“Aku udah nggak bisa nerusin ini semua. Ini udah jadi
keputusan yang matang buat aku. Aku rasa kamu pasti senang dengan ini semua”
“Maafin aku Fel. Maaf karna aku telah banyak menyakiti
kamu. Tapi apa kamu yakin ini adalah jalan tengah dan akan jadi jalan yang
terbaik? Kasih aku kesempatan sekali lagi Fel, aku mohon. Aku akan memperbaiki
semuanya”, Rio memohon dengan wajah yang memelas. Penuh harap. Penuh belas
kasih. Wajah laki-laki ini. Wajah pria ini. Wajah seperti inilah yang selalu
membuat hatiku luluh. Yang selalu membuat aku melupakan segala kesalahannya.
Segala yang telah membuat aku sakit, hancur, dan terluka.
“Aku rasa nggak ada lagi yang perlu diperbaiki. Semuanya sudah membuat aku terlalu sakit. Semuanya Yo! Berkali-kali kamu menyakiti aku. Aku rela Yo! Tapi untuk hal ini, aku nggak bisa maafin kamu llagi. Kamu udah hancurin kepercayaan aku. 2 tahun aku mempertahankan kamu. Meredam dan menghapus segala luka yg pernah kamu berikan, dan kini… kamu malah memperbesar luka ini Yo, sama sekali nggak pernah mengobatinya!”, Air yang tadinya ku tahan dan hanya menggenang dipelupuk mata kini mengucur deras dipipi. Aku tak tahan dengan ini semua. Jujur saja, aku tidak pernah mengungkapkan kata-kata yang baru saja terlontar itu dari lubuk hatiku yang terdalam. Aku juga tak ingin perpisahan ini terjadi. Namun disisi lain, bayang Rio bercumbu mesra dengan Gracia, adikku sendiri, selalu menghantui pikiranku. Selalu menyesakkan dadaku. Itulah yang mendorongku untuk mengatakan hal ini. Hal yang tak pernah ingin kukatakan sebelumnya. Hal yang tak pernah kuinginkan. Perpisahan dengan Rio, kekasihku.
Mentari
sampai detik ini mungkin masih malu menampakkan wujudnya, padahal sudah pukul
11.00 pagi. Aku bangun kesiangan, tapi hari ini sama sekali tak terlihat siang.
Sehingga aku ingin meneruskan molor lagi.
Tapi sayang, niat itu gagal. Mama mengetuk pintu sekeras tenaga, mengajakku
sarapan bersama. Aku melompat dari tempat tidur, mengambil peralatan mandi, dan
sebelum masuk kamar mandi, ku sempatkan berteriak pada mama bahwa aku mau mandi
dulu.
***
Kupandangi
bayangan diriku diseberang sana. Terpampang jelas cermin itu menggambarkan
bayangan diriku yang kurang sehat. Mataku sembab bekas menangis semalaman. Ini
semua karena Rio. Y, lelaki itu selalu saja menyakitiku. Bahkan, sudah putus
pun dia berhasil menyakitiku. Membuatku menangis lagi. Membuat wajah ini
terlihat sembab lagi. Dan yang lebih parahnya lagi, pasca putus ini, dia telah
menyakiti hatiku lebih sakit dari yang sebelum-sebelumnya. Heran.
Gedoran pintu diluar kamar, membuayarkan lamunanku
tentang Rio. Teriakan mama terdengar lagi,” Felicia, ayo turun, mama udah
nunggu dari tadi nih”
“Iya ma, sebentar”, Aku mengambil sisir, menyisir rambut
seadanya, dan beranjak menghampiri mama. Srapan bersama mama dan Gracia. Aku
sangat menyayangi keluarga ini. Aku bahagia walau tanpa seorang papa. Bahkan
aku tak membutuhkan laki-laki yang tak bertanggung jawab itu. Meninggalkan mama
yang masih merawatku saat aku masih berumur 3 tahun dan menggendong Gracia yang
masih berumur 2 tahun.
***
Aku menyusuri koridor kampus dengan tatapan hampa. Yang ada difikiranku
hanyallah Rio. Aku ingat waktu kemarin. Kami berjalan bersama menyusuri koridor
ini. Saling tertawa, barbagi kisah maupun kasih. Ah, aku ingin menghilangkan
bayang lelaki itu. Kalau bisa dia musnah saja dari permukaan bumi ini. Namun
aku bukan pemilik bumi, sehingga tidak mungkin bisa menendang seseorang yang
telah berpijak diplanet ini seenaknya.
Aku tiba didepan kantin kampus tanpa sadar. Aku sudah
kenyang, jadi tak ada nafsu untuk makan dikantin. Ketika akumembalikkan badan,
aku bertabrakan dengan Rio. Kenapa diawal
hariku harus bertemu dengannya? Ah sial. Aku mengumpat didalam hati.
“Felicia”, Katanya, namun pelan. Aku membuang muka. Ingin
cepat-cepat berlalu pergi. Saat aku ingin meninggalkannya, Rio dengan tanggap
menarik tanganku, wajahnya, tatapannya. Ah…
“Jangan sentuh tangan gue lagi. Gue mohon!”, Aku menepis
genggaman Rio, berusaha membuang muka. Mengalihkan pandangan kearah ruangan
Fakultas Keguruan.
“Fel, apa lo udah melupakan gue? Secepat itu? Gue pengen
balik sama lo, memperbaiki semuanya. Dan masalah yang kamu lihat kemaren itu
semua hanya…”
“Stop Yo, stop!!!”, Aku membentak
Rio. Tuhan, ini pertama kali aku membentak orang yang sangat aku cintai. Aku
membentaknya dengan kasar. Tapi aku memang harus melakukan itu. Dan langkah
yang kuambil selanjutnya adalah melangkah meninggalkan Rio disana. Ya, aku
melangkah meninggalkan Rio. Jauh dan semakin jauh. Rio masih menatapku dari
belakang, hingga wujudku tertelan oleh tikungan koridor kampus.
5 tahun berlalu sejak kejadian aku dan Rio putus. Aku
memandangi gambar diriku yang tersenyum berdiri tegak bersama mama dan Gracia
adikku. Disana aku mengenakan toga, mama cantiiik sekali. Foto itu diambil 3
hari yang lalu saat aku diwisuda. Aku tersenyum simpul saat mengingat
percakapan aku dan Rio dulu, bahwa kalau kita lulus kuliah dan diwisuda, kita
harus foto pake toga bareng. Tapi sayang, nggak kesampaian.
Pandanganku
beralih ke Gracia yang tersenyum manis berdiri disampingku. aku tak pernah
menanyakan padanya tentang hubungan dia dengan Rio. Aku tak ingin dia merasa
bersalah denganku. Dia pun tidak pernah menceritakan Rio padaku. Perlu
diklarifikasi disini, Gracia tidak tahu kalau dulu aku berpacaran dengan Rio.
Dia hanya tahu Rio adalah temanku yang sering main kerumah. Mama pun tak pernah
member tahu Gracia kalau Rio adalah pacarku. Dan alasan mengapa aku tak pernah
member tahu Gracia, karena aku tak ingin membuat hatinya kecewa. Sejak awal aku
sudah tahu kalau Gracia menyukai Rio sejak pertama kali Rio main kerumah. Rio
tau hal ini, aku sudah melarang Rio untuk jangan terlalu mendekati Gracia
apalagi sampai akrab dengannya. Karena Gracia tidak akan melanjutkan perasaan
berlebihnya jika dia tidak mendapat respons positif dari orang yang
bersangkuta. Dan difikiranku selama ini, mungkin Rio nya saja yang keganjenan
dan mendekati Gracia. Jadi, biarlah aku menglah untuk Gracia yang telah jatuh
cinta pada pandangan pertama dengan Rio. Aku tak ingin Gracia merasakan pahitnya
sebuah Harapan Palsu dari seorang lelaki. Dan mungkin karena Gracia lah adik
satu-satunya yang aku punya yang menyebabkan aku rela mengalah dan tak pernah
menyalahkan Gracia.
Aku tak
dapat menyangkal, sampai detik ini aku masih merindukan sosok Rio hadir dalam
bagian hariku. Menggores sebuah pena diatas lembaran hidupku yang akan
membentuk cerita sederhana. Cerita yang memiliki ending bahagia. Aku
menggelengkan kepala. Aku tak boleh menginginkan hal itu terulang kembali. Aku
mencintai Gracia, Gracia harus mendapatkan kebahagiaannya bersama Rio.
Aku
meraih gagang handphone yang sejak tadi bertengger diatas tolet make-up ku. Aku
menelpon seseorang. Menelpon pria itu.
“Yo,
bisa ketemu sekarang?”
“Feli,
kamu beneran mau ketemu sama aku?”, Terdengar suara Rio begitu lantang.
Tertangkap sinyal penuh harapan darinya. Harapan yang selama 5 tahun lalu
selalu dia nyatakan padaku. Ingin kembali bersamaku lagi.
“Udahlah
jangan banyak komentar. Aku tunggu kamu di warung bakso yang dulu sering kita
singgahi, pukul 04.00 sore”, Tanpa mendengar jawaban darinya, aku mematikan
telponnya. Aku menatap jam didinding kamar. Sudah pukul 03.00 sore. Aku segera
bersiap.
***
Aku menghirup es the manis yang sudah tinggal setengah
gelas. Aku melihat sosok Rio dari arah depan warung bakso. Ingin sekali rasanya
memeluk Rio. Aku sangat merindukannya Tuhan. Tapi aku harus tahan! Rio semakin
dekat dan kini dia duduk disampingku.
“Hai”, Sapanya. Tak ada panggilan ‘sayang’ diujung sapaan
itu.
“Hai”, Aku mengulangi sapaannya. Lebih tepatnya membalas
sapaannya.
“Maaf telat”.
“Nggak kok”.
“Ada apa say, emph, eeee… Fel?. Ah aku rindu dipanggilnya
sayang. Rioooo… aku menjerit didalam
hati. Ingin sekali memeluknya mesra, menyatukan jemari kami berdua, bersatu
dalam cinta.
“Aku cuma minta tolong jangan pernah kamu sakitin ade aku
Gracia. Jangan pernah kamu sia-sia in dia seperti kamu menia-nyiakan aku dulu
Yo. Gracia ade aku satu-satunya, aku nggak ingin liat dia nangis. Dia Cuma
punya aku dan mama. Nggak punya teman diluar sana. Kamu tahu kan, dia home
schooling karena penyakit yang dideritanya?”
“Fel, maafin aku. Dengerin aku dulu Fel, dengerin
penjelasan aku tentang yang kamu lihat 5 tahun lalu!”
“Oke, aku kasih kamu kesempatan bicara 5 menit dari
sekarang”.
“Saat itu, bukan aku yang mengajak Gracia jalan ke café
itu. Tapi Gracia sendiri yang menjemputku dari kampus. Mau tidak mau aku tidak
bisa menolaknya, kalau aku menolaknya, aku takut terjdi apa-apa dengannya. Saat
aku mengambil handphone ingin memberitahumu, dia mencegahku. Dia membawaku ke
café itu. Mengatakan segalanya. Bahwa dia mencintaiku sejak pertama kali aku
datang kerumahmu. Tapi dia tahu aku milikmu. Dia tidak meminta padaku untuk
bermain api dibelakangmu, karna dia sangat menyayangimu. Namun dia minta satu
permintaan padaku. Dan itu akan menjadi permintaan terakhirnya. Permintaan yang
akan diingatnya selamanya, dan jika aku memenuhinya, dia akan berjanji
melupakanku, dan jika aku tidak memenuhi permintaannya, katanya aku lah orang
pertama dan terakhir yang paling menyakiti hatinya. Ya, saat itu, saat aku
ingin memenuhi permintaannya, saat itu kamu muncul ke toilet itu Fel, saat aku
mencium bibir Gracia ditoilet café itu”.
Kepalaku pusing. Dunia tersa berputar bagiku. Kenapa
Gracia minta itu pada Rio? Kenapa? Siapa yang mesti kusalahkan sebenarnya?
Gracia? Atau Rio kah?
“Dan perlu kamu ketahui Fel, sampai saat ini, aku dan
Gracia tidak pernah berhubungan lagi. Seiring dengan ketidakhadiran aku lagi
kerumahmu, dia pun tidak pernah menghubungiku melalui telpon selular”.
“Tinggalin aku sendiri Yo, aku perlu sendiri”.
“Fel, sudah terlalu lama aku meninggalkan kamu sendiri.
Aku ingin bersama kamu Fel, aku tidak ingin meninggalkanmu!”.
“Sudah aku tegaskan Yo, aku pengen sendiri”, Aku beranjak
dari dudukku, meninggalkan uang sepuluh ribuan diatas meja warung bakso
tersebut, lalu berlari meninggalkan Rio. Aku tahu Rio mengejarku. Dan, Braak!!
Suara benturan keras terdengar olehku. Aku menoleh kebelakang. Rio tergeletak
tak berdaya diaspal hitam legam itu, kepalanya mengucurkan darah segar. Aku tak
percaya dengan semua yang kulihat. Aku terpaku beberapa saat. Sirene ambulance
dalam sekejap datang ke tempat kejadian peristiwa itu. Beberapa perawat yang
turun dari ambulance tersebut, dengan sigap memasukkan Rio kedalam mobil
tersebut.
Aku tidak sempat naik kedalam ambulance itu, aku berlari
dan terus berlari mengejar ambulance yang membawa Rio. Namun, suara sirene
perlahan makin meredup dipendengaranku. Aku tau aku tertinggal. Aku melngkah
gontai. Menunduk. Kembali kewarung bakso untuk mengambil mobilku. Aku ingin
menyusul Rio. Tapi, braaak!!! Aku merasa ada yang menabrakku. Orangorang yang
sepertinya mabuk. Dan setelah mereka melarikan diri, aku tak ingat apa-apa lagi
saat itu.
***
Aku membuka mataku. Semua ruangan putih. Aku piker aku
disurga. Tapi aku melihat mama disampingku.
“Mama”, aku mencoba membuka suara.
“Felicia, kamu udah sadar?”, Kata mama membelai lembut
rambutku.
“Aku ada dimana ma?”
“Dirumah sakit sayang, kamu korban tabrak lari”
“Mama sendirian?”
“Tidak. Bersama Gras”
“Dimana dia?”, Mataku menyapu seluruh ruangan. Tak
terlihat sosok Gras, hanya ada aku dan mama.
“Dia menjenguk Rio. Rio kecelakaan. Kamu tahu?”
Deg! Rio! Bgaimana
keadaan Rio sekarang? Fikirku. Aku ingat semua kejadian itu. Aku ingin
bangun, ingin menemui Rio. Tapi…
“Kamu mau kemana Fel?”, Kata mama dengan nada suara
khawatir.
“Ingin menjenguk Rio ma, tapi, kok…”
“Feli, kamu nggak boleh banyak bergerak dulu, nanti saja
ya jenguk Rio nya”
“Kaki Feli ma, kaki Feli!”
Mama mengusap matanya yang berair menggenang dipelupuk
matanya.
“Kenapa nggak dibiarin jatoh aja air matanya ma? Apa
sebenarnya yang terjadi ma?”
‘Urat saraf dikakimu putus Fel, kakimu tergilas motor
yang menabrak kamu. Kamu lumpuh Fel”, kata mama terbata-bata mengucpkan kata
lumpuh itu.
Tuhaaan, cobaan apa
lagi ini? Bathinku. Aku tidak bolehkelihatan lemah dihadapan mama. Semakin
terlihat lemahnya aku, semakin aku menggoreskan luka dihati mama. Aku mencoba
tersenyum. Mengusap air mata mama. Mengisyaratkan aku baik-baik saja dengan
semua ini.
Sudah 2 hari aku menginap dirumah sakit. Garcia terlihat
sangat murung, tidak terlihat gairah hidup yang selama ini ia pancarkan. Mama,
ya, mama terlihat lelah. Terlihat lingkaran hitam dikantung matanya.
“Gras”, Panggilku pada Gracia. Gracia mendekatiku.
“Semangat dong”, Kataku lagi padanya.
“Rio sampai sekarang tak sadarkan diri kak. Dia
sepertinya akan mengalami kebutaan kata dokter. Otak belakangnya terbentur
keras, hingga Lobus oksipitalis yang mengatur penglihatannya tak berfungsi lagi”,
Terlihat raut muka murung diguratan wajah Gracia. Aku mengerti sekarang. Dia
seperti ini karena hal itu. Sekarang aku mengerti, semangat hidup Gracia itu
terpancardari hadirnya Rio dimuka bumi ini. Aku mengerti apa yang harus
kulakukan.
***
Aku tersenyum melihat Gracia tersenyum bahagia. Tiada
lagi diwajahnya terlihat gurat kesedihan, kesakitan, penderitaan. Aku bahagia
melihat mama tersenyum menampakkan gignya yang putih berjejer rapi. Mama
berdiri disamping Gracia. 2 wanita yang sangat aku cintai itu cantik sekali.Tak
pernah aku lihat mama dan Gracia tesenyum sepuas itu. Aku bahagia dengan semua
yang aku lihat. Aku bangga bisa membahagiakan mereka yang aku cintai meskipun
aku tak ikut tertawa bersama mereka dialam yang sama. Tapi aku akan selalu tertawa
bersama mereka. Disamping mereka.
Rio. Ya, Rio. Satu-satunya lelaki yang aku cintai. Dia
tersenyum bahagia disamping Gracia. Matanya tidak buta. Ya, aku bersyukur pada
Allah karena tidak membiarkan dunia Rioku gelap.
Kini mama, Gras, dan Rio ada dirumahku. Mereka
mengunjungiku. Betapa senangnya aku kedatangan mereka. Ingin sekali aku memeluk
mereka. Namun aku mesti mengurungkan keinginanku beribu-ribu tahun lagi atau
bahkan milyaran tahun lagi. Kulihat mama mengusap air matanya. Dia merogoh
tasnya dan menyerahkan selembar amplop pada Rio.
“Baca, untuk kalian berdua dari Felicia”, Kata mama
seraya berdiri meninggalkan rumahku. Rio yang menerima benda dari mama tersebut
heran. Namun segera dibukanya ditempat itu juga. Gracia merapatkan posisinya
lebih dekat ke Rio. Mereka membaca bersam isi surat itu.
Dear Rio ku dan Gracia ku yang sangat ku cintai J
Hai kalian yang kini sedang
berbahagia, senang rasanya melihat kalian tersenyum. Maaf ya nggak bisa ikut
senyum sama-sama kalian :’)
Oiya yo, Rio ku sayang… aku
sayang sama kamu. Sama besarnya aku menyayangi keluargaku sendiri. Rio ku
sayang, maafin atas kelakuan Felicia sama Rio 5 tahun terakhir ini ya.
Rio sayang, maaf, Felicia
ninggalin Rio. Felicia melakukan ini semua demi kebaikan semuanya. Felis nggak
mau membiarkan Rio menghabiskan sisa nafas Rio dalam gelapnya dunia. Kalau
Felis membiarkan Rio hidup dalam kebutaan, lalu kita menikah, apa untungnya
kita? Felis divonis lumpuh, dan Rio buta. Kita tidak akan bisa bahagia.
Meskipun kita akan bahagia, tapi bagaimana dengan keluarga kita?
Maka dari itu cintaku Rio, aku
mendonorkan mataku untuk kamu. Agar kamu bisa melihat dunia lebih luas lagi,
melihat cinta yang lebih besar dari yang pernah kamu lihat sebelumnya.
Untuk Gracia adikku sayang,
kakak tahu kamu sangat ingin mengetahui arti bahagia sesungguhnya. Dan inilah
saatnya kakak membahagiakanmu. Maafkan jika hanya dengan cara ini kamu daapat
berbahagia sayang…kakak mendonorkan hati kakak untuk kamu. Supaya kamu jangan
sakit-sakit lagi, supaya kamu bisa tersenyum setiap hari.
Garcia sayang, jaga hati kita
baik-baik ya. Tidak ada perbedaan kok antara hati kita sayang J kita sama-sama mencintai mama, dan sama-sama
mencintai Rio J kaka harap, Rio dapat
mencintai kamu dan membahagiakan kamu ya sayang J
Buat Rio dan Gras ku, jaga mama
baik-baik ya. Jangan biarkan dia terluka :’) Felis sayang kalian. jangan anggap Felis udah mati ya. Felis masih hidup kok dihati kalian semua :')
Felicia :’)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar