Baca dulu nih cerita sebelumnya : Kisah yang Tak Sempurna ( Part II )
“Sayang, malam
ini aku pengen kerumah kamu. Pengen ngasih kejutan sama ayah bunda juga kamu”,
Ucapku pada orang diseberang sana dengan semangat.
Dua minggu
setelah kejadian itu, hubunganku dengan Nayla berjalan normal seperti biasanya.
Tak terasa hubungan kami sudah menginjak bulan ke-28 atau hari ke-840. Aku
semakin sayang pada Nayla. Uangku pun sudah cukup untuk membelikan sepasang
cincin tunangan untuk mengikat hubungan kami. Sepasang cincin didalam kotak
merah kecil ini sebentar lagi akan kuberikan kepada kekasihku Nayla. Aku sudah
tidak sabar menyematkan cincin ini dijari manis kirinya.
“Tom, sebaiknya
hubungan kita, kita akhiri sampai disini saja ya, kamu nggak usah ketemu ayah
sama bunda deh, kejutan apapun yang ingin kamu perlihatkan, aku juga nggak niat
pengen tahu”, Tiba-tiba Nayla mematikan telponnya.
Aku terdiam.
Kotak merah yang tadinya ditanganku tiba-tiba terjatuh. Aku berharap ini
hanyalah sebuah mimpi. Atau mungkin ini hanya kejutan dari Nayla untuk
memperingati hari ke-840 kami. Aku kembali mencoba menghubungi Nayla.
“Nay, tolong
jelasin semuanya, kenapa kamu minta kayak gitu sama aku?”
“Perjodohan itu
dilanjutkan. Puas? Sekarang jangan hubungi aku lagi Tom”, Suara Nayla terdengar
terisak. Aku tahu dia menangis.
“Kita harus
memperjuangkan cinta kita, Nay. Kamu tenang aja, malam ini aku pengen dating
kerumah kamu dan pengen tunangan sama kamu”
“Nggak perlu,
aku sudah menerima laki-laki itu. dan aku akan tetap memilih laki-laki itu
untuk menjadi pendamping hidup aku, Tom”, Nayla masih terisak.
“Lantas apa
artinya pengorbanan aku selama ini jika pada akhirnya kamu meilih yang lain?”,
Suaraku mulai melemah, aku tahu sudah tak ada harapan lagi.
“Maafkan aku,
maafkan semua kesalahanku selama kia bersama”, Isak tangis Nayla semakin
terdengar jelas. Namun aku tak berhak lagi menghapuskan air matanya. Aku juga
tak bisa menjawab apa-apa. Mental kelelakianku melemah. Air mata mulai mengalir
deras dipipiku.
“Maaf beh”, Itu
panggilan sayang yang sering kami ucapkan. Namun mungkin itu terakhir kalinya
dia ucapkan. Nayla mematikan telpon.
Semalaman aku
tak bisa tidur memikirkan apa yang barusan terjadi. Aku berharap ada sms dari
Nayla bahwa dia lebih menyayangiku, bahwa dia lebih membutuhkanku. Tapi tidak.
Tidak ada sama sekali kata-kata dari Nayla untuk menenangkan hatiku. Mungkin
kisahku dan Nayla akan berakhir sia-sia sampai disini saja. Dan harapanku untuk
menyempurnakan kisah kami, tak akan mungkin pernah terwujud.
***
“Ayah, bunda,
terimakasih telah mengizinkan saya untuk bisa merasakan bagaimana dicintai
Nayla. Saya sudah mendengar semuanya. Dan saya berharap ini akan menjadi
keputusan terbaik buat semuanya. Saya akan pergi menjauhi Nayla, meskipun
sakit. Saya kesini hanya ingin pamitan sama ayah dan bunda, saya ingin pergi ke
Kalimantan Barat menemui kedua orang tua saya. Biar saya memulai hidup baru saya
disana. terimakasih atas semuanya, ini cicin yang saya niatkan untuk kemudian
saya berikan pada Nayla. Itu hak Nayla”, Aku menyalami tangan ayah dan bunda
Nayla dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
“Nak”, Ayah
Nayla memanggilku. Akupu menoleh, “Kamu anak baik, kamu akan mendapatkan
pendamping yang baik”, Aku hanya tersenyum mendengar itu dan berlalu
meninggalkan mereka.
***
Aku tahu aku
masih belum bisa berhati besar untuk merelakan semuanya. Dua tahun lebih
bukanlah waktu yang singkat dalam merajut cinta. Dengan segala pengorbanan
kuperjuangkan agar dapat menyempurnakan cintaku telah kulakukan, namun takdir
berkata lain. Garis jodohku bukan pada Nayla. Biarlah kisah yang tak sempurna
ini akan kusimpan dan kukenang selamanya didalam hatiku.
Kurasakan hp yang
ada dalam saku celanaku bergetar. Panggilan dari Nayla Azzahra.
“Tomi, aku
pengen kamu dateng keacara nikahan aku sama mas Gilang sehabis lebaran nanti”
“Iya aku usahain
Nay”, Aku berusaha tenang meskipun saat itu aku sangat sakit.
“Oh iya, ayah
dan bunda pengen ngangkat kamu jadi anak mereka lho. Kamu mau ya Tom. Biar kita
bisa saudaraan?”, Nada bicara Nayla terdengar penuh harap.
“Maaf Nay, aku pengen menetap
diKalbar aja, aku juga udah kerja disini, ampein salam aja sama mereka. Aku
pasti usahain datang keresepsi nikahan kamu. Udah dulu ya, aku sibuk”, Aku
memutuskan telpon.
“Ya, aku sibuk.
Aku sibuk memperbaiki kepingan hati aku yang hancur Nay. Aku sibuk memperbaiki
hidup aku, maaf. Jangan ganggu aku dulu”, Ungkapku lirih. Aku menunduk. Menatap
hamparan padi yang bergoyang ditiup angin.
Aku memang tak berhati besar
Untuk memahami
hatimu disana
Aku memang tak berlapang dada
Untuk menyadari kau bukan milikku lagi
Dengar… dengarkan aku
Aku akan bertahan sampai kapanpun
Sampai kapanpun…
Maafkan aku
yang tak sempurna ‘tuk dirimu
Usailah sudah, kisah yang tak sempurna untuk kita kenang
Andai aku
dapat merelakan setiap kepingan
Ukiran
kenangan indah
Andai aku
sanggup menjalani
Setiap detik dari waktu mendatang
*This is the real story by ma friend :')
aku tau jelas ini cerita tentang siapa :')
BalasHapus