Selasa, 23 April 2013

Kecewa


                Sudah satu tahun aku menjajaki masa SMA. Kata orang, masa SMA adalah masa terindah. Dimana kisah kasih terjalin bahagia dimasa ini. Kisah asik dan unik persahabatan akan terasa disini. Mungkin benar bagi sebagian orang. Bagiku, entahlah… aku tak merasakan sesuatu yang special dimasa ini. Sama saja. Sama ketika aku memulai sekolah dari TK, SD, SMP, hingga menjajaki masa ini.
                Aku mempunyai teman. Bahkan bisa dikatakan banyak. Akan tetapi tak ada yang bisa menjadi pendengar setia seperti buku harianku. Tak ada yang bisa dijadikan tempat ternyaman ketika aku menangis seperti kasurku. Tak ada yang selalu disampingku ketika aku butuh pelukan selain gulingku. Aku banyak mempunyai teman, tetapi bukan sahabat. Aku banyak menemukan pria baik yang mengatakan dia menyukaiku, tetapi tak ku terima sebagai kekasihku.
               
Aku tertutup? Tidak! Kata teman-temanku aku friendly, supel, smiles readily, and sooo simple. Kalian boleh bertanya kenapa aku tidak bisa semudah membalikkan telapak tangan menganggap seseorang menjadi sahabat ketika seorang teman berlaku baik denganku. Kalian juga boleh menerka-nerka, mengapa aku tidak mudah menerima seorang pria baik untuk dijadikan sandaran hati. Jawabannya simple. Baik bukan berarti dia tulus. Aku tidak mencari orang baik, tetapi aku mencari orang tulus.
                “Gue bener-bener suka sama lo Fris”, Riko menunduk. Dia mematung disampingku. ini bukan yang pertama kalinya aku mengalami seperti ini. Menolak cinta dari seorang pria yang tak bersalah.
                “Gue masih nggak mau pacaran Rik”, Aku menarik napas. Kulihat gurat kekecewaan diwajah Riko.
                “Maafin gue ya Fris. Gue cuman mau lo itu tau kalo gue tulus. Tapi sepertinya gue nggak bisa membantah komitmen lo yang belum mau pacaran. Gue berkali-kali nembak lo dan nggak pernah lo terima. Gue nggak pernah kecewa kok Fris. Gue cuman bisa do’a, biarlah cinta didalam hati lo datang dengan sendirinya karena terbiasa”, Riko berusaha tersenyum. Mungkin hatiku sudah sekeras batu, nggak pernah sama sekali luluh dengan sikap rendah hati si Riko yang udah berkali-kali nembak aku.
                Sejak saat itu, Riko tak pernah lagi mengutarakan perasaannya kepadaku. Saat ini, aku sudah kelas XII. Sungguh sama sekali bukan kejutan kalau aku tidak pernah mempunyai pacar disekolah ini. Tak apa, bukan urusanku dan bukan urusan kalian. Akan tetapi, seperti ada perasaan aneh ketika Riko tak pernah mengatakan sesuatu itu lagi padaku. Ada perasaan kehilangan? Entahlah. Mungkin.
                Hari ini Ujian Nasional telah berakhir. Akhirnya beban yang ada dikepala ini terlepas sudah. Aku ingin cepat-cepat segera pulang untuk tidur seharian dirumah. Saat aku menghampiri motorku yang ada diparkiran sekolah, aku mendapati sosok Riko disana.
                “Friska…”
                “Ya?”
                “Gue minta maaf ya kalo selama ini gue banyak salah sama lo”
                “Banyak salah apa? Nggak ada kok Rik. Santai aja”
                “Ya udah, makasih kalo gitu ya Fris”, Riko tersenyum. Dia mengulurkan tanganya. Dengan sedikit ragu aku menyambut salamannya. Aku merasakan tangannya dingin. Salaman yang tak lazim pada umumnya. Salaman Riko sangat erat. Dia meremas tanganku begitu kencang namun tetap berusaha untuk tidak menyakitiku. Salaman itu berlangsung sekitar tiga puluh detik, matanya tak lepas dari wajahku. Ah, aku menjadi risih. Salah tingkah.
                “Ah maaf, Friska…”, Riko melepaskan genggamannya. Dia langsung menunduk, membuang muka, seraya berlalu pergi.
                “Rik”, Refleks aku memanggil Riko. Aku menutup mulutku, seakan menyesali apa yang telah kulakukan.
                “Ya?”, Riko menoleh. Masih dengan pandangan yang sama ketika dia memandangku ketika bersalaman tadi.
                “Aku juga minta maaf ya”, Aku tersenyum pada Riko, dibalas dengan senyum manis Riko. Riko berlalu meninggalkanku.
                Aku memegang tangan kananku yang tadinya dalam genggaman Riko. Aku tersenyum.
To be continued : Kecewa II

Tidak ada komentar:

Posting Komentar