Aku menatap lelaki
yang ada dihadapanku saat ini. Manis, terlihat banyak cinta dan ketulusan saat
dia menatapku, berbicara padaku, tersenyum untukku, dan sgalanya yang tlah dia
lakukan untukku. Kini dia sedang menjelaskan tentang titrasi asam basa. Entahlah,
aku tak mengerti pelajaran ini. Aku membenci kimia. Tapi aku berada dikelas
ipa. Sebenarnya aku ingin masuk jurusan bahasa disekolah ini. Tapi sayang,
angkatan kami, kelas Bahasa ditutup karena peminatnya sedikit. Terpaksa aku
harus masuk kelas Ipa.
Kembali
ke Jerry, ya, Jerry sedang mengajariku tentang pelajaran yang sangat
memusingkan ini. Sebentar lagi Ujian Nasional akan dilaksanakan. Terpaksa aku
harus mempelajari pelajaran-pelajaran yang tak aku mengerti seperti ini
semaksimal mungkin. Melihat Jerry mengajariku, aku jadi teringat Billy yang
dengan sabar dan telatennya membimbingku agar aku bisa paham dengan pelajaran
yang tak aku mengerti. Biasanya sekali-sekali Billy meraih tanganku dan
menciumnya ketika aku masih tak mengerti dengan apa yang dijelaskannya. Ah… aku
merindukan Billy yang mengajariku.
“Naah begini Ra, dapat deh hasilnya, jadi, konsentrasi larutan HCl nya adalah 0,125. Ngerti nggak sayang?”, Tiba-tiba Jerry memecahkan lamunanku. Aku melirik Jerry, lalu beralih kebuku yang penuh dengan coretan, reflex aku menggaruk kepala,”Aku ngerti kok kamu belum paham kan dengan apa yang aku jelasin barusan?”
“Hehe,
iya”, Jawabku seraya menggaruk kepala sekali lagi dan tak ketinggalan nyengir
kuda. Duuuuhh betapa tololnya aku masih memikirkan Billy disaat aku bersama
Jerry. Aku sudah milik Jerry. Aku tak boleh memikirkan Billy. Dia masa lalu ku!
“Oke,
perhatikan ya. Aku jelasin sekali lagi”, Jerry kembali melabuhkan pensilnya ke
buku yang tanpa coretan seperti tadi. Dia kembali berujar,”Pertama-tama, kita
cari volume rata-rata larutan HCl dan NaOH nya…”. Aku berusaha memperhatikan
dan mendengarkannya. Tiba-tiba, ada suara yang sudah tak asing lagi terdengar
memanggilku.
“Ikut
dong belajarnya, nggak ngajak-ngajak nih Tiara. Mentang-mentang udah pacaran,
belajar sama Jerry nya dua-duaan. Uuuhhh”, Cerocos Risna asal.
“Hehe,
sorry, lo kan tadi lagi makan”
“Kan
udah selese makannya?”
“Ya
udah, kalo udah selese, duduk sini, dengerin”, Aku menggeser dudukku untuk
Risna. Risna duduk manis, memperhatikan Jerry menjelaskan. Sangat serius. Aku
pun mau tidak mau harus ikut serius.
***
Sudah
tiga bulan aku berpacaran dengan Jerry. Jujur sampai saat ini aku masih tak
bisa menerima Jerry sepenuhnya untuk bisa menggantikan posisi Billy dihatiku.
Apalagi aku juga setiap hari melihat Billy disekolah. Senyum yang diberikannya
padaku, masih sama seperti senyum yang dulu. Bahkan dia sering mengatakan
padaku aku harus menyayangi keping mutiaraku, jangan sampai jatuh tak berguna
seperti dulu aku menjatuhkannya karena dia. Tuhan, padahal aku ikhlas menangis
karenanya. Air mata yang baginya keping mutiara ini terjatuh karenanya itu
adalah bukti padanya bahwa aku sangat mencintainya dan tak ingin kehilangannya.
Aku
teringat besok adalah hari ulang tahun Risna. Aku menepuk jidatku. Segera ku
raih handphone yang bertengger diatas kasurku.
“Halo
Jer, kamu bisa bantuin aku nggak?”’
“Insya
Allah buat kamu pasti bisa sayang, minta bantu apa?”
“Temenein
aku ke Gramedia ya? Aku mau beliin novel buat Risna, besok dia ulang tahun.
Kamu nggak sibuk kan?”
“Ok
deh sayang, bisa kok, wait me about twenty minutes hun, muah”, Jerry mematikan
telfonnya.
Jerry
selalu menuruti apa inginku. Jarang sekali dalam hubungan kami terjadi
pertengkaran. Memang tak seperti hubunganku dengan Billy dahulu yang sering
dihiasi dengan perselisihan antara hubungan kami. Sementara Jerry, dia selalu
mengertikan aku, menuruti keinginanku selagi dia mampu untuk memenuhinya. Tapi
Billy masih saja tak dapat tergantikan. Hanya hatiku yang dapat menjawabnya
mengapa aku selalu memaafkan dan selalu mencintai Billy.
Deru
scoopynya Jerry sudah terdengar diluar rumahku. Aku segera keluar rumah dan
langsung menaiki scoopy hitam Jerry.
“Kamu
mau kuliah dimana sih nantinya Jer?”, Kataku seraya mengambil buku Jurus Jitu
Lulus SNMPTN.
“Kamu
maunya aku jadi apa?”, Jerry bertanya balik.
‘Hmm,
yakin aku jadi pendamping hidup kamu nih?”
Jerry
terdiam tak menyahut. Ya Tuhan,
perkataanku tadi mungkin menggoreskan luka lagi dihatinya. Maafkan aku Tuhan,
aku slalu menyakiti lelaki yang tulus ini. Bathinku tak tega melihat
perubahan ekspresi Jerry.
“Insya
Alah kalo Allah ngizinin dan kamu mau nerima aku”, Suara Jerry terdengar serak.
“Amiiin”,
Jawabku tak banyak. Aku tak mau perkataan-perkataanku menyakitinya lagi.
Setelah
membayar buku-buku belanjaan, Jerry segera mengantarku kerumah. Jerry tak
banyak mengeluarkan suara setelah percakapan yang berlangsung di Gramedia tadi.
Aku sungguh merasa bersalah pada Jerry.
Sekeras
mungkin aku harus bisa melupakan Billy. Terlalu jahat ketika aku selau
memikirkan dan merindukan Billy saat berada disamping Jerry. Jerry tak bersalah
apa-apa dalam masalah ini. Tapi selalu dia yang tersakiti. Aku juga mengerti
Billy sakit saat melihatku berdua dengan Jerry disekolah. Tapi aku harus bagaimana?
Billy sendiri yang menyatukanku dengan Jerry sewaktu dirumah sakit. Mau tidak
mau, Billy harus tersenyum pada kami bila dia melihat kami sedang berdua.
***
“Aku
suapin ya”, Jerry menyodorkan sesendok sop ke mulutku.
“Ini
kantin. Malu sama temen-temen Jer”
“Kita
kan pacaran, nggak papa kan? Temen-temen pada tahu kok”, Daripada aku menyakiti
Jerry lagi, aku suap saja makanan itu. Bersamaan dengan aku menyuap makanan
itu, teman-teman langsung men-cie-cie-kan kami. Sebenarnya aku sangat malu.
Tapi perasaan malu ku tidak seberapa dengan perasaan Jerry kalau aku menambah
sakit dihatinya lagi. Diantara teman-teman yang menyoraki kami tadi, ternyata
terdapat sosok Billy disana. Aku melihat Billy makan bersama teman-temannya.
Saat aku memperhatikannya, tiba-tiba Billy menangkap mataku yang sedang
memperhatikannya. Dia tersenyum padaku. Aku pun tersenyum untuknya. Mata kami
saling berpandangan sekitar 30 detik, pandangan kami buyar ketika Jerry
menyodorkan sesendok sop lagi padaku.
Ah,
aku tidak bisa terus seperti ini. Aku tidak bisa melupakan Billy. Aku pun tidak
bisa menerima dan membahagiakan Jerry. Aku harus menghentikan ini semua. Aku
egois, Jerry dan Billy malah tersakiti karena keegoisanku. Aku beranjak dari
dudukku. Sesendok sop yang tadinya disodorkan Jerry untukku tumpah dimeja
kantin. Aku tak peduli. Air mata tiba-tiba saja menggenangi pelupuk mataku. Aku
berusaha keluar dari kantin agar Billy dan Jerry tak melihat air mata ini. Tapi
ternyata Billy mengenaliku lebih dalam. Dia tahu aku menangis. Dia mengejarku
terlebih dahulu dari Jerry.
“Tiara,
Tiara, lo kenapa nangis?”,Terdengar suara Billy memanggil-manggilku dari
belakang.
“Tiara,
sayang”, Suara Jerry pun juga terdengar olehku. Suaranya terdengar lebih jauh
dari suara Billy yang ku dengar tadi.
“Lo
apain Tiara hah?”, Praaak, suara tamparan yang kudengar… aku berbalik badan,
Billy menampar Jerry. Aku segera melerai prilaku bodoh mereka. Tangan Jerry
masih memusuti pipi kanannya, sedangkan Billy hanya menunduk.
“Untung
saja disini tempat sepi. Kalo ketahuan guru gimana Bil? Ok Billy, Jerry, kalian
nggak usah bertengkar. Jerry nggak nyakitin aku kok Bil. Aku yang nyakitin
kalian berdua. Aku nggak bisa nerusin amanah kamu untuk bisa bersatu dengan
Jerry Bil, aku nggak bisa. Jerry, maafin aku. Aku dan kamu cocoknya hanya bisa
jadi temen, Jer. Aku mohon sama kalian berdua, jangan paksa lagi aku untuk
memilih diantara kalian berdua. Lupakan aku”, Dan aku berharap ini adalah
terakhir kalinya aku meneteskan kepingan mutiaraku untuk cinta.
***
Aku
melanjutkan kuliahku ke Universitas Airlangga, Surabaya jurusan Sastra
Indonesia. Sedangkan Billy, Jerry, dan Risna melanjutkan studi mereka ke
Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dijurusan yang berbeda-beda. Billy
dijurusan Teknik Kimia, Jerry dijurusan teknik mesin, sedangkan Risna dijurusan
Ilmu Komputer. Meskipun aku kuliah diluar Banjarmasin, aku masih berhubungan
dengan Risna di Banjarmasin. Sedangkan dengan Billy dan Jerry, aku sudah lost
contact dengan mereka berdua.
Sudah
3 tahun aku menjadi mahasisiwi sastra. Sudah 2 novel yang aku ciptakan selama
aku berada di Surabaya. Tapi novel yang aku kirimkan, masih belum bisa
diterbitkan oleh pencetak. Meskipun begitu, aku tak pernah patah semangat untuk
berprofesi sebagai penulis yang terkenal.
Ketika
aku sedang menulis, tiba-tiba lagu A Thousand Years nya Christina Perri
bordering dari handphoneku. Terpampang foto Risna yang tersenyum. Pertanda
Risna menelfonku.
“Hi
buddy, ada apa nih telfon?”
“Ganggu
nggak?”
“Nggak
sama sekali bebi. Hehe”
“Emm.
Minggu ini lo bisa balik ke Bjm nggak?”
“What?
Ngapain? Belum liburan say”
“Plis
bisa yaaa”
“Emang
ngapain?”
“Gue
mau married”, Terdengar Risna setengah berbisik.
“What?
Sama siapa? Secepat itu? Lo ngeduluin gue? Waaah parah lo”
“Woy,
santai aja dong”, Protes Risna karena volume suaraku terlalu kencang karena
terkejut.
“Heheh,
sorry. Sama siapa sih say? Kok nggak cerita sama gue sih udah punya
pendamping”, Kini giliran aku yang protes.
“Ntar
lo juga tau sendiri. Pokonya gue nggak mau tau, lo harus balik ke Bjm, dan
Minggu ini lo harus ada. Ora urus gimanapun caranya lo supaya bisa balik”
Klik!
Telpon dimatikan, “Ih, kurang asem nih anak”, Aku mengumpat mengarahkan wajahku
ke telpon genggam. Seakan Risna masih stay diseberang sana.
***
Bandara Syamsudin Noor tidak
terlalu padat seperti lebaran tahun lalu. Ku lihat Mang Jamal sudah duduk
menungguku.
“Hai mang, sudah lama nunggu
ya?”
“Ah, tidak ko neng”
“Ya udah, pulang sekarang yuk
mang. Aku capek nih”
“Siap neng”, Mang Jamal beranjak
dari duduknya dan membawakan barang-barang bawaanku.
Aku memandangi jalanan
Banjarbaru yang masih rindang dengan pepohonan. Masih banyak taman dan
pepohonan hijau disini. Berbeda dengan daerah Banjarmasin yang semakin padat
dengan berbagai macam pembangunan-pembangunan.
***
Hari ini perkawinan sahabatku
akan segera dilaksanakan. Aku tidak siap melihat siapa pasangan sahabatku itu.
Aku melihat bayangan diriku dicermin. Aku cukup manis. Aku berharap aku segera
bisa menyusul Risna sahabatku hehe.
Betapa
terkejutnya aku ketika telah memasuki rumah Risna. Risna menikah dengan seorang
mantanku. Jerry! Risna menikah dengan Jerry. Aku langsung menghampiri pelaminan
mereka.
“Hei Ris, bentar, bentar,
bentar. Lo, married ama Jerry?”, Aku menunjuk Risna dan Jerry bergantian. Jerry
tersenyum manis untukku. Tapi tak semanis dahulu, mungkin ada yang hilang dari
cara pemberian senyumnya untukku.
“Hehe iya. Sorry ya nggak ngasih
tau duluan”, Risna nyengir.
“Ya Tuhan, aku nggak nyangka tau
nggak!”, Aku menutup mulutku, masih tak percaya dengan apa yang ada dihadapanku
sekarang.
“Udah makan belom? Foto dulu
yuk”, Jerry menyadarkan kebungkamanku.
“Eee, udah kok. Jadi gagu nih
baru ketemu ama elo Jer”, Aku tertawa ringan.
“Ya udah, foto yuk”, Risna
mengajak berfoto lagi.
“Masa cuman bertiga? Nggak mau
ah, gue kayak obat nyamuk pengantin gitu ceritanya”
“Gue ikut gabung gimana? Pas kan
berempat? Mas, mas, fotoin ya?”, Tiba-tiba ada suara yang sudah sangat familiar
ditelingaku. Aku menatap asal suara. Dan benar saja, jantungku terasa mau copot
melihat dia ada disampingku. dia berdiri disampingku, dan…dan dia menatapku.
Ah, aku tak tahu perasaan ini. Aku terdiam sejenak, menikmati perasaan yang
kini bergejolak didalam hatiku. Surprised, glad, and… LOVE. Cinta itu hadir
lagi dihatiku. Ya Tuhaaan…
Tiba-tiba Risna menjentikkan
jarinya dihadanku,”Woy, ayo berdiri disebelah Jerry sana, Billy sini sebelah
aku. Oke sip mas”.
Seusai berfoto ria bersama Risna
dan Jerry, aku pamit pulang pada Risna, Jerry, dan keluarga mempelai. Aku tak
langsung pulang. Aku menyinggahi Kota Citra Graha yang sering aku tongkrongi
bersama Billy dahulu. Aku sangat merindukan manusia yang satu itu. Tapi mungkin
dia sudah benar-benar melupakanku. Diacara tadi saja, dia tak menegurku sama
sekali. Dia seakan tak mengenaliku. Apa wajahku berbeda? Ku rasa tidak. Hanya
saja sekarang aku memakai kaca mata. Dia pun begitu. Tapi aku masih mengenali
dia yang berkaca mata. Kenapa dia tidak mengenaliku?
Ya Tuhan, aku sangat terluka.
Aku merindukan Billy. Apakah sekarang dia sudah memiliki kekasih? Dia sudah
mendapatkan penggantiku? Apakah penggantiku untuknya lebih baik dariku?
Entahlah, aku selalu mendoakan yang terbaik untuknya.
“Tuh kan, keping mutiaranya
masih aja nggak dijaga, masih aja dibiarin jatoh, dibuang-buang”.
Keping mutiara? Hanya Billy yang
menamai air mataku keping mutiara. Aku membalikkan badanku. Dan betapa
terkejutnya aku melihat Billy ada dihadapanku. Berdiri dan tersenyum padaku.
Dia mendekatiku. Dia menghapus air mataku, dan selanjutnya dia mengecup dahiku
untuk yang pertama kalinya.
“Biarkan aku menjaga kamu Tiara,
jangan pergi lagi dariku”
Air mataku semakin berjatuhan
mendengar kalimat itu. Aku menangis bukan karena aku tak bisa menerima Billy
kembali. Tapi aku menangis karena terharu dengan sebegitu Maha Besarnya Tuhan
mengatur segalanya untuk kebahagiaanku.
“Biar ku ganti keping mutiaramu
yang hilang karena aku dulu, dengan ini, Tiara”, Billy menyodorkan sepasang
cincin polos dihadapanku.
Aku shock melihat itu. Aku
bungkam seribu bahasa. Tak tahu apa yang harus kukatakan.
“Aku akan secepatnya melamarmu,
tabunganku sudah cukup Tiara, aku kuliah sambil bekerja honorer disekolah kita
dulu jadi guru kimia dan pengurus Lab”
Aku hanya bisa tersenyum dengan
Billy. Didalam hatiku tak pernah berhenti mengucapkan syukur pada Yang Kuasa.
“Kamu mau kan menerimaku lagi
Tiara?”, Wajah Billy kini penuh harap persis seperti wajahnya dahulu pertama
kali menyatakan cinta dan meminta jawaban dariku. Aku hanya bisa mengangguk.
Tenggorokanku terasa tercekat. Aku tak mampu berbicara apa-apa. Billy memelukku
erat.
“Aku tak ingin kehilangan kamu
lagi sayang, aku akan lukis pelangi setiap hari diwajah kamu, dan aku akan
simpan dan jaga keping mutiara itu, tak akan kubiarkan mengalir deras dipipimu lagi
sayangku”, Billy semakin mengeratkan pelukannya.
end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar