Aku menghempaskan tubuhku keatas
kasur. Dikamar ini aku bebas melakukan apa saja. Selalu kamar ini yang menjadi
saksi bisu atas segalanya yang pernah kulakukan disini. Berbicara sendiri,
menangis sendiri, memukul-mukul guling, berbicara didepan cermin, dan hal-hal
gila lainnya. Hanya kamar ini yang dapat mengerti mengapa aku melakukan hal-hal
seperti itu.
Hari ini aku ingin menangis dikamar ini. Kelopak mataku tak dapat lagi membendung air yang sejak tadi kutahan. Tumpahlah sudah, mengucur deras dipipi ini. Kamarku menjadi saksi bisu lagi atas menangisnya aku hari ini. Aku baru saja melihat Heri, cinta pertamaku berboncengan bersama Rini, teman satu sekolah sekaligus teman satu kompleknya. Rini memeluk pinggang Heri erat sekali. Dia melakukannya tepat dihadapanku. Ketika aku berjalan kaki menuju rumah. Aku mengumpat didalam hati, kenapa motorku harus masuk bengkel dan aku harus pulang jalan kaki. Kalau saja aku memakai motor, mungkin tak akan melihat Heri dengan Rini.
“Rambut kamu kok diikat kayak gini terus
sih Al?” Heri kecil menyentuh-nyentuh rambutku.
“Kata mama, ini namanya dikepang.
Aku cantik kan Ri?”
“Enggak, kamu jadi kaya pakai
tanduk. Hihihi”, Heri kecil cekikikan. Aku merengut mendengar pernyataannya. Ku
cubit pipi si Heri kecil, aku pun tertawa girang.
“Auuuww, sakit tau? Kayak ubur-ubur
aja sih kamu, cubitan kamu kaya sengatan ubur-ubur tau”
Aku mencibir,”Kamu tuh nggak bisa
diem, ngatain aku pake tanduk lagi. Mulut kamu kayak cumi-cumi, nggak bisa
diem”
“Biarin kaya cumi-cumi, daripada kamu,
Alya si ubur-uburrrr bertanduk. Wee”, Heri kecil memainkan kunciran rambutku.
“Heri, kalau aku nggak pakai tanduk
kan? Liat deh, cantik kan Ri?”, Tiba-tiba Rini datang -yang menurutku-
kehadirannya sangat mengganggu kami. Heri kecil hanya diam tak menyahut dengan
pertanyaan Rini. Heri menoleh kearahku, dan tiba-tiba dia melepaskan kunciran
rambutku. Aku melotot kearah Heri. Aku terkejut atas apa yang telah
dilakukannya. Rambutku terurai berantakan. Tidak ada mama yang bisa membetulkan
kembali kunciran rambutku. Aku menangis meninggalkan Heri yang mematung dan
Rini yang menertawakanku.
Sejak
saat itu, aku selalu memikirkan Heri. Di TK Kasih Bunda, aku dan Heri memulai
persahabatan, sekaligus mengajarkanku arti sebuah persahabatan, sayang, dan
takut akan kehilangan. Setiap pagi, aku dan Heri selalu berangkat ke TK bersama
menggunakan mobil papaku. Entah apa alasan Heri yang setiap paginya selalu
datang kerumahku dan ingin berangkat bersama denganku. Padahal, mobil papanya
lebih nyaman dibanding mobil papaku.
Setiap hari persahabatan kami
semakin akrab. Hingga tiba saatnya, aku dan Heri lulus di Tk itu. Jujur aku
sangat sedih. Itu berarti masa-masa kebersamaan kami akan berkurang karena aku
dan Heri melanjutkan kesekolah SD yang berbeda. Meskipun rumahku dan rumah Heri
cuma terhalat satu komplek, tetap saja aku tak dapat bertemu Heri setiap hari
seperti waktu TK dulu.
Hal yang aku takutkan pun terjadi.
Aku benar-benar lost contact dengan Heri saat sudah kelas enam SD. Aku sangat
ingat pertemuan kami yang semoga saja aku masih berharap itu bukan pertemuan
terakhir.
“Alya, sebentar lagi kita bakalan
lulus SD. Kamu mau nyambung ke SMP mana?”
“Kalo kamu?”
“Kayanya diluar Banjarmasin deh Al”
Deg!
Jujur saat itu perasaan Alya kecil sangat kecewa. kali itu aku akan benar-benar
kehilangan Heri si cumi-cuminya. Aku hanya menunduk. Tak berani menatap Heri.
“Rini juga ikut sekolah SMP kesana.
Kamu ikut ya Al”, Sambung Heri kecil.
Aku
benar-benar terkejut mendengar lanjutan kalimat Heri. Kenapa makhluk itu selalu
menjadi penengah antara hubungan kami? Aku tidak mungkin bisa ikut Heri.
Meskipun aku sudah cukup akrab dengan keluarga Heri, dan papa pun pasti akan
mengizinkanku jikalau pun aku ingin ikut dengan keluarga Heri, tapi aku tak
bisa berpisah jauh dengan keluargaku di Banjarmasin.
“Aku tidak bisa ikut sama kamu Her.
Aku pengen sekolah disini aja. Kamu yang pinter ya nanti disana, jangan nakal
sama Rini”, Dengan susah payah aku mengeluarkan kalimat yang terdengar “ikhlas”
itu dari mulutku. Aku menangis, aku tak berani menatap Heri kecil. Kurasakan
ada sesuatu yang menyentuh pipiku. Heri mencium pipiku. Aku semakin tak berani
menatapnya.
“Maafin aku ya ubur-ubur, aku Cuma…
cumaa…”
Aku beranjak dari dudukku dan
meninggalkan Heri. Aku membanting keras pintu rumahku. Pergi kekamar dan
menangis sejadi-jadinya. Itu pertama kalinya kamarku menjadi saksi aku menangis
karena aku takut kehilangan seseorang yang sangat berarti bagiku.
Aku semakin jengah dengan semua ini.
Kenapa Heri selalu saja menusuk-nusuk perasaanku? Sejak TK, sejak dia memainkan
rambutku, membuat perhatian papa menjadi terbagi dua, membuat aku merasakan
perasaan yang perlahan membunuh ini. Kenapa Heri hanya melanjutkan sekolah SMP
disana dan kembali pulang ke Banjarmasin lagi? Pulang ke Banjarmasin bersama
Rini. Memperlihatkan kedekatannya bersama Rini dihadapanku! Tidak puas kah dia
selama bertahun-tahun ini membiarkanku menanggung sendiri memendam rindu ini?
Dan setelah dia kembali, dengan mudahnya dan dalam sekejap, dia hancurkan
hatiku berkeping-keping.
Aku ingin melepaskan perasaan ini.
Perasaan yang aku sendiri juga tak tahu kapan datangnya. Perasaan yang
seringkali membuatku tiba-tiba galau. Ah, aku ingin kembali kemasa kecil. Masa
dimana aku bisa tertawa lepas tanpa masalah. Masa dimana aku dapat tertawa
bersama dengan Heri tanpa malu-malu, tidak ada yang namanya jaim dengan Heri, tidak merasa berdosa
saat Heri mencium pipiku dengan bebas. Aku ingin mengulang masa itu. Seandainya
aku bisa mengulang masa itu, tak akan kubiarkan Heri pergi meninggalkanku. Aku
akan mengungkapkannya dengan Heri tanpa malu-malu, bahwa aku menyayanginya dan
tak ingin jauh darinya. Aku rela jika perhatian papa harus terbagi dua.
Seandainya dulu aku tahu, itu adalah
jalan yang harus ku tempuh, maka aku tak akan tersiksa seperti ini. Tak akan
kehilangan Heri. Tak akan merasakan rindu sedalam ini dengan Heri. Ingin sekali
aku melepaskan semuanya agar aku tak tersiksa. Akan tetapi, aku sendiri tak
mengerti ada dorongan apakah yang ada didalam diriku sehingga aku terus saja
mempertahankan rasa ini dalam diam? Aku memandang langit-langit kamarku dengan
hampa. Ku tarik nafas dalam-dalam seraya memejamkan mata.
Drrrrrtttt… kurasakan ada yang
bergetar. Itu handphoneku. Segera ku raih handphone itu dan membukanya. Ada
satu pesan singkat dari nomor yang tidak terdaftar di list contact ku.
From : +6287815xxx
Alya, kok
sombong sih?
ini aku Heri
aku udah pulang dari Palangkaraya
kamu apa kabar nih? Udah kelas X sma kan? Hehe
ntar kapan2 klo ada wktu, kita main kaya dulu lg ya ubur :b
ini aku Heri
aku udah pulang dari Palangkaraya
kamu apa kabar nih? Udah kelas X sma kan? Hehe
ntar kapan2 klo ada wktu, kita main kaya dulu lg ya ubur :b
Ya Tuhan! Aku menutup mulutku. Aku
benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Heriku, cumiku! Kali
ini aku benar-benar tak ingin kehilangannya. Kehilangan cinta pertamaku. Orang
yang pertama kali mengajarkanku jatuh cinta sedalam ini. Merasakan rindu,
galau, bahagia, dan semuanya. Dialah yang mengajarkan semuanya padaku! Aku
sudah mendapatkan kesempatan yang kedua. Akan kubuka pintu selamat datang
lebar-lebar untuk si cumi ini. Tak akan ada lagi kata gengsi untuk masalah ini.
Aku akan mengawali persahabatan ini dari nol lagi. Tak apa, cinta itu sabar kan? Biarpun aku
hanya menjadi sahabat bermainnya, bukan sahabat hidupnya, paling tidak aku
tidak akan jauh darinya (lagi). Aku siap. Ya, aku siap melanjutkan scenario kita,
cumi. Scenario kita yang dulunya sempat terputus karena kamu pergi
meninggalkanku. Kita akan memulainya lagi dipart ini. Part dimana umur kita
telah menginjak masa remaja. :’)
ssedih cerita ny ''
BalasHapus