“Hahaha”
Dia
masih saja memainkan hal konyol itu didepanku. Tertawa sendiri, asyik sendiri.
Kadang dia mencubit pipiku. Aku jengah dengan tingkahnya.
“Kok
nggak ditanggepin sih?”, Dia cemberut.
“Kamu
berisik tau nggak? Kamu nggak liat temen-temen pada belajar?”, Aku setengah
membentaknya. Namun kuusahakan volume suaraku tidak menembus indera pendengar
teman-temanku yang tengah asyik berkutat dengan buku pelajaran.
Tania melirik Melisa teman disebelahnya yang masih asyik dengan buku pelajarannya,“Mereka nggak merasa terganggu kok”.
Aku
memasang tampang acuh, tak ingin menyahut apa-apa.
“Kok
tadi berangkat sekolah nggak bilang-bilang aku dulu sih?”.
“Emang
harus ya?”
“Kamu
nggak seperhatian kayak dulu lagi”, Tania memasang wajah cemberut, terdapat
sedikit gurat kekecewaan dari nada suaranya. Aku tak mengiraukannya, dia selalu
saja begitu. Menginginkan ‘hal yang seperti dulu’. memangnya dia fikir setiap
orang tidak berhak berubah? Sedikit saja perubahan dari diriku yang menurutnya
itu berubah, pasti dia menganggap aku bosan dengannya. Mengapa Tania berfikiran
seperti itu? Kadang aku terlalu jengah juga jika harus selalu seperti ini. Apalagi
dalam masalah aku berteman dengan perempuan. Dia selalu saja mengungkapkan rasa
cemburunya. Meskipun dia tak marah-marah denganku, tetap saja dia terlalu bawel
dan membuatku merasa muak dengan hal itu.
Aku
sudah satu tahun bersama Tania. Awal-awal hubungan kami, sangatlah baik. Banyak
hal manis yang kami lakukan bersama. Setelah hubungan kami menuju delapan bulan
keatas, mungkin ego dari diri kami masing-masing keluar. Aku sadar aku terlalu
ego dengan Tania. Setiap ada masalah dan terjadi perselisihan pun, Tania yang
lebih sering berusaha membuat suasana menjadi dingin kembali.
Tania.
Gadis yang memikat hatiku satu tahun yang lalu yang hingga saat ini aku pun tak
tahu mengapa aku tertarik dengannya. Masalah fisik, dia biasa saja. Masalah
kepintaran pun, dia biasa saja. Tingkah lakunya, konyol, sering membuatku
jengah dengannya. Akan tetapi, untuk mencintai tidak membutuhkan alasan kan?
“Ndre,
sore ini main futsal yuk”, Heri menepuk pundakku.
“Hmm
boleh. Jemput ya”
“Siip”,
Heri berlalu meninggalkan mejaku. Aku segera memasang tas ranselku dan segera
bersiap untuk pulang. Didepan kelasku sudah ada Tania menungguku.
“Jadikan
yang, sore ini makan bersama”
“Aku
mau main futsal. Besok aja ya?”
“Yaa,
kan kamu udah janji pas istirahat barusan sama aku?”
“Kan
bisa besok Tania? Lapangan futsalnya udah dibooking sama Heri. Nggak enak kan
kalo bilang nggak jadi?”
“Kenapa
sih selalu aja ngga ada waktu buat aku? Selalu saja memprioritaskan teman-teman
kamu? Kalo sudah habis main futsal, kamu kecapean, pasti tidurnya lebih awal,
dan nggak ada waktu buat nyapa aku disms atau ditelpon… kamu bosan ya sama
aku?”, Lagi-lagi wajahnya cemberut, dan lagi-lagi pertanyaan ‘kamu bosan ya’
muncul. Aaah…
“Tania,
tolong dong kamu ngerti sedikit. Kenapa kamu selalu saja cerewet dengan
semuanya? Kita masih punya banyak waktu kan untuk ketemu? Kenapa selalu saja
kalau seperti ini aku selalu dijudge bosan dengan kamu?! Kamu itu terlalu
cerewet Tania!”, Nada bicaraku meninggi. Agak terdengar sedikit membentaknya.
“Ya
sudah, aku pulang ya”
“Ok.
Hati-hati”
Tania
berlalu meninggalkanku. Ada sedikit perasaan menyesal ketika membentaknya.
Tetapi jika tidak dengan cara itu, dia selalu saja membacot mengeluarkan segala
kebawelannya.
Sepulang
dari main futsal, aku memang tak menghubungi Tania karena trelalu lelah.
Setelah pukul delapan malam, aku mencoba menelpon Tania namun tak diangkat.
Seharian semalaman aku tak berhubungan dengan Tania kecuali saat sepulang
sekolah tadi siang. Ada perasaan sedikit lega dengan keadaan seperti ini. Akan
tetapi, tanpa kusadari ada sekelebat rindu yang menyelinap masuk kerelung
hatiku.
---
Hari
ini aku datang sekolah terlalu pagi. Aku duduk didepan kelasku dengan beberapa
teman-temanku. Dikelas sebelah, Tania tengah bercanda ria dengan
teman-temannya. Dia hanya tersenyum padaku ketika melihatku duduk didepan
kelasku. Biasanya, jika dia melihatku, Tania pasti menghampiriku, meskipun
hanya untuk say hi. Tapi ya sudahlah, bukankah aku sering jengah bila dia
menghampiriku dan berbicara ini-itu?
Tiga
hari berturut-turut Tania bersikap seperti ini padaku. Aku memutuskan untuk
menghapiri Tania kekelasnya.
“Hari
ini jalan-jalan ya”
“Kemana?”
“Ntar
aku jemput”
“Ok”
Tak
biasanya. Biasanya Tania histeris dan bersemangat apabila aku mengajaknya
jalan-jalan. Taniaku kini berbah drastis. Aku semakin tak mengerti.
“Mau
ngomong apa sih?”, Kok ngajaknya ketaman ini? Kirain mau ke mall minta temenin
beli sesuatu hehe”, Ucap Tania ketika menaratkan pantatnya kekursi.
“Kok
kamu berubah sih Tan? Nggak kaya biasanya”
“Berubah
gimana?”
“Kamu
nggak bawel kaya kemaren-kemaren sama aku?”
“Haha,
gimana sih kamu? Bukannya itu yang kamu mau?”
“Tapi
kamu masuih saja kok bawel dengan teman-temanmu?”
“Mereka
tidak mempermasalahkannya”
“Tapi
kenapa kamu berubahnya cuma sama aku?”
“Aku
hanya ingin menjadi yang kamu mau kok Ndre. Itu aja. Biar kamu seneng”, Tania
menunduk. Kata-katanya terdengar tulus. Aku terdiam. Aku bingung harus
berbicara apa. Mungkin ini salahku. Aku yang merasa jengah dengan semuanya,
tetapi itulah yang membuatku merindukannya.
“Aku
mau pulang”, Ucapnya lagi. Tak ada tawa dipertemuan ini. Aku terpaksa harus mengantarnya
pulang. Padahal, aku belum mendapatkan hal wajib yang mesti aku dapatkan
darinya. Tawanya.
Aku
mencoba mengintrospeksi diriku. Aku tahu ini salahku. Aku yang memandangnya
sebelah mata. Hal konyol yang sering dia lakukan, adalah semata-mata hanya
untuk mencari perhatianku, tetapi aku masih saja tak memahaminya.
Mengacuhkannya, tak menganggap keberadaannya disampingku. semua kebawelannya,
kata-kata protesnya tentang tak ada waktu dengannya, tentang kecemburuannya,
semata-mata karena dia mencitaiku, membutuhkanku ada disampingnya. Kini aku
tahu arti tak dianggap, arti diacuhkan sang kekasih. Kini aku mengerti artinya
membutuhkan sang kekasih, aku tahu arti dari bosannya berteman dengan kesepian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar