Kali ini saya mau posting tentang sesuatu yang cukup sungguh
menyayat hati saya hingga sekarang :’)
Wafatnya ustadz favorit saya, ustadz kesayangan saya. Ustadz
Jefri Al-Buchori. Pantas saja, bukan apa-apa, bukan sok dekat atau apa, pantas
saja, 2 atau 3 hari sebelum itu, saya pribadi mendapat pertanda aneh. Memang
saya bukan kerabat dekat beliau, namun sungguh lah aneh pertanda itu.
Saya bermimpi saya berfoto menggunakan handphone selular, namun bayangan diri saya tidak terlihat disana. Saya sempat ketakutan. Saya kira dalam waktu dekat ini, saya akan pulang kepelukan sang Illahi. Ditambah lagi ketakutan saya dengan samar-samar saya melihat selintas bayangan ketika setiap saya hendak sholat. Saya kira itu malaikat yang mengawasi saya dan akan mencabut nyawa saya dalam waktu dekat ini. Tau-taunya, 3 hari sesudah saya melewati itu semua…………….. awalnya, malam Jum’at itu sebelum tidur saya menangis. Saya menangisi tentang kematian. saya menangis sampai akhirnya saya tertidur. Dalam tidur pun saya tidak nyenyak. Saya selalu terbangun. malam itu saya sungguh gelisah hingga waktu shubuh tiba.
Setelah sholat shubuh, saya menyalakan tv dikamar saya. Yang
muncul saat itu acara Seputar Indonesia Pagi di RCTI. Disana rekaman-rekaman
saat Uje tausiah, menyanyi, diputar acak secara bergantian. Saya heran. Saya kira
berita apa. Saya tajamkan indera pendengar saya. Terdengar ditelinga saya kata “duka”,
saya tidak langsung berfikir Uje yang
meninggal. Saya kira kerabat Uje yang meninggal, tetapi ternyata indera
pendengar saya menangkap suatu kalimat yang menjelaskan kesaya bahwa Uje lah
yang meninggal pada hari Jum’at lalu pukul 02.00 wib dinihari. Saya setengah
tidak percaya mendengar itu semua. Beliau ustadz favorit saya. Okey mungkin
banyak yang mencintai beliau, dan saya lah salah satunya yang sangat sangat
sangat mencintai beliau.
Setelah saya mendengar kabar itu, setiap saya sholat, tidak
pernah lagi saya melihat bayangan itu, mimpi saya pun tidak lagi tentang yang
ngeri-ngeri. Saya masih berduka dengan kepergian beliau. Yang sangat saya
sesali, saya belum pernah menatap beliau secara langsung. Padahal, saya
mempunyai beberapa kesempatan untuk bertemu beliau saat acara MTQ yang biasa
saya ikuti. Ada salah satu MTQ tingkat provinsi dikota Rantau kabupaten Tapin,
yang dulu saya ikuti sebagai kontengen Banjarmasin perwakilan murattal putri. Dihari
penutupan pada acara itu, padahal panitia acara mengundang Ust Jefri dan Sulis.
Dua tokoh yang saya kagumi saat itu. Namun sayang, pada acara penutupan itu,
saya harus pulang ke Banjarmasin karena masalah perut saya yang baru operasi
usus buntu.
Sampai sekarang, melihat foto Uje saat acara penutupan MTQ
yang diberikan oleh guru saya, sungguh sangat membuat saya sakit hati. Kenapa pada
waktu itu saya harus pulang ke Banjarmasin dan tidak menyelesaikan acara MTQ
sampai acara penutupan? Kalau saja, saya bisa menyaksikan acara penutupan, saya
pasti juga bisa bertemu dengan ayahanda ustadz Jefri Al-Buchori. Bertemu beliau
secara langsung:’(
Selamat jalan Ayahanda Jefri Al-Buchori. Sampai jumpa
disurga sana. Semoga kita bisa bertemu ustadzku :’)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar