Sabtu, 16 Februari 2013

Keping Mutiara II (END)




Ini sambungan dari  : Keping Mutiara


                Aku menatap lelaki yang ada dihadapanku saat ini. Manis, terlihat banyak cinta dan ketulusan saat dia menatapku, berbicara padaku, tersenyum untukku, dan sgalanya yang tlah dia lakukan untukku. Kini dia sedang menjelaskan tentang titrasi asam basa. Entahlah, aku tak mengerti pelajaran ini. Aku membenci kimia. Tapi aku berada dikelas ipa. Sebenarnya aku ingin masuk jurusan bahasa disekolah ini. Tapi sayang, angkatan kami, kelas Bahasa ditutup karena peminatnya sedikit. Terpaksa aku harus masuk kelas Ipa.
                Kembali ke Jerry, ya, Jerry sedang mengajariku tentang pelajaran yang sangat memusingkan ini. Sebentar lagi Ujian Nasional akan dilaksanakan. Terpaksa aku harus mempelajari pelajaran-pelajaran yang tak aku mengerti seperti ini semaksimal mungkin. Melihat Jerry mengajariku, aku jadi teringat Billy yang dengan sabar dan telatennya membimbingku agar aku bisa paham dengan pelajaran yang tak aku mengerti. Biasanya sekali-sekali Billy meraih tanganku dan menciumnya ketika aku masih tak mengerti dengan apa yang dijelaskannya. Ah… aku merindukan Billy yang mengajariku.
               
“Naah begini Ra, dapat deh hasilnya, jadi, konsentrasi larutan HCl nya adalah 0,125. Ngerti nggak sayang?”, Tiba-tiba Jerry memecahkan lamunanku. Aku melirik Jerry, lalu beralih kebuku yang penuh dengan coretan, reflex aku menggaruk kepala,”Aku ngerti kok kamu belum paham kan dengan apa yang aku jelasin barusan?”
                “Hehe, iya”, Jawabku seraya menggaruk kepala sekali lagi dan tak ketinggalan nyengir kuda. Duuuuhh betapa tololnya aku masih memikirkan Billy disaat aku bersama Jerry. Aku sudah milik Jerry. Aku tak boleh memikirkan Billy. Dia masa lalu ku!
                “Oke, perhatikan ya. Aku jelasin sekali lagi”, Jerry kembali melabuhkan pensilnya ke buku yang tanpa coretan seperti tadi. Dia kembali berujar,”Pertama-tama, kita cari volume rata-rata larutan HCl dan NaOH nya…”. Aku berusaha memperhatikan dan mendengarkannya. Tiba-tiba, ada suara yang sudah tak asing lagi terdengar memanggilku.
                “Ikut dong belajarnya, nggak ngajak-ngajak nih Tiara. Mentang-mentang udah pacaran, belajar sama Jerry nya dua-duaan. Uuuhhh”, Cerocos Risna asal.
                “Hehe, sorry, lo kan tadi lagi makan”
                “Kan udah selese makannya?”
                “Ya udah, kalo udah selese, duduk sini, dengerin”, Aku menggeser dudukku untuk Risna. Risna duduk manis, memperhatikan Jerry menjelaskan. Sangat serius. Aku pun mau tidak mau harus ikut serius.
***
                Sudah tiga bulan aku berpacaran dengan Jerry. Jujur sampai saat ini aku masih tak bisa menerima Jerry sepenuhnya untuk bisa menggantikan posisi Billy dihatiku. Apalagi aku juga setiap hari melihat Billy disekolah. Senyum yang diberikannya padaku, masih sama seperti senyum yang dulu. Bahkan dia sering mengatakan padaku aku harus menyayangi keping mutiaraku, jangan sampai jatuh tak berguna seperti dulu aku menjatuhkannya karena dia. Tuhan, padahal aku ikhlas menangis karenanya. Air mata yang baginya keping mutiara ini terjatuh karenanya itu adalah bukti padanya bahwa aku sangat mencintainya dan tak ingin kehilangannya.
                Aku teringat besok adalah hari ulang tahun Risna. Aku menepuk jidatku. Segera ku raih handphone yang bertengger diatas kasurku.
                “Halo Jer, kamu bisa bantuin aku nggak?”’
                “Insya Allah buat kamu pasti bisa sayang, minta bantu apa?”
                “Temenein aku ke Gramedia ya? Aku mau beliin novel buat Risna, besok dia ulang tahun. Kamu nggak sibuk kan?”
                “Ok deh sayang, bisa kok, wait me about twenty minutes hun, muah”, Jerry mematikan telfonnya.
                Jerry selalu menuruti apa inginku. Jarang sekali dalam hubungan kami terjadi pertengkaran. Memang tak seperti hubunganku dengan Billy dahulu yang sering dihiasi dengan perselisihan antara hubungan kami. Sementara Jerry, dia selalu mengertikan aku, menuruti keinginanku selagi dia mampu untuk memenuhinya. Tapi Billy masih saja tak dapat tergantikan. Hanya hatiku yang dapat menjawabnya mengapa aku selalu memaafkan dan selalu mencintai Billy.
                Deru scoopynya Jerry sudah terdengar diluar rumahku. Aku segera keluar rumah dan langsung menaiki scoopy hitam Jerry.
                “Kamu mau kuliah dimana sih nantinya Jer?”, Kataku seraya mengambil buku Jurus Jitu Lulus SNMPTN.
                “Kamu maunya aku jadi apa?”, Jerry bertanya balik.
                ‘Hmm, yakin aku jadi pendamping hidup kamu nih?”
                Jerry terdiam tak menyahut. Ya Tuhan, perkataanku tadi mungkin menggoreskan luka lagi dihatinya. Maafkan aku Tuhan, aku slalu menyakiti lelaki yang tulus ini. Bathinku tak tega melihat perubahan ekspresi Jerry.
                “Insya Alah kalo Allah ngizinin dan kamu mau nerima aku”, Suara Jerry terdengar serak.
                “Amiiin”, Jawabku tak banyak. Aku tak mau perkataan-perkataanku menyakitinya lagi.
                Setelah membayar buku-buku belanjaan, Jerry segera mengantarku kerumah. Jerry tak banyak mengeluarkan suara setelah percakapan yang berlangsung di Gramedia tadi. Aku sungguh merasa bersalah pada Jerry.
                Sekeras mungkin aku harus bisa melupakan Billy. Terlalu jahat ketika aku selau memikirkan dan merindukan Billy saat berada disamping Jerry. Jerry tak bersalah apa-apa dalam masalah ini. Tapi selalu dia yang tersakiti. Aku juga mengerti Billy sakit saat melihatku berdua dengan Jerry disekolah. Tapi aku harus bagaimana? Billy sendiri yang menyatukanku dengan Jerry sewaktu dirumah sakit. Mau tidak mau, Billy harus tersenyum pada kami bila dia melihat kami sedang berdua.
***
                “Aku suapin ya”, Jerry menyodorkan sesendok sop ke mulutku.
                “Ini kantin. Malu sama temen-temen Jer”
                “Kita kan pacaran, nggak papa kan? Temen-temen pada tahu kok”, Daripada aku menyakiti Jerry lagi, aku suap saja makanan itu. Bersamaan dengan aku menyuap makanan itu, teman-teman langsung men-cie-cie-kan kami. Sebenarnya aku sangat malu. Tapi perasaan malu ku tidak seberapa dengan perasaan Jerry kalau aku menambah sakit dihatinya lagi. Diantara teman-teman yang menyoraki kami tadi, ternyata terdapat sosok Billy disana. Aku melihat Billy makan bersama teman-temannya. Saat aku memperhatikannya, tiba-tiba Billy menangkap mataku yang sedang memperhatikannya. Dia tersenyum padaku. Aku pun tersenyum untuknya. Mata kami saling berpandangan sekitar 30 detik, pandangan kami buyar ketika Jerry menyodorkan sesendok sop lagi padaku.
                Ah, aku tidak bisa terus seperti ini. Aku tidak bisa melupakan Billy. Aku pun tidak bisa menerima dan membahagiakan Jerry. Aku harus menghentikan ini semua. Aku egois, Jerry dan Billy malah tersakiti karena keegoisanku. Aku beranjak dari dudukku. Sesendok sop yang tadinya disodorkan Jerry untukku tumpah dimeja kantin. Aku tak peduli. Air mata tiba-tiba saja menggenangi pelupuk mataku. Aku berusaha keluar dari kantin agar Billy dan Jerry tak melihat air mata ini. Tapi ternyata Billy mengenaliku lebih dalam. Dia tahu aku menangis. Dia mengejarku terlebih dahulu dari Jerry.
                “Tiara, Tiara, lo kenapa nangis?”,Terdengar suara Billy memanggil-manggilku dari belakang.
                “Tiara, sayang”, Suara Jerry pun juga terdengar olehku. Suaranya terdengar lebih jauh dari suara Billy yang ku dengar tadi.
                “Lo apain Tiara hah?”, Praaak, suara tamparan yang kudengar… aku berbalik badan, Billy menampar Jerry. Aku segera melerai prilaku bodoh mereka. Tangan Jerry masih memusuti pipi kanannya, sedangkan Billy hanya menunduk.
                “Untung saja disini tempat sepi. Kalo ketahuan guru gimana Bil? Ok Billy, Jerry, kalian nggak usah bertengkar. Jerry nggak nyakitin aku kok Bil. Aku yang nyakitin kalian berdua. Aku nggak bisa nerusin amanah kamu untuk bisa bersatu dengan Jerry Bil, aku nggak bisa. Jerry, maafin aku. Aku dan kamu cocoknya hanya bisa jadi temen, Jer. Aku mohon sama kalian berdua, jangan paksa lagi aku untuk memilih diantara kalian berdua. Lupakan aku”, Dan aku berharap ini adalah terakhir kalinya aku meneteskan kepingan mutiaraku untuk cinta.
***
                Aku melanjutkan kuliahku ke Universitas Airlangga, Surabaya jurusan Sastra Indonesia. Sedangkan Billy, Jerry, dan Risna melanjutkan studi mereka ke Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dijurusan yang berbeda-beda. Billy dijurusan Teknik Kimia, Jerry dijurusan teknik mesin, sedangkan Risna dijurusan Ilmu Komputer. Meskipun aku kuliah diluar Banjarmasin, aku masih berhubungan dengan Risna di Banjarmasin. Sedangkan dengan Billy dan Jerry, aku sudah lost contact dengan mereka berdua.
                Sudah 3 tahun aku menjadi mahasisiwi sastra. Sudah 2 novel yang aku ciptakan selama aku berada di Surabaya. Tapi novel yang aku kirimkan, masih belum bisa diterbitkan oleh pencetak. Meskipun begitu, aku tak pernah patah semangat untuk berprofesi sebagai penulis yang terkenal.
                Ketika aku sedang menulis, tiba-tiba lagu A Thousand Years nya Christina Perri bordering dari handphoneku. Terpampang foto Risna yang tersenyum. Pertanda Risna menelfonku.
                “Hi buddy, ada apa nih telfon?”
                “Ganggu nggak?”
                “Nggak sama sekali bebi. Hehe”
                “Emm. Minggu ini lo bisa balik ke Bjm nggak?”
                “What? Ngapain? Belum liburan say”
                “Plis bisa yaaa”
                “Emang ngapain?”
                “Gue mau married”, Terdengar Risna setengah berbisik.
                “What? Sama siapa? Secepat itu? Lo ngeduluin gue? Waaah parah lo”
                “Woy, santai aja dong”, Protes Risna karena volume suaraku terlalu kencang karena terkejut.
                “Heheh, sorry. Sama siapa sih say? Kok nggak cerita sama gue sih udah punya pendamping”, Kini giliran aku yang protes.
                “Ntar lo juga tau sendiri. Pokonya gue nggak mau tau, lo harus balik ke Bjm, dan Minggu ini lo harus ada. Ora urus gimanapun caranya lo supaya bisa balik”
Klik! Telpon dimatikan, “Ih, kurang asem nih anak”, Aku mengumpat mengarahkan wajahku ke telpon genggam. Seakan Risna masih stay diseberang sana.
***
                Bandara Syamsudin Noor tidak terlalu padat seperti lebaran tahun lalu. Ku lihat Mang Jamal sudah duduk menungguku.
                “Hai mang, sudah lama nunggu ya?”
                “Ah, tidak ko neng”
                “Ya udah, pulang sekarang yuk mang. Aku capek nih”
                “Siap neng”, Mang Jamal beranjak dari duduknya dan membawakan barang-barang bawaanku.
                Aku memandangi jalanan Banjarbaru yang masih rindang dengan pepohonan. Masih banyak taman dan pepohonan hijau disini. Berbeda dengan daerah Banjarmasin yang semakin padat dengan berbagai macam pembangunan-pembangunan.
***
                Hari ini perkawinan sahabatku akan segera dilaksanakan. Aku tidak siap melihat siapa pasangan sahabatku itu. Aku melihat bayangan diriku dicermin. Aku cukup manis. Aku berharap aku segera bisa menyusul Risna sahabatku hehe.
Betapa terkejutnya aku ketika telah memasuki rumah Risna. Risna menikah dengan seorang mantanku. Jerry! Risna menikah dengan Jerry. Aku langsung menghampiri pelaminan mereka.
                “Hei Ris, bentar, bentar, bentar. Lo, married ama Jerry?”, Aku menunjuk Risna dan Jerry bergantian. Jerry tersenyum manis untukku. Tapi tak semanis dahulu, mungkin ada yang hilang dari cara pemberian senyumnya untukku.
                “Hehe iya. Sorry ya nggak ngasih tau duluan”, Risna nyengir.
                “Ya Tuhan, aku nggak nyangka tau nggak!”, Aku menutup mulutku, masih tak percaya dengan apa yang ada dihadapanku sekarang.
                “Udah makan belom? Foto dulu yuk”,  Jerry menyadarkan kebungkamanku.
                “Eee, udah kok. Jadi gagu nih baru ketemu ama elo Jer”, Aku tertawa ringan.
                “Ya udah, foto yuk”, Risna mengajak berfoto lagi.
                “Masa cuman bertiga? Nggak mau ah, gue kayak obat nyamuk pengantin gitu ceritanya”
                “Gue ikut gabung gimana? Pas kan berempat? Mas, mas, fotoin ya?”, Tiba-tiba ada suara yang sudah sangat familiar ditelingaku. Aku menatap asal suara. Dan benar saja, jantungku terasa mau copot melihat dia ada disampingku. dia berdiri disampingku, dan…dan dia menatapku. Ah, aku tak tahu perasaan ini. Aku terdiam sejenak, menikmati perasaan yang kini bergejolak didalam hatiku. Surprised, glad, and… LOVE. Cinta itu hadir lagi dihatiku. Ya Tuhaaan…
                Tiba-tiba Risna menjentikkan jarinya dihadanku,”Woy, ayo berdiri disebelah Jerry sana, Billy sini sebelah aku. Oke sip mas”.
                Seusai berfoto ria bersama Risna dan Jerry, aku pamit pulang pada Risna, Jerry, dan keluarga mempelai. Aku tak langsung pulang. Aku menyinggahi Kota Citra Graha yang sering aku tongkrongi bersama Billy dahulu. Aku sangat merindukan manusia yang satu itu. Tapi mungkin dia sudah benar-benar melupakanku. Diacara tadi saja, dia tak menegurku sama sekali. Dia seakan tak mengenaliku. Apa wajahku berbeda? Ku rasa tidak. Hanya saja sekarang aku memakai kaca mata. Dia pun begitu. Tapi aku masih mengenali dia yang berkaca mata. Kenapa dia tidak mengenaliku?
                Ya Tuhan, aku sangat terluka. Aku merindukan Billy. Apakah sekarang dia sudah memiliki kekasih? Dia sudah mendapatkan penggantiku? Apakah penggantiku untuknya lebih baik dariku? Entahlah, aku selalu mendoakan yang terbaik untuknya.
                “Tuh kan, keping mutiaranya masih aja nggak dijaga, masih aja dibiarin jatoh, dibuang-buang”.
                Keping mutiara? Hanya Billy yang menamai air mataku keping mutiara. Aku membalikkan badanku. Dan betapa terkejutnya aku melihat Billy ada dihadapanku. Berdiri dan tersenyum padaku. Dia mendekatiku. Dia menghapus air mataku, dan selanjutnya dia mengecup dahiku untuk yang pertama kalinya.
                “Biarkan aku menjaga kamu Tiara, jangan pergi lagi dariku”
                Air mataku semakin berjatuhan mendengar kalimat itu. Aku menangis bukan karena aku tak bisa menerima Billy kembali. Tapi aku menangis karena terharu dengan sebegitu Maha Besarnya Tuhan mengatur segalanya untuk kebahagiaanku.
                “Biar ku ganti keping mutiaramu yang hilang karena aku dulu, dengan ini, Tiara”, Billy menyodorkan sepasang cincin polos dihadapanku.
                Aku shock melihat itu. Aku bungkam seribu bahasa. Tak tahu apa yang harus kukatakan.
                “Aku akan secepatnya melamarmu, tabunganku sudah cukup Tiara, aku kuliah sambil bekerja honorer disekolah kita dulu jadi guru kimia dan pengurus Lab”
                Aku hanya bisa tersenyum dengan Billy. Didalam hatiku tak pernah berhenti mengucapkan syukur pada Yang Kuasa.
                “Kamu mau kan menerimaku lagi Tiara?”, Wajah Billy kini penuh harap persis seperti wajahnya dahulu pertama kali menyatakan cinta dan meminta jawaban dariku. Aku hanya bisa mengangguk. Tenggorokanku terasa tercekat. Aku tak mampu berbicara apa-apa. Billy memelukku erat.
                “Aku tak ingin kehilangan kamu lagi sayang, aku akan lukis pelangi setiap hari diwajah kamu, dan aku akan simpan dan jaga keping mutiara itu, tak akan kubiarkan mengalir deras dipipimu lagi sayangku”, Billy semakin mengeratkan pelukannya.
end

Tidak ada komentar:

Posting Komentar