Senin, 29 April 2013

Kecewa II

Ini sambungan dari : Kecewa


Aku menghempaskan tubuhku keatas kasur terempukku. Rasanya lelah sekali setelah menguras otak selama 4 hari ini . tiba-tiba ditengah lamunanku, aku teringat ketika Riko menyalami tanganku. Rasanya aku ingin mengulang detik-detik itu. Aku tak tahu perasaan apa ini. Apakah aku sudah mulai jatuh cinta pada lelaki itu? Tidak mungkin kalau menurutku.
               
Aku mencoba memejamkan mata untuk menghilangkan penat yang ada dipikiranku. Selang beberapa saat, aku sudah berada didunia mimpiku. Tengah kudapati Riko berjalan membelakangiku. Aku memanggilnya berulang kali namun tak digubrisnya sampai bayangan itu hilang dari indera penglihatanku.
                Mataku kembali terbuka. Aku mencoba mengumpulkan ingatanku. Mimpi itu. Riko. Riko yang membangunkanku dari tidurku. Ah, aku benci jika harus seperti ini. Inikah jatuh cinta? Aku membenci jatuh cinta jika begini jadinya. Aku terjaga dari keterlelapanku hanya karena mimpi seperti itu. Pikiranku tak bisa berpikir jernih bila Riko memenuhi dinding pikiranku. Aku tersenyum sendiri saat melihat tangan kanan yang pernah dalam genggaman Riko. Aku benci jatuh cinta jika seperti ini jadinya! Aku mesti mengambil tindakan cepat. Aku harus menjauhkan perasaan ini secepatnya!
                Aku sangat bersyukur perasaan ini muncul setelah Ujian Nasional berakhir. Jadi, aku tak akan bertemu dengan Riko setiap hari. Mungkin ini akan mempercepat proses melupakannya. Aku jadi ingat ketika betapa jahatnya aku menolak dan jual mahal kepada Riko ketika dia menembakku. Aku pun tak ingat berapa kali dia mencoba, mencoba, dan tak pernah jera menyatakan perasaannya kepadaku.
***
                Ada yang merusak pemandangan dipandangan mataku. Riko sedang berjalan berdua dengan Bella digramedia yang kini tengah kukunjungi. Terlihat jelas dipandangan mataku mereka begitu hangat dan akrab. Kulihat Bella tertawa renyah saat bercanda dengan Riko. Aku jengah melihatnya. Ingin sekali kutampar Riko. Tapi apa hakku? Aku bukan kekasihnya. Bukankah aku yang menolaknya kemarin-kemarin? Aku merasa kecewa. ternyata Riko tak akan memperjuangkan perasaannya lagi padaku.
                Aku bersegera untuk segera bergegas pulang. Aku tak inigin sosokku dilihat oleh Riko. Aku tak ingin Riko melihat gurat kekecewaan diwajahku. Pemandangan itu cukup menyayat hatiku. Aku harus melupakan Riko. Harus. Dia sudah berhenti memperjuangkan aku. Sungguh lucu jika aku yang harus melanjutkan perjuangannya agar cinta kami bisa bersatu.
***
                Hari ini adalah hari perpisahan disekolah kami. Aku berjanji, hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan sosok Riko. Mama Nampak berhati-hati memoles wajahku yang jarang menggunakan make up. Aku tidak sabar bagaimana nanti bentuk wajahku yang menggunakan make up. Aku berharap aku bisa tampil secantik mungkin dihari pertemuan terakhir kami ini.
                Acara perpisahan berakhir sukses dan mengharukan. Aku bersalam-salaman dan berpelukan kepada teman-temanku. Hingga sosok Riko muncul dihadapanku.
                “Fris”, Lelaki itu Nampak mengulurkan tangannya. Segera aku mengulurkan tanganku untuk membalas salamannya, namun tak selama seperti kemarin selesai UN. Aku segera melepaskan genggaman tangannya dan segera berlalu pergi.
                “Friska…”, Riko mengejarku dan kembali berdiri dihadapanku.
                “Apa lagi sih?”
                “Ini…”, Riko menyodorkan sebungkus kado padaku.
                “Apaan sih?”, Aku menyilangkan kedua tangan didadaku. Berusaha tak peduli pada Riko.
                “Kenang-kenangan”, Katanya menunduk.
                “Kenang-kenangan? Apa lo pantas gue kenang? Nggak kan?”
                “Mungkin aja kan setelah ini kita gak bakal ketemu lagi?”
                “Haha. Iya. Nggak bakalan ketemu lagi kok. Lo kan udah punya yang baru. Ngapain lo ketemuin gue lagi? Haha”
                “Maksud lo yang baru apa sih Fris?”

To be continued : Kecewa III (END)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar