Ini sambungan dari : Kecewa
Aku
mencoba memejamkan mata untuk menghilangkan penat yang ada dipikiranku. Selang
beberapa saat, aku sudah berada didunia mimpiku. Tengah kudapati Riko berjalan
membelakangiku. Aku memanggilnya berulang kali namun tak digubrisnya sampai
bayangan itu hilang dari indera penglihatanku.
Aku menghempaskan tubuhku keatas
kasur terempukku. Rasanya lelah sekali setelah menguras otak selama 4 hari ini
. tiba-tiba ditengah lamunanku, aku teringat ketika Riko menyalami tanganku.
Rasanya aku ingin mengulang detik-detik itu. Aku tak tahu perasaan apa ini.
Apakah aku sudah mulai jatuh cinta pada lelaki itu? Tidak mungkin kalau
menurutku.
Mataku
kembali terbuka. Aku mencoba mengumpulkan ingatanku. Mimpi itu. Riko. Riko yang
membangunkanku dari tidurku. Ah, aku benci jika harus seperti ini. Inikah jatuh
cinta? Aku membenci jatuh cinta jika begini jadinya. Aku terjaga dari
keterlelapanku hanya karena mimpi seperti itu. Pikiranku tak bisa berpikir
jernih bila Riko memenuhi dinding pikiranku. Aku tersenyum sendiri saat melihat
tangan kanan yang pernah dalam genggaman Riko. Aku benci jatuh cinta jika
seperti ini jadinya! Aku mesti mengambil tindakan cepat. Aku harus menjauhkan
perasaan ini secepatnya!
Aku
sangat bersyukur perasaan ini muncul setelah Ujian Nasional berakhir. Jadi, aku
tak akan bertemu dengan Riko setiap hari. Mungkin ini akan mempercepat proses
melupakannya. Aku jadi ingat ketika betapa jahatnya aku menolak dan jual mahal
kepada Riko ketika dia menembakku. Aku pun tak ingat berapa kali dia mencoba,
mencoba, dan tak pernah jera menyatakan perasaannya kepadaku.
***
Ada
yang merusak pemandangan dipandangan mataku. Riko sedang berjalan berdua dengan
Bella digramedia yang kini tengah kukunjungi. Terlihat jelas dipandangan mataku
mereka begitu hangat dan akrab. Kulihat Bella tertawa renyah saat bercanda
dengan Riko. Aku jengah melihatnya. Ingin sekali kutampar Riko. Tapi apa hakku?
Aku bukan kekasihnya. Bukankah aku yang menolaknya kemarin-kemarin? Aku merasa
kecewa. ternyata Riko tak akan memperjuangkan perasaannya lagi padaku.
Aku
bersegera untuk segera bergegas pulang. Aku tak inigin sosokku dilihat oleh
Riko. Aku tak ingin Riko melihat gurat kekecewaan diwajahku. Pemandangan itu
cukup menyayat hatiku. Aku harus melupakan Riko. Harus. Dia sudah berhenti
memperjuangkan aku. Sungguh lucu jika aku yang harus melanjutkan perjuangannya
agar cinta kami bisa bersatu.
***
Hari
ini adalah hari perpisahan disekolah kami. Aku berjanji, hari ini adalah hari
terakhir aku bertemu dengan sosok Riko. Mama Nampak berhati-hati memoles
wajahku yang jarang menggunakan make up. Aku tidak sabar bagaimana nanti bentuk
wajahku yang menggunakan make up. Aku berharap aku bisa tampil secantik mungkin
dihari pertemuan terakhir kami ini.
Acara
perpisahan berakhir sukses dan mengharukan. Aku bersalam-salaman dan berpelukan
kepada teman-temanku. Hingga sosok Riko muncul dihadapanku.
“Fris”,
Lelaki itu Nampak mengulurkan tangannya. Segera aku mengulurkan tanganku untuk
membalas salamannya, namun tak selama seperti kemarin selesai UN. Aku segera
melepaskan genggaman tangannya dan segera berlalu pergi.
“Friska…”,
Riko mengejarku dan kembali berdiri dihadapanku.
“Apa
lagi sih?”
“Ini…”,
Riko menyodorkan sebungkus kado padaku.
“Apaan
sih?”, Aku menyilangkan kedua tangan didadaku. Berusaha tak peduli pada Riko.
“Kenang-kenangan”,
Katanya menunduk.
“Kenang-kenangan?
Apa lo pantas gue kenang? Nggak kan?”
“Mungkin
aja kan setelah ini kita gak bakal ketemu lagi?”
“Haha.
Iya. Nggak bakalan ketemu lagi kok. Lo kan udah punya yang baru. Ngapain lo
ketemuin gue lagi? Haha”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar