”, Kata mama membelai lembut rambutku.
            “Aku ada dimana ma?”
            “Dirumah sakit sayang, kamu korban tabrak lari”
            “Mama sendirian?”
            “Tidak. Bersama Gras”
            “Dimana dia?”, Mataku menyapu seluruh ruangan. Tak terlihat sosok Gras, hanya ada aku dan mama.
            “Dia menjenguk Rio. Rio kecelakaan. Kamu tahu?”
            Deg! Rio! Bgaimana keadaan Rio sekarang? Fikirku. Aku ingat semua kejadian itu. Aku ingin bangun, ingin menemui Rio. Tapi…
            “Kamu mau kemana Fel?”, Kata mama dengan nada suara khawatir.
            “Ingin menjenguk Rio ma, tapi, kok…”
            “Feli, kamu nggak boleh banyak bergerak dulu, nanti saja ya jenguk Rio nya”
            “Kaki Feli ma, kaki Feli!”
            Mama mengusap matanya yang berair menggenang dipelupuk matanya.
            “Kenapa nggak dibiarin jatoh aja air matanya ma? Apa sebenarnya yang terjadi ma?”
            ‘Urat saraf dikakimu putus Fel, kakimu tergilas motor yang menabrak kamu. Kamu lumpuh Fel”, kata mama terbata-bata mengucpkan kata lumpuh itu.
            Tuhaaan, cobaan apa lagi ini? Bathinku. Aku tidak bolehkelihatan lemah dihadapan mama. Semakin terlihat lemahnya aku, semakin aku menggoreskan luka dihati mama. Aku mencoba tersenyum. Mengusap air mata mama. Mengisyaratkan aku baik-baik saja dengan semua ini.
            Sudah 2 hari aku menginap dirumah sakit. Garcia terlihat sangat murung, tidak terlihat gairah hidup yang selama ini ia pancarkan. Mama, ya, mama terlihat lelah. Terlihat lingkaran hitam dikantung matanya.
            “Gras”, Panggilku pada Gracia. Gracia mendekatiku.
            “Semangat dong”, Kataku lagi padanya.
            “Rio sampai sekarang tak sadarkan diri kak. Dia sepertinya akan mengalami kebutaan kata dokter. Otak belakangnya terbentur keras, hingga Lobus oksipitalis yang mengatur penglihatannya tak berfungsi lagi”, Terlihat raut muka murung diguratan wajah Gracia. Aku mengerti sekarang. Dia seperti ini karena hal itu. Sekarang aku mengerti, semangat hidup Gracia itu terpancardari hadirnya Rio dimuka bumi ini. Aku mengerti apa yang harus kulakukan.
***
            Aku tersenyum melihat Gracia tersenyum bahagia. Tiada lagi diwajahnya terlihat gurat kesedihan, kesakitan, penderitaan. Aku bahagia melihat mama tersenyum menampakkan gignya yang putih berjejer rapi. Mama berdiri disamping Gracia. 2 wanita yang sangat aku cintai itu cantik sekali.Tak pernah aku lihat mama dan Gracia tesenyum sepuas itu. Aku bahagia dengan semua yang aku lihat. Aku bangga bisa membahagiakan mereka yang aku cintai meskipun aku tak ikut tertawa bersama mereka dialam yang sama. Tapi aku akan selalu tertawa bersama mereka. Disamping mereka.
            Rio. Ya, Rio. Satu-satunya lelaki yang aku cintai. Dia tersenyum bahagia disamping Gracia. Matanya tidak buta. Ya, aku bersyukur pada Allah karena tidak membiarkan dunia Rioku gelap.
            Kini mama, Gras, dan Rio ada dirumahku. Mereka mengunjungiku. Betapa senangnya aku kedatangan mereka. Ingin sekali aku memeluk mereka. Namun aku mesti mengurungkan keinginanku beribu-ribu tahun lagi atau bahkan milyaran tahun lagi. Kulihat mama mengusap air matanya. Dia merogoh tasnya dan menyerahkan selembar amplop pada Rio.
            “Baca, untuk kalian berdua dari Felicia”, Kata mama seraya berdiri meninggalkan rumahku. Rio yang menerima benda dari mama tersebut heran. Namun segera dibukanya ditempat itu juga. Gracia merapatkan posisinya lebih dekat ke Rio. Mereka membaca bersam isi surat itu.
            Dear Rio ku dan Gracia ku yang sangat ku cintai J
Hai kalian yang kini sedang berbahagia, senang rasanya melihat kalian tersenyum. Maaf ya nggak bisa ikut senyum sama-sama kalian :’)
Oiya yo, Rio ku sayang… aku sayang sama kamu. Sama besarnya aku menyayangi keluargaku sendiri. Rio ku sayang, maafin atas kelakuan Felicia sama Rio 5 tahun terakhir ini ya.
Rio sayang, maaf, Felicia ninggalin Rio. Felicia melakukan ini semua demi kebaikan semuanya. Felis nggak mau membiarkan Rio menghabiskan sisa nafas Rio dalam gelapnya dunia. Kalau Felis membiarkan Rio hidup dalam kebutaan, lalu kita menikah, apa untungnya kita? Felis divonis lumpuh, dan Rio buta. Kita tidak akan bisa bahagia. Meskipun kita akan bahagia, tapi bagaimana dengan keluarga kita?
Maka dari itu cintaku Rio, aku mendonorkan mataku untuk kamu. Agar kamu bisa melihat dunia lebih luas lagi, melihat cinta yang lebih besar dari yang pernah kamu lihat sebelumnya.
Untuk Gracia adikku sayang, kakak tahu kamu sangat ingin mengetahui arti bahagia sesungguhnya. Dan inilah saatnya kakak membahagiakanmu. Maafkan jika hanya dengan cara ini kamu daapat berbahagia sayang…kakak mendonorkan hati kakak untuk kamu. Supaya kamu jangan sakit-sakit lagi, supaya kamu bisa tersenyum setiap hari.
Garcia sayang, jaga hati kita baik-baik ya. Tidak ada perbedaan kok antara hati kita sayang J kita sama-sama mencintai mama, dan sama-sama mencintai Rio J kaka harap, Rio dapat mencintai kamu dan membahagiakan kamu ya sayang J
Buat Rio dan Gras ku, jaga mama baik-baik ya. Jangan biarkan dia terluka :’) Felis sayang kalian. jangan anggap Felis udah mati ya. Felis masih hidup kok dihati kalian semua :')
Felicia :’)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar