Sudah
satu tahun aku menjajaki masa SMA. Kata orang, masa SMA adalah masa terindah.
Dimana kisah kasih terjalin bahagia dimasa ini. Kisah asik dan unik
persahabatan akan terasa disini. Mungkin benar bagi sebagian orang. Bagiku,
entahlah… aku tak merasakan sesuatu yang special dimasa ini. Sama saja. Sama
ketika aku memulai sekolah dari TK, SD, SMP, hingga menjajaki masa ini.
Aku
mempunyai teman. Bahkan bisa dikatakan banyak. Akan tetapi tak ada yang bisa
menjadi pendengar setia seperti buku harianku. Tak ada yang bisa dijadikan
tempat ternyaman ketika aku menangis seperti kasurku. Tak ada yang selalu
disampingku ketika aku butuh pelukan selain gulingku. Aku banyak mempunyai
teman, tetapi bukan sahabat. Aku banyak menemukan pria baik yang mengatakan dia
menyukaiku, tetapi tak ku terima sebagai kekasihku.
“Gue
bener-bener suka sama lo Fris”, Riko menunduk. Dia mematung disampingku. ini
bukan yang pertama kalinya aku mengalami seperti ini. Menolak cinta dari
seorang pria yang tak bersalah.
“Gue
masih nggak mau pacaran Rik”, Aku menarik napas. Kulihat gurat kekecewaan
diwajah Riko.
“Maafin
gue ya Fris. Gue cuman mau lo itu tau kalo gue tulus. Tapi sepertinya gue nggak
bisa membantah komitmen lo yang belum mau pacaran. Gue berkali-kali nembak lo
dan nggak pernah lo terima. Gue nggak pernah kecewa kok Fris. Gue cuman bisa
do’a, biarlah cinta didalam hati lo datang dengan sendirinya karena terbiasa”,
Riko berusaha tersenyum. Mungkin hatiku sudah sekeras batu, nggak pernah sama
sekali luluh dengan sikap rendah hati si Riko yang udah berkali-kali nembak
aku.
Sejak
saat itu, Riko tak pernah lagi mengutarakan perasaannya kepadaku. Saat ini, aku
sudah kelas XII. Sungguh sama sekali bukan kejutan kalau aku tidak pernah
mempunyai pacar disekolah ini. Tak apa, bukan urusanku dan bukan urusan kalian.
Akan tetapi, seperti ada perasaan aneh ketika Riko tak pernah mengatakan sesuatu itu lagi padaku. Ada perasaan
kehilangan? Entahlah. Mungkin.
Hari
ini Ujian Nasional telah berakhir. Akhirnya beban yang ada dikepala ini terlepas
sudah. Aku ingin cepat-cepat segera pulang untuk tidur seharian dirumah. Saat aku
menghampiri motorku yang ada diparkiran sekolah, aku mendapati sosok Riko
disana.
“Friska…”
“Ya?”
“Gue
minta maaf ya kalo selama ini gue banyak salah sama lo”
“Banyak
salah apa? Nggak ada kok Rik. Santai aja”
“Ya
udah, makasih kalo gitu ya Fris”, Riko tersenyum. Dia mengulurkan tanganya. Dengan
sedikit ragu aku menyambut salamannya. Aku merasakan tangannya dingin. Salaman yang
tak lazim pada umumnya. Salaman Riko sangat erat. Dia meremas tanganku begitu
kencang namun tetap berusaha untuk tidak menyakitiku. Salaman itu berlangsung
sekitar tiga puluh detik, matanya tak lepas dari wajahku. Ah, aku menjadi
risih. Salah tingkah.
“Ah
maaf, Friska…”, Riko melepaskan genggamannya. Dia langsung menunduk, membuang
muka, seraya berlalu pergi.
“Rik”,
Refleks aku memanggil Riko. Aku menutup mulutku, seakan menyesali apa yang telah
kulakukan.
“Ya?”,
Riko menoleh. Masih dengan pandangan yang sama ketika dia memandangku ketika
bersalaman tadi.
“Aku
juga minta maaf ya”, Aku tersenyum pada Riko, dibalas dengan senyum manis Riko.
Riko berlalu meninggalkanku.
Aku
memegang tangan kananku yang tadinya dalam genggaman Riko. Aku tersenyum.
To be continued : Kecewa II
Tidak ada komentar:
Posting Komentar