Senin, 18 Maret 2013

Baru Ku Pahami


                “Hahaha”
                Dia masih saja memainkan hal konyol itu didepanku. Tertawa sendiri, asyik sendiri. Kadang dia mencubit pipiku. Aku jengah dengan tingkahnya.
                “Kok nggak ditanggepin sih?”, Dia cemberut.
                “Kamu berisik tau nggak? Kamu nggak liat temen-temen pada belajar?”, Aku setengah membentaknya. Namun kuusahakan volume suaraku tidak menembus indera pendengar teman-temanku yang tengah asyik berkutat dengan buku pelajaran.
               
Tania melirik Melisa teman disebelahnya yang masih asyik dengan buku pelajarannya,“Mereka nggak merasa terganggu kok”.
                Aku memasang tampang acuh, tak ingin menyahut apa-apa.
                “Kok tadi berangkat sekolah nggak bilang-bilang aku dulu sih?”.
                “Emang harus ya?”
                “Kamu nggak seperhatian kayak dulu lagi”, Tania memasang wajah cemberut, terdapat sedikit gurat kekecewaan dari nada suaranya. Aku tak mengiraukannya, dia selalu saja begitu. Menginginkan ‘hal yang seperti dulu’. memangnya dia fikir setiap orang tidak berhak berubah? Sedikit saja perubahan dari diriku yang menurutnya itu berubah, pasti dia menganggap aku bosan dengannya. Mengapa Tania berfikiran seperti itu? Kadang aku terlalu jengah juga jika harus selalu seperti ini. Apalagi dalam masalah aku berteman dengan perempuan. Dia selalu saja mengungkapkan rasa cemburunya. Meskipun dia tak marah-marah denganku, tetap saja dia terlalu bawel dan membuatku merasa muak dengan hal itu.
                Aku sudah satu tahun bersama Tania. Awal-awal hubungan kami, sangatlah baik. Banyak hal manis yang kami lakukan bersama. Setelah hubungan kami menuju delapan bulan keatas, mungkin ego dari diri kami masing-masing keluar. Aku sadar aku terlalu ego dengan Tania. Setiap ada masalah dan terjadi perselisihan pun, Tania yang lebih sering berusaha membuat suasana menjadi dingin kembali.
                Tania. Gadis yang memikat hatiku satu tahun yang lalu yang hingga saat ini aku pun tak tahu mengapa aku tertarik dengannya. Masalah fisik, dia biasa saja. Masalah kepintaran pun, dia biasa saja. Tingkah lakunya, konyol, sering membuatku jengah dengannya. Akan tetapi, untuk mencintai tidak membutuhkan alasan kan?
                “Ndre, sore ini main futsal yuk”, Heri menepuk pundakku.
                “Hmm boleh. Jemput ya”
                “Siip”, Heri berlalu meninggalkan mejaku. Aku segera memasang tas ranselku dan segera bersiap untuk pulang. Didepan kelasku sudah ada Tania menungguku.
                “Jadikan yang, sore ini makan bersama”
                “Aku mau main futsal. Besok aja ya?”
                “Yaa, kan kamu udah janji pas istirahat barusan sama aku?”
                “Kan bisa besok Tania? Lapangan futsalnya udah dibooking sama Heri. Nggak enak kan kalo bilang nggak jadi?”
                “Kenapa sih selalu aja ngga ada waktu buat aku? Selalu saja memprioritaskan teman-teman kamu? Kalo sudah habis main futsal, kamu kecapean, pasti tidurnya lebih awal, dan nggak ada waktu buat nyapa aku disms atau ditelpon… kamu bosan ya sama aku?”, Lagi-lagi wajahnya cemberut, dan lagi-lagi pertanyaan ‘kamu bosan ya’ muncul. Aaah…
                “Tania, tolong dong kamu ngerti sedikit. Kenapa kamu selalu saja cerewet dengan semuanya? Kita masih punya banyak waktu kan untuk ketemu? Kenapa selalu saja kalau seperti ini aku selalu dijudge bosan dengan kamu?! Kamu itu terlalu cerewet Tania!”, Nada bicaraku meninggi. Agak terdengar sedikit membentaknya.
                “Ya sudah, aku pulang ya”
                “Ok. Hati-hati”
                Tania berlalu meninggalkanku. Ada sedikit perasaan menyesal ketika membentaknya. Tetapi jika tidak dengan cara itu, dia selalu saja membacot mengeluarkan segala kebawelannya.
                Sepulang dari main futsal, aku memang tak menghubungi Tania karena trelalu lelah. Setelah pukul delapan malam, aku mencoba menelpon Tania namun tak diangkat. Seharian semalaman aku tak berhubungan dengan Tania kecuali saat sepulang sekolah tadi siang. Ada perasaan sedikit lega dengan keadaan seperti ini. Akan tetapi, tanpa kusadari ada sekelebat rindu yang menyelinap masuk kerelung hatiku.
---
                Hari ini aku datang sekolah terlalu pagi. Aku duduk didepan kelasku dengan beberapa teman-temanku. Dikelas sebelah, Tania tengah bercanda ria dengan teman-temannya. Dia hanya tersenyum padaku ketika melihatku duduk didepan kelasku. Biasanya, jika dia melihatku, Tania pasti menghampiriku, meskipun hanya untuk say hi. Tapi ya sudahlah, bukankah aku sering jengah bila dia menghampiriku dan berbicara ini-itu?
                Tiga hari berturut-turut Tania bersikap seperti ini padaku. Aku memutuskan untuk menghapiri Tania kekelasnya.
                “Hari ini jalan-jalan ya”
                “Kemana?”
                “Ntar aku jemput”
                “Ok”
                Tak biasanya. Biasanya Tania histeris dan bersemangat apabila aku mengajaknya jalan-jalan. Taniaku kini berbah drastis. Aku semakin tak mengerti.
                “Mau ngomong apa sih?”, Kok ngajaknya ketaman ini? Kirain mau ke mall minta temenin beli sesuatu hehe”, Ucap Tania ketika menaratkan pantatnya kekursi.
                “Kok kamu berubah sih Tan? Nggak kaya biasanya”
                “Berubah gimana?”
                “Kamu nggak bawel kaya kemaren-kemaren sama aku?”
                “Haha, gimana sih kamu? Bukannya itu yang kamu mau?”
                “Tapi kamu masuih saja kok bawel dengan teman-temanmu?”
                “Mereka tidak mempermasalahkannya”
                “Tapi kenapa kamu berubahnya cuma sama aku?”
                “Aku hanya ingin menjadi yang kamu mau kok Ndre. Itu aja. Biar kamu seneng”, Tania menunduk. Kata-katanya terdengar tulus. Aku terdiam. Aku bingung harus berbicara apa. Mungkin ini salahku. Aku yang merasa jengah dengan semuanya, tetapi itulah yang membuatku merindukannya.
                “Aku mau pulang”, Ucapnya lagi. Tak ada tawa dipertemuan ini. Aku terpaksa harus mengantarnya pulang. Padahal, aku belum mendapatkan hal wajib yang mesti aku dapatkan darinya. Tawanya.
                Aku mencoba mengintrospeksi diriku. Aku tahu ini salahku. Aku yang memandangnya sebelah mata. Hal konyol yang sering dia lakukan, adalah semata-mata hanya untuk mencari perhatianku, tetapi aku masih saja tak memahaminya. Mengacuhkannya, tak menganggap keberadaannya disampingku. semua kebawelannya, kata-kata protesnya tentang tak ada waktu dengannya, tentang kecemburuannya, semata-mata karena dia mencitaiku, membutuhkanku ada disampingnya. Kini aku tahu arti tak dianggap, arti diacuhkan sang kekasih. Kini aku mengerti artinya membutuhkan sang kekasih, aku tahu arti dari bosannya berteman dengan kesepian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar